FAKTA

770 73 5
                                        

Archie menutup pintu kamarnya dengan kasar, lalu berjalan menuju balkon. Saat membuka pintu berlapis kaca itu, udara dingin mulai menusuk kulitnya. Namun ia tak peduli, kakinya melangkah keluar tanpa alas kaki. Kepalanya mendongak, menatap ribuan bintang yang bertaburan di atas langit. Sebenarnya, perasaannya terasa campur aduk sejak ia mendengar pernyataan Axel tadi. Muncul secuil rasa bersalah dalam hatinya. Tidak! Kepalanya menggeleng cepat.

"Enggak, gue gak nyesel! Itu udah benar, dia pantas mendapatkan itu," ujarnya kembali meyakinkan diri bahwa perbuatannya itu sudah benar.

"Walaupun ucapan Tante waktu itu memang salah, gue gak peduli." Ia masih teringat betapa terkejutnya ia dan Axel saat mengetahui fakta menyakitkan itu. Rasanya sulit untuk dipercaya.

Di saat semua orang sedang berkumpul di dalam, Axel dan Archie lebih memilih untuk duduk di atas ayunan yang berada di halaman belakang.

Mereka duduk di ayunan tanpa diayun. Udara malam yang dingin menusuk kulit mereka, tapi mereka tidak peduli.

"Bagaimana menurutmu, Chie?"

Archie menoleh pada Axel. "Mereka telah merebut semuanya. Buktinya semuanya berubah sejak mereka kembali," balasnya dengan nada kesal.

"Kurasa juga begitu, sejak mereka datang sikapnya mulai berubah menjadi baik. Bahkan kita belum pernah merasakan hal itu, aku jadi iri," ujar Axel sambil menatap kakinya yang berayun pelan.

"Apakah semua itu hanya untuk mereka? Aku juga mau. Aku ingin disayang dan diperhatikan juga," lirih Archie.

"Dasar pilih kasih!"

"Siapa yang pilih kasih?" sahut seseorang dari belakang membuat keduanya langsung menoleh ke belakang. Mereka terkejut melihat Raya yang berdiri tepat di belakang mereka.

"Sejak kapan Tante berada di sini?" tanya Axel merasa terkejut dengan kedatangan Raya.

"Baru saja." Raya berjalan ke depan mereka. Ia berjongkok untuk menyesuaikan tingginya lalu tersenyum tipis. "Apakah kalian ingin tahu sesuatu?"

"Tahu apa?" jawab si kembar kompak.

"Sebenarnya Kak Nathan dan Aluna bukanlah orang tua kandung kalian," ucapnya enteng, tanpa memedulikan perasaan dua saudara kembar itu.

Deg

Bola mata Axel dan Archie membulat sempurna. Mereka saling menatap, ekspresi mereka menunjukkan ketidakpercayaan.

Axel bangkit dari duduknya, "Jangan mengatakan kebohongan, Tante! Ini sama sekali tidak lucu!!" sentaknya, kepalanya menggeleng cepat.

"Ini fakta, loh. Aku tidak berbohong. Kalian sebenarnya adalah anaknya Kak Rezan dan Kak Sarah. Orang tua kalian sudah dibunuh oleh Kak Nathan dan Aluna." Sekali lagi, fakta menyakitkan mereka dapatkan dari Raya.

"Dibunuh?" lirih Archie dengan mata berkaca-kaca.

Raya mengangguk mantap lalu terkekeh. "Maafin Tante ya, seharusnya Tante kasih tahu kalian lebih awal. Tapi mereka selalu mengawasi kalian, jadi Tante belum punya keberanian."

"Waktu itu kalian masih kecil, orang tua kandung kalian diteror sama seseorang sehingga terpaksa mereka harus menitipkan kalian kepada Kak Nathan, takut jika kalian akan disakiti oleh peneror itu. Mereka terpaksa pindah rumah, berharap tidak akan mendapat teror lagi. Kak Sarah sesekali menemui kalian secara diam-diam. Namun, aksi teror itu semakin parah, Kak Sarah sampai tidak berani keluar dari rumah untuk melihat keadaan kalian. Dengan begitu kalian tumbuh sebagai anak dari Kak Nathan dan Aluna, kalian sama sekali tidak mengingat orang tua kandung kalian.

LAKUNATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang