Di saat usianya 5 tahun, Maven dikejutkan dengan pertengkaran kedua orang tuanya. Ia terbangun dari tidurnya saat tengah malam karena mendengar suara teriakan Aluna. Mengapa demikian? Karena kamar orang tuanya tepat berada di samping kamarnya, di lantai atas. Sedangkan kamar Leo dan Juna berada di lantai bawah.
Maven kecil merasa penasaran dengan apa yang terjadi. Ia beranjak keluar dari kamarnya lalu mengintip kamar orang tuanya yang pintunya sedikit terbuka. Ia melihat dan mendengarkan dengan saksama apa yang sedang mereka ributkan.
"Kamu harus ngerti, sayang. Banyak orang jahat yang mengincar keluarga kita. Jadi, mau tak mau kita harus mencari tempat yang aman untuk anak-anak tinggal," ucap Nathan, dengan sabar menjelaskan masalahnya.
"Enggak! Aku gak mau pisah dari anak-anak! Mereka masih kecil, Nath! Mereka masih butuh aku!!" pekik Aluna, menolak mentah-mentah perkataan Nathan.
"Kamu nantinya masih bisa bertemu mereka, kok." Nathan mengusap lembut punggung Aluna. "Apalagi sekarang kamu sedang hamil. Kita fokus pada kelahiran bayi kembar kita dulu, sambil aku mengurus mereka," lanjutnya.
Air mata Aluna meluruh, ia bingung harus bagaimana. Ia tidak tega untuk melepas anak-anaknya begitu saja. "Kamu mau bawa mereka kemana, Nath?" tanyanya lirih.
"Aku mau titipkan mereka pada saudaraku, mereka pasti bisa menjaga anak-anak kita," jawab Nathan mantap.
"Tapi..."
Nathan mendekati istrinya lalu mendekapnya hangat. Ia tau sebesar apa kekhawatiran istrinya ini. Ini semua salahnya karena sudah berani mengoleksi banyak musuh. Ia mengurai pelukannya lalu mengelus lembut perut Aluna yang sudah membesar. "Anak kembar Papa harus lahir dengan sehat dan selamat. Papa akan mengusahakan segala cara untuk itu," ucapnya.
Sepasang telinga di balik pintu mendengar semuanya, perasaan Maven saat ini sangat kecewa. Ia kecewa saat mendengar bahwa ia dan kedua saudaranya akan berpisah dengan orang tua mereka. Ia masih belum siap dan tidak terima. Ia menangis dalam diam, berjalan lesu kembali ke kamarnya. Malam itu Maven kecil merasa dunianya akan berubah setelah rencana orang tuanya itu terlaksana.
Tak terasa pagi pun tiba, sinar matahari memancar menembus jendela berlapis kaca dengan korden yang sedikit terbuka. Cahaya itu berhasil mengusik sepasang mata kecil yang masih terpejam hingga membuatnya perlahan mulai terbuka.
Maven terbangun, mengusap kedua matanya yang terasa sembab. Lanjut mendudukkan tubuhnya dan melakukan peregangan.
"Loh, anak kesayangan Mama sudah bangun," ucap Aluna sambil tersenyum menyambut putra kecilnya yang baru bangun dari mimpi indahnya.
Hal itu membuat Maven tersentak kaget, sejak kapan Aluna ada di kamarnya. Lalu matanya menatap sekeliling, ada sebuah koper besar di depan ranjangnya, membuat Maven teringat akan perkataan Nathan semalam.
"Loh, mata kamu kok sembab? Kamu habis nangis, hm?" tanya Aluna, merasa khawatir.
Maven menggeleng lemah. "Enggak, kok. Maven mau mandi dulu, Ma," jawab Maven yang langsung mengalihkan perhatian.
Saat dia membuka lemari matanya terbelalak karena tak mendapatkan pakaiannya satupun di dalam sana. Ia berbalik menatap Aluna. "Ma, kok bajuku hilang semua?"
Aluna tersenyum sendu, tergerak untuk menghampiri putra sulungnya yang kebingungan. "Mama sudah siapkan baju Maven di kamar mandi. Sekarang kamu mandi dulu, ya. Nanti Mama jelaskan," ujarnya.
Maven melangkah menuju ke kamar mandi sesuai pinta Aluna tanpa meminta penjelasan lebih lanjut, karena dia sudah tau apa yang akan terjadi setelah ini. Seusai mandi, dia masih mendapati Aluna duduk di kasurnya sambil melamun.
KAMU SEDANG MEMBACA
LAKUNA
ActionKisah 7 anak yang hidup terpisah karena ada suatu masalah yang mengharuskan mereka untuk dititipkan pada saudara dari papa mereka sejak kecil. Sejak itu mereka memiliki pengalaman yang berbeda-beda kemudian membentuk sebuah kepribadian atau kebiasaa...
