Langit masih gelap tanpa cahaya dengan rintikan hujan yang masih terasa. Pukul dua dini hari, Zayn, Zayden, Axel, dan Archie tiba di rumah sakit setelah memaksa salah satu pekerja untuk segera menjemput mereka. Hal itu terpaksa dilakukan oleh Zayn karena tak ada satupun kendaraan di rumah, dan jika ingin mencari taksi pun sudah tidak mungkin baginya.
Sekarang mereka sedang menanti kabar dari dokter sambil terus memanjatkan doa, berharap agar Juna baik-baik saja. Selama itu pula, Zayn berusaha untuk menghubungi Leo maupun Nathan yang masih menemani Aluna di rumah sakit lain. Namun, tak satupun panggilannya terjawab oleh mereka.
Melihat kembarannya yang masih ingin mencoba untuk menghubungi Leo dan Nathan, Zayden segera menghampirinya. "Sudahlah, Yen. Kalau berkali-kali mereka gak angkat teleponnya, berarti memang gak bisa. Jangan terlalu memaksakan juga, kita tunggu kabar dari dokter dulu," ujarnya menasihati.
"Tapi kan mereka harus tau keadaan Kak Juna, Den."
"Di sana mereka juga jagain Mama, mungkin sekarang lagi ketiduran karena capek. Kalau langsung Lo kasih kabar ini, Lo bayangin aja, Yen," lanjut Zayden, mencoba untuk memberi pengertian pada Zayn yang tampak tidak tenang.
Zayn menghela napas lelah lalu mengangguk. Air mata yang sedari tadi ia tahan kini meluruh juga. Ia langsung menubrukkan tubuhnya pada Zayden, kemudian memeluknya erat.
"Gue cuma pengen hidup bahagia sama mereka, Den. Tapi kenapa malah begini..." lirihnya di sela isak tangisnya. "Apa kita gak punya kesempatan itu?"
Zayden mengusap lembut punggung Zayn yang bergetar. "Punya, kok. Cuma belum saatnya aja," balasnya dengan suara yang lirih juga. Sebenarnya ia juga menahan tangis sedari tadi, tapi kalau ia juga ikut menangis nanti siapa yang akan menguatkan kembarannya yang cengeng ini?
Ia mengerti betapa hancurnya perasaan Zayn saat ini. Kehidupan bahagia yang ia mimpi-mimpikan dulu seakan berjalan singkat. Ia tidak pernah membayangkan jika akan ditimpa musibah sebanyak ini.
Axel yang tidak sengaja mendengar kalimat menyedihkan itu merasa semakin bersalah. Andai saja jika dulu ia tidak terhasut, maka mungkin impian kedua kakaknya ini akan berlangsung lebih lama.
Ia menoleh pada Archie yang sedari tadi hanya diam saja, matanya menatap kosong ke bawah. Kemudian suatu hal terpikir olehnya, apakah Archie merasa bersalah sama sepertinya?
Kemudian tangannya menarik pelan kepala Archie untuk bersandar di pundaknya. "Tenangkan pikiranmu, Chie."
"Aku tidak sedang memikirkan apapun," balas Archie sedikit ketus, sepertinya ia masih merasa jengkel pada kembarannya ini.
"Bohong, aku tau apa yang kamu pikirkan."
"Jangan sok tau! Itu tidak seperti yang kamu pikirkan."
Tepat setelah itu, orang yang mereka tunggu-tunggu akhirnya keluar juga. Zayn langsung melerai pelukannya dan melangkah cepat menghampiri dokter. "Bagaimana keadaan Kakak saya, Dok?" tanyanya tanpa basa-basi.
"Pasien mengalami cedera serius pada kepalanya sehingga harus menjalani perawatan intensif dan tangan kanannya mengalami patah tulang. Oleh karena itu, pasien mengalami koma. Kami akan memindahkan pasien ke ruang perawatan," ujar dokter, menjelaskan keadaan Juna.
"Koma?" ucap Axel tak percaya.
"Segera hubungi orang tua kalian, ya," lanjut dokter sebelum pergi.
Kemudian pintu ruang penanganan itu terbuka, beberapa perawat sedang mendorong keluar bangsal pesakitan Juna dengan hati-hati.
"Kak Juna..." Zayn tak bisa menahan rasa terkejutnya kala melihat keadaan Juna yang tampak mengerikan. Kaos putih miliknya dipenuhi noda merah yang sudah mengering, kepalanya terbalut lapisan perban, dan luka-luka lain di tubuhnya yang membuat air matanya kembali meluruh.
KAMU SEDANG MEMBACA
LAKUNA
Fiksi PenggemarKisah 7 anak yang hidup terpisah karena ada suatu masalah yang mengharuskan mereka untuk dititipkan pada saudara dari papa mereka sejak kecil. Sejak itu mereka memiliki pengalaman yang berbeda-beda kemudian membentuk sebuah kepribadian atau kebiasaa...
