⚠️ Seluruh adegan pada cerita ini tidak untuk ditiru, ya!!⚠️
Malam semakin larut, udara pun semakin dingin. Ketegangan antara dua saudara ini tak kunjung reda. Mereka sama-sama merasakan sakit dan luka, namun bukannya mencoba mengerti, mereka tetap teguh pada pendirian masing-masing. Maven dengan luka masa kecilnya dan Juna yang tetap membela dua adik kembarnya yang selalu salah di mata Maven.
Maven menghela napas berat. Ia menatap luruh ke arah Juna. "Oke, kalau itu mau, Lo. Karena pendirian gue tetap sama, sampai kapanpun," ujarnya.
"Kak, coba Lo lihat dari sudut pandang mereka. Mereka bahkan—"
"Udahlah, Jun. Jangan buat gue tambah benci sama mereka." Maven menjeda ucapannya karena menerima notifikasi dari ponselnya.
Maven berjalan mendekat pada Juna lalu menepuk bahunya. "Gue punya satu permintaan yang harus Lo penuhi, Jun." ucap Maven penuh keseriusan.
"Apa?"
"Lo harus keluar dari sini." Maven menunjuk dada kiri Juna, tepatnya pada logo motor. "Gue gak mau Lo kenapa-napa, Jun. Dunia ini penuh bahaya yang bisa datang kapan saja. Walaupun sekarang Lo gak percaya sama gue, sebagai kakak Lo, jangan pernah gak hubungi gue kalau Lo butuh apa-apa," papar Maven.
Setelah itu, Maven melenggang pergi mengendarai motor dengan kecepatan tinggi. Meninggalkan Juna yang masih mematung di tempat. Matanya mengembun, mulutnya tersenyum getir. Masih tidak menyangka jika hubungannya dengan Maven akan berakhir seperti ini.
Ia sebenarnya bisa mengerti apa yang dialami oleh kakaknya selama ini tidaklah mudah. Berpisah dari orang tua sejak kecil memang sulit, karena ia pun juga merasakannya. Namun garis takdir memanglah berbeda, ia cukup beruntung karena tinggal bersama Nada yang berlaku baik padanya. Sedangkan Maven, ia harus tinggal bersama 'singa ganas' yang mengurungnya bertahun-tahun. Tetapi ia juga tidak bisa membenarkan jika ini semua adalah salah bayi yang bahkan belum lahir saat itu.
"Ini semua salah mereka, Kak. Ini semua salah mereka," lirihnya sambil memegangi dadanya yang terasa sesak.
'Mereka' yang ia maksud adalah Nathan dan Aluna. Andai saja Nathan tidak memiliki koleksi musuh, andai saja Aluna bisa mempertahankan mereka, ini semua tidak akan terjadi. Nathan memilih solusi yang salah karena harus memisahkan anak-anaknya. Sejak dulu, ia menyimpan amarah pada keduanya. Ia bahkan sempat tak menyangka jika mereka masih mengingatnya dan menyuruhnya untuk pulang ke rumah. Awalnya ia ingin menolak, namun setelah mendengar bahwa kedua kakaknya juga pulang akhirnya ia menyetujuinya.
Maven dan Leo adalah alasannya untuk pulang. Ia hanya ingin berkumpul kembali dengan keluarganya, hidup bahagia sampai nyawanya diambil. Namun angannya tak semulus itu, banyak sekali masalah yang datang bertubi-tubi.
Air mata Juna meluruh bebas, ia terduduk sambil meraung, melepaskan semua hal yang menghimpit dadanya. "AAGGRRHH. KENAPA HARUS GUE? Gue cuma pengen hidup bahagia sama keluarga gue..." tangannya yang terkepal memukul-mukul aspal untuk meluapkan emosinya. Meninggalkan luka dengan darah yang mulai mengucur.
Brruumm
Gerakannya tertahan di udara saat mendengar deru mesin yang mendekat. Matanya yang sembab menyipit karena silau lampu motor yang melaju di depannya.
"Kak Maven?"
Matanya yang semula menyipit kini terbuka lebar saat si pengendara motor sama sekali tidak menginjak rem. Dengan cepat Juna menghindar agar tidak tertabrak. Baru setelah itu, si pengendara motor itu menginjak remnya hingga menimbulkan suara decitan keras, membawa motornya berputar 180 derajat menghadap ke arah Juna. Lantas mematikan lampu motornya dan melepaskan helmnya. Tangannya melambai ke arah Juna. "Lo gak apa-apa, kan?" pekiknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
LAKUNA
FanfictionKisah 7 anak yang hidup terpisah karena ada suatu masalah yang mengharuskan mereka untuk dititipkan pada saudara dari papa mereka sejak kecil. Sejak itu mereka memiliki pengalaman yang berbeda-beda kemudian membentuk sebuah kepribadian atau kebiasaa...
