Masih dengan malam yang sama, namun di tempat yang berbeda. Tetap dengan hawa dingin mulai menusuk kulit, disertai rintikan hujan yang masih malu-malu. Suasana ini menemani Juna dengan rasa keterkejutannya pada kemunculan orang di depannya ini.
"K-kak Maven?" panggilnya terbata.
Ya, orang yang menyodorkan tongkat bisbol itu adalah Maven. Kini ia tengah menyeringai lebar melihat keterkejutan adiknya. Kepalanya sedikit miring dengan tatapan tajam lurus mengarah pada Juna.
Juna merasa terintimidasi oleh Maven, ia sampai tak berani bergerak sedikitpun. Ini orang kerasukan apa gimana, dah?! Serem banget, anjir! Batin Juna menjerit.
Detik demi detik berlalu, orang di depannya ini tetap dalam posisi semula, tidak berucap maupun bergerak, hal ini semakin membuat Juna merinding.
Wah, kayaknya beneran ini. Apa gue bacain ayat kursi aja ya? Lagi-lagi Juna membatin. Ia merasa bulu kuduknya berdiri semua. Akhirnya ia teringat jika ia juga membawa tongkat bisbol. Ia menangkis tongkat Maven ke arah kiri menggunakan tongkat miliknya.
Tak
Huff... Akhirnya ia bisa bernapas lega. "Kak, Lo kenapa begitu, sih? Nyeremin tau!" seru Juna lalu menyeka keringatnya. Walaupun hawanya dingin begini, tetapi Juna tetap berkeringat karena merinding. Kenapa ya? Ia pun tak tau.
Maven masih memperhatikannya dengan seksama, seperti mencari sesuatu yang salah padanya. Lalu senyumnya melebar setelah melihat sebuah gambar pada jaket yang dikenakan Juna. Ia terkekeh kecil. "Jadi, dugaan gue selama ini ternyata benar," gumamnya.
Juna yang mendengar itu seketika mengerutkan dahinya, dugaan apa yang dimaksud kakaknya ini. Ia merasa jika orang yang berdiri di depannya ini seperti bukan kakaknya, karena sedari tadi ia merasakan aura yang berbeda. Jika Maven selalu ceria, maka orang ini sebaliknya, ia tampak muram dan menyeramkan.
"Lo, Kak Maven bukan?" tanyanya dengan polos.
"Emang gue punya kembaran?"
"Enggak, tuh."
"Berarti Lo tau,"
"Hah??"
Juna menggaruk kepalanya yang tak gatal, gak nyambung banget asli! Dia tanya ini jawabnya itu, mana paham?!! Dasar aneh!
Rasanya Juna ingin mencak-mencak lalu jungkir balik sekarang. Ini tidak seperti tujuan awalnya, bukannya bertemu dengan 'orang itu' tapi malah bertemu dengan kakaknya yang entah kerasukan apa ini. Eh, tunggu... Sepertinya ada yang lebih aneh lagi.
"Kakak ngapain ke sini?" tanyanya yang baru kepikiran.
"Kamu nanya? Kamu bertanya-tanya?" balas Maven dengan nada mengejek. Lengkap dengan mimik wajah yang menyebalkan.
Seketika wajah Juna langsung mendatar, menunjukkan ekspresi ke-muak-kan dengan level ekstrem. "Apalah... Itu udah gak nge-trend, anjir. Kudet banget, Lo," ujarnya.
"Emang, iya?" Maven dibuat malu sendiri dengan tingkahnya. Telinganya sampai memerah. "Eh... By the way ngapain Lo disini?" tanyanya mengalihkan perhatian untuk mengurangi rasa malunya.
Juna memandang aneh Maven, kini level ke-muak-kannya bertambah plus, plus, plus. "Tadi gue juga nanya gitu loh, Kak. Belum Lo jawab,"
"Oh, gue kebetulan aja lewat sini,"
Dahi Juna semakin berkerut, matanya memandang sekitar. Di jalan sesepi ini, mana mungkin bisa kebetulan? Jalan ini jauh dari lalu lalang kendaraan dan juga berada di pinggiran kota. Juna lagi-lagi merasa aneh, sepertinya sekarang otaknya dipenuhi oleh keanehan Maven. Kemudian tubuhnya terpaku saat terpikirkan oleh satu kemungkinan.
KAMU SEDANG MEMBACA
LAKUNA
FanfictionKisah 7 anak yang hidup terpisah karena ada suatu masalah yang mengharuskan mereka untuk dititipkan pada saudara dari papa mereka sejak kecil. Sejak itu mereka memiliki pengalaman yang berbeda-beda kemudian membentuk sebuah kepribadian atau kebiasaa...
