CURIGA

884 83 5
                                        

Kesunyian malam ini diisi oleh suara rintikan hujan yang sejak sore tadi mengguyur kota ini. Hal tersebut sangat cocok untuk segera memejamkan mata untuk menyelami alam mimpi. Namun hal tersebut tidak dilakukan oleh Juna, ia justru hanya berbaring di atas kasur dengan kedua tangannya yang dijadikan bantal.

Pikirannya menerawang jauh, setiap kali hujan ia selalu termenung sambil berbaring menatap langit-langit kamarnya. Ia merasa janggal dengan apa yang ia lihat tadi.

Tato Naga, yang ia lihat dari lengan Mike tadi.

Ia merasa sangat familiar dengan tato tersebut. Namun ia lupa siapa orang bertato seperti itu yang pernah ia temui. Kini ia sedang mengingat-ingat.

Bermenit-menit telah berlalu, ingatan Juna membawanya menuju kejadian saat teman-temannya diserang oleh sekumpulan orang yang entah merupakan musuh darimana. Juna merasa tidak pernah memiliki musuh sejak pindah kesini.

Saat ia bertarung melawan 'musuh' tersebut, ternyata Juna melihat bahwa mereka juga memiliki tato yang sama namun terdapat pada posisi yang berbeda-beda.

Ia rasa hanya itu satu-satunya petunjuk yang ia temukan. Setelah ia kembali ke markas untuk memeriksa, ia tak menemukan apapun. Hanya ini, tato naga yang ternyata teman kakaknya pun memiliki tato tersebut.

Juna menyudahi berbaring nya, lalu berjalan menuju jendela. "Masa Kak Mike terlibat sih?" monolognya sambil menatap tetesan hujan di luar sana.

"Atau cuma kebetulan? Tapi kok sama persis?"

"Gak mungkin. Itu pasti tato geng yang gak mungkin ditiru sama siapapun."

"Tapi kan kata Kak Maven dia baru pulang dari Amerika."

"Aduh..." Juna mengacak rambutnya sebagai bentuk dari rasa kesalnya. Dia masih ragu untuk menaruh curiga pada orang yang baru saja ia kenal pagi tadi. Inilah kelemahannya, sulit sekali untuk menilai buruk seseorang yang pernah berbuat baik padanya.

~•000•~

"Dingin-dingin begini enaknya minum teh hangat sama makan mie rebus. Beuh... Mantab tuh," gumam Zayn sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, membayangkan betapa lezatnya kombinasi sempurna yang ia pikirkan itu. Kakinya melangkah menuruni anak tangga, menuju dapur. Ia ingin melakukan niat yang baru ia gumamkan tadi.

Suasana rumah yang sepi ditambah suara derasnya hujan di luar sana membuat Zayn sedikit merinding. Ia mengusap-usap tangannya yang mulai merasa dingin karena hanya memakai kaos berbahan tipis.

"Ini rumah gedhe banget tapi sepi. Bikin merinding aja," ujarnya sambil menatap sekitar.

"Mana udah malam begini. Mama sama Papa gak pulang-pulang juga, mereka kemana sih?" gerutunya saat melewati ruang tamu.

Langkahnya terhenti saat melihat pintu rumah yang sedikit terbuka. Ia pun berinisiatif untuk menutupnya. Sebelum itu, ia membuka lebar pintu tersebut untuk melihat suasana di luar. Tanpa sengaja netranya menemukan seseorang yang berdiri tegap di tengah halaman rumahnya dengan kepala yang mendongak ke atas.

Zayn menyipitkan matanya untuk memastikan bahwa makhluk itu manusia atau bukan. Wajar saja ini sudah pukul 22.18. Ia kemudian menghela napas lega saat mengetahui jika makhluk itu adalah manusia karena kakinya menapak di tanah.

"Woi, ngapain disana?!" teriaknya untuk menginterupsi orang itu.

Orang itu menoleh sejenak kemudian kembali mendongak ke atas, menikmati tetesan air hujan yang menerpa wajahnya.

"Kak Maven?"

"Tuh orang ngapain malam-malam begini main hujan? Gak takut masuk angin apa?"

Zayn berlari masuk ke dalam rumah untuk mengambil payung, kemudian ia berlari keluar untuk menghampiri Maven.

LAKUNATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang