PERASAAN LEGA

988 74 5
                                        

"Leo, lepasin gue! Gue mau tahu keadaan Mama."

Leo seolah menulikan telinganya, sama sekali tak mengindahkan ucapan Maven yang minta dilepaskan.

Kini ia sedang menyeret paksa Kakaknya ini untuk diperiksa karena suhu badannya yang semakin panas. Leo tak mau membiarkan Kakaknya ini lemas seperti ayam yang baru menetas. Lebih tepatnya ia khawatir dengan kondisi Maven, cukup Aluna saja yang sakit untuk saat ini, tak perlu tambah personil lagi.

"Nih, Dok, ada pasien baru. Silakan diperiksa, suhu tubuhnya panas banget kayak habis kecebur lava pijar," ujarnya pada dokter setelah sampai di IGD.

Dokter itu tersenyum tipis lalu menggeleng singkat saat mendengar ucapan nyeleneh dari Leo. "Silakan berbaring, Nak."

"Jangan usir saya, Dok. Kakak saya cuma mau diperiksa terus dikasih obat aja, gak perlu rawat inap kayaknya," ucap Leo yang sudah menduga jika Bu dokter ini akan menyuruhnya untuk menunggu di luar.

"Tapi—"

"Udah, dok. Periksa aja, saya gak bakal ganggu kok," sela Leo sebelum mundur beberapa langkah supaya dokter itu bisa leluasa memeriksa Maven.

Entah ada keajaiban dari mana, dokter itu menurut dan langsung memeriksa Maven.

"Maaf, dok. Saya lagi gak mood, banyak pikiran soalnya. Jadi, mulut saya ini agak gak bisa dikontrol," ucap Leo setelah merasa ucapannya tadi terkesan tidak sopan.

"Tidak apa-apa, santai aja sama saya, mah," sahut dokter itu ramah, membuat Leo tersenyum lega.

"Dugaan kamu benar, demamnya enggak parah kok. Nanti saya kasih resep obatnya, dan kasih tahu dia supaya gak banyak pikiran nanti tambah pusing," jelas si dokter.

"Kamu pusing enggak? Atau demam juga?" Dokter itu melirik Leo.

"Saya sehat kok, dok. Kenapa memangnya?"

"Katanya kamu tadi banyak pikiran,"

Leo tersenyum remeh. "Asal dokter tahu ya, biarpun saya kurus begini, tapi tubuh saya yang paling kuat diantara saudara-saudara saya, dok." Ia menepuk dadanya, bangga.

"Seriously?"

"Of course."

Dokter itu tersenyum singkat, lalu menyerahkan kertas berisi resep obat yang dibutuhkan Maven. Leo menerima kertas tersebut lalu mengucapkan terima kasih sebelum dokter itu pergi.

"SKSD banget Lo sama dokter tadi. Mentang-mentang cantik," celetuk Maven.

*SKSD: Sok kenal, sok deket.

"Yeu... Gue mah ramah orangnya gak kayak, Lo," cibir Leo, lalu ia membantu Maven untuk turun dari ranjangnya kemudian memapahnya.

Kok gue ngrasa deja vu ya? Batin Maven.

"Seharusnya daritadi Lo papah gue begini, bukannya malah diseret kayak kambing," sewot Maven yang masih merasa kesal.

"Kan Lo emang mirip sama kambing," ucap Leo sekenanya, ia malas menanggapi Maven yang mendadak cerewet begini.

Maven melotot tak terima, enak aja dia dibilang mirip kambing!!

"Lo mirip tikus!"

"Dasar kambing!"

"Tikus!"

"Kambing!"

~•000•~

"Kamu gak kerja?"

"Gimana aku mau kerja coba? Sedangkan kamu lagi sakit begini," sungut Nathan yang tak habis pikir dengan Aluna.

LAKUNATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang