Brian menatap sendu sebuah potret dirinya bersama 'keluarganya'. Namun matanya terfokus pada potret remaja menggemaskan yang memeluknya dengan senyuman cerah. Foto itu seharusnya berpose formal, namun anak itu ingin sekali memeluknya. Jadi, hanya dia yang pose berbeda.
Kemudian ia memandang sebuah pin berbentuk naga hitam yang berada di genggamannya. Pemilik pin itu sengaja mengembalikannya dan pergi tak ingin kembali.
Pin itu memiliki arti kekuatan yang luar biasa seperti naga. Memiliki arti kebebasan untuk mengeluarkan emosi hati seperti naga yang terbang bebas sambil menghembuskan nafas apinya.
Pin itu adalah simbol keluarga mereka. Sebuah keluarga yang terbentuk tanpa sengaja, memiliki tujuh anggota, salah satunya adalah Brian sendiri. Enam orang itu sudah ia anggap seperti anaknya sendiri. Mereka adalah anak-anak yang mencari peran orang tua yang lama tidak mereka dapatkan, dan Brian hadir mencoba untuk mengisinya.
Mereka bukanlah orang yang baik, namun dalam lingkaran keluarga itu mereka dapat memunculkan kebaikan mereka. Saling menyayangi dan melindungi.
Namun keluarga itu harus kehilangan salah satu anggotanya karena kesalahan yang dianggapnya fatal. Brian sudah berusaha untuk membawanya kembali, namun ia tetap tidak ingin kembali.
Apakah title keluarga yang mereka jaga selama ini akan hilang?
~•000•~
Sekarang sudah tengah malam, Zayn baru sampai di rumah. Masih dengan pakaian yang basah karena hujan tak kunjung usai. Ia berjalan lesu ke kamarnya. Kepalanya terasa berat karena memikirkan perdebatannya tadi.
"Bagus ya, jam segini baru pulang. Dari mana aja, Lo?" ucap seseorang yang berhasil membuat Zayn menghentikan langkahnya.
Matanya melebar saat mendapati Maven berdiri di depan kamarnya. "G-gue..."
"Keluyuran tengah malam gak tahu waktu. Pasti Lo keluar diam-diam kan? Gue rasa... Papa harus tahu hal ini."
Zayn menggeleng ribut. "Jangan lah, Kak. Cepu banget jadi orang!"
"Suka-suka gue lah,"
Zayn berjalan mendekat lalu berbisik, "Kalau Lo berani cepuin gue ke Papa, gue bakal bongkar siapa Lo sebenarnya!"
Maven langsung mendorong kasar bahu Zayn. "Berani lo ngancem gue hah?!"
Zayn mengangkat dagunya angkuh. "Beranilah, ngapain gue harus takut?"
"Jangan pernah berbicara omong kosong pada mereka! Atau-"
"Atau apa?" Zayn tersenyum miring merasa puas dengan keterdiaman Maven. Ia kembali mendekat lalu berbisik, "Lo kan yang udah bunuh pekerja itu. Gue udah tebak dari awal."
"Gara-gara ulah, Lo. Adik gue jadi sakit!" lanjutnya.
Maven melotot tak terima. "Apa hubungannya coba? Adik Lo aja yang lemah, cuma gak sengaja lihat aja udah mau pingsan. Gimana kalau dia yang kena?" Maven menaikkan kedua alisnya lalu menyeringai tipis.
Zayn menarik kerah baju Maven. "Kalau adik gue sampai kenapa-kenapa lagi karena ulah Lo. Siap-siap aja, jeruji besi bakal bersedia menampung manusia bejat kayak Lo. Katanya mau jadi anak hukum, kok malah bunuh orang?" Zayn terkekeh sinis.
Maven melepaskan genggaman tangan Zayn pada kerah bajunya. Ia terkekeh kecil. "Apa perlu gue beliin kaca?"
Maven mengarahkan jari telunjuknya pada Zayn. "Lo sama bejatnya kayak gue. Jadi, gak usah sok suci!" Kemudian ia melangkah pergi.
Zayn hanya tersenyum kecil mendengar ucapan Maven.
~•000•~
Maven melangkah masuk ke sebuah apartemen setelah mendapatkan izin dari pemiliknya. Ia meletakkan sebuah kresek besar yang berisi camilan ringan dan minuman soda.
KAMU SEDANG MEMBACA
LAKUNA
Fiksyen PeminatKisah 7 anak yang hidup terpisah karena ada suatu masalah yang mengharuskan mereka untuk dititipkan pada saudara dari papa mereka sejak kecil. Sejak itu mereka memiliki pengalaman yang berbeda-beda kemudian membentuk sebuah kepribadian atau kebiasaa...
