SERANGAN 1

1.2K 97 4
                                        

"Kalau bakar jagung yang bener dong! Masa gosong begini?!" sungut Zayn sambil menunjukkan jagung bakar setengah gosong hasil bakaran Leo.

Leo mendengus kesal, kemudian melirik sinis Zayn. "Bacot mulu, Lo. Udah gak mau bantuin, tinggal makan doang. Minimal bantu kipasin kek!"

Zayn bertolak pinggang sambil sedikit mengangkat dagunya dengan menunjukkan ekspresi yang menyebalkan bagi Leo. "Gue tuh memberi pencerahan ya. Biar Lo kalau bakar jagung gak gosong lagi,"

"Pencerahan darimana? Orang masih gelap begini." Leo menunjuk langit malam menggunakan dagunya.

Zayn merotasikan bola matanya. "Ya iyalah gelap, namanya juga masih malam. Gimana sih, Lo?"

"Mboh!" final Leo yang rasa kesalnya sudah mencapai ubun-ubun. Tetapi ia harus bersabar karena ada Nathan.

Sementara Zayn tersenyum puas karena berhasil membuat Leo kesal. By the way ini adalah hobi barunya, sangat seru sekali melihat wajah kesal kakak keduanya ini. Ia kembali menikmati jagung bakar setengah gosong hasil bakaran Leo.

Tiba-tiba fokusnya tercuri oleh sosok di atas pohon yang menjulang tinggi di balik pagar rumahnya. Sosok itu menggunakan pakaian serba hitam, sangat tertutup, hanya mata tajamnya yang terlihat sedikit berkilat karena cahaya lampu.

"Lo, punya komplotan ya?" bisiknya pada Maven yang sedang duduk manis di sampingnya.

Maven menoleh lalu mengerutkan alisnya, merasa bingung dengan pertanyaan aneh yang dilontarkan Zayn. "Maksud, Lo?"

"Halah... Gak usah sok gak tau. Gue yakin Lo juga lihat kan?" Zayn menunjuk sosok itu menggunakan dagunya.

"Gue gak kenal," balas Maven tanpa melirik sedikitpun. Ia terlalu malas untuk menanggapi adiknya ini.

"Yang bener? Dari tadi dia fokus lihatin Lo terus loh,"

Maven sedikit melirik pada 'sosok' yang dimaksud Zayn. Dahinya mengernyit. "Gak mungkin," lirihnya.

"Gue rasa Lo harus hati-hati sama dia. Kayaknya dia nargetin seseorang." Raut wajahnya menjadi serius, sorot matanya menajam.

"Terkadang musuh itu berasal dari orang terdekat kita sendiri. Jadi, jangan terkecoh sama tampang baik seseorang," kata Zayn sebelum beranjak untuk mengambil jagung bakar lagi.

Sudut bibir Maven sedikit terangkat membentuk seringaian. Sorot matanya mengikuti kemana perginya Zayn. "Lo, bener. Jadi, Lo harus hati-hati."

~•000•~

Tepat tengah malam, di sebuah ruangan tertutup, ada kakak beradik yang tengah membahas sesuatu. Mereka tampak serius dengan pembahasan itu.

"Permainan apa yang akan kamu buat?" tanya si kakak mengawali.

"Aku hanya akan melakukan permainan kecil. Tak perlu khawatir, aku tak sampai membunuh mereka kok. Ingat, aku hanya bermain," tekan yang lebih muda saat melihat raut khawatir dari kakaknya.

"Jangan berlebihan, mereka bisa curiga. Kalau kita ketahuan bisa diusir dari sini,"

Yang lebih muda merotasikan bola matanya. "Iya-iya, aman. Kita akan balas apa yang mereka lakukan."

Ia menerbitkan senyum manisnya saat si kakak menatapnya curiga. Tampaknya masih belum yakin dengan rencana yang ia buat.

"Aku pegang ucapanmu. Aku tidak akan membantu jika perbuatanmu melampaui batas. Biar bagaimanapun mereka berjasa bagi kita." Si kakak melangkah keluar untuk kembali ke kamarnya.

"Jika tak mau membantu, aku bisa melakukannya sendiri. Kau terlalu naif,"

~•000•~

LAKUNATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang