Di dalam ruangan gelap dan pengap itu, Zayn berusaha untuk melepas cengkraman rantai yang melingkar di kedua tangan dan kakinya. Ia baru sadar dari pingsannya karena saat diseret masuk tadi ia sempat memberontak hingga Yasa menyuruh anak buahnya untuk memberinya sedikit pelajaran supaya ia bisa diam.
Pelajaran yang diberikan bukan main. Sekarang luka lebam sudah menghiasi wajahnya. Badannya sakit semua setelah di keroyok oleh banyak orang. Saking banyaknya Zayn tak bisa melawan.
Ketukan sepatu yang menyentuh lantai mulai terdengar. Suara itu semakin jelas pertanda pemilik sepatu itu berjalan mendekat.
Suara pintu berkarat itu berhasil membuat Zayn mengangkat pandangannya. Tatapannya menajam saat mengetahui siapa yang ada di hadapannya sekarang.
Zayn berdecih. "Mau Lo apa, njing?! Gue udah gak ada urusan sama Lo!"
Orang itu melangkah mendekat sambil tersenyum remeh. Ia membelai rambut lepek Zayn. "Akhirnya kita bisa berbicara lagi setelah sekian lama,"
"Lepasin gue, Tuan Brian sialan,"
Orang dipanggil Brian itu menyeringai. "Kau tidak bisa lepas dari saya, Zayn. Hubungan kita sudah sangat erat untuk kau putus begitu saja,"
"Gue udah tanda tangan surat pemutusan kontrak. Apa itu kurang jelas?!" sentak Zayn.
"Surat itu tidak sah karena saya tidak pernah menandatanganinya,"
Zayn mendesis pelan kala rasa sakit mulai muncul di seluruh tubuhnya. Sekarang tubuhnya lemas dan terpaksa harus berdiri karena terikat rantai sialan ini.
Brian merasa iba melihat kondisi Zayn. "Yasa, kemari lah!"
Detik berikutnya Yasa memasuki ruangan ini dengan wajah dingin. Ia sedikit membungkukkan badannya ke arah Brian.
"Apa yang kau lakukan pada adik manismu ini?"
Yasa tersenyum tipis. "Saya hanya memberikan sedikit pelajaran, Tuan. Dia sangat nakal,"
Brian berdecak. "Kau telah menyakitinya. Cepat lepaskan rantai itu!"
Yasa segera melepaskan semua rantai yang mengikat Zayn. Seketika tubuh ringkih itu ambruk ke lantai. Namun Zayn berusaha untuk berdiri kembali.
Minimal dipegangi kek. Sakit nih badan gue! Dasar Yasanjing!!
"Saya tidak menyangka jika sekarang kau selemah ini, Zayn. Jika saja dulu kau tidak pergi dariku mungkin kau akan semakin bertambah kuat,"
"Gue...gak butuh itu semua!" ujar Zayn sambil mengatur nafasnya. Dadanya bergemuruh menahan emosinya. Ia tersenyum tipis. "Gue cuma mau hidup bahagia sama keluarga gue,"
"Saya tidak pernah membatasi mu untuk berinteraksi dengan keluargamu, Zayn. Asalkan kau tahu kapan waktunya untuk —”
"Gak. Gue gak mau ada urusan lagi sama, Lo. Gue gak mau berurusan sama penghianat kayak Lo," lirih Zayn.
"Saya tidak peduli dengan kemauanmu. Jika itu menguntungkan bagi saya." Brian berbalik badan. "Yasa, urus anak ini. Buat dia jera karena berani melawan saya. Setelah itu kau lepaskan dia," titahnya kemudian melangkah pergi.
Yasa kembali menegakkan badannya setelah pintu itu tertutup. Ia menoleh pada Zayn yang sudah terlihat pasrah. Ia melangkah mendekat. "Jangan menyerah begitu dong, adik manis." Yasa tersenyum lebar.
Ia mengangkat paksa dagu Zayn. "Makanya jangan nakal, kau harus menurut—"
"Sampai kapanpun, gue gak sudi nurut sama bajingan kayak kalian!!"
Kepala Zayn tertoleh ke samping setelah mendapat tamparan keras dari Yasa. Rasa panas menjalar di pipi kanannya. "Beraninya kau—"
Zayn mendorong tubuh tegap Yasa. "Iya, gue emang berani. Gue bukan pengecut kayak Lo!!"
KAMU SEDANG MEMBACA
LAKUNA
FanfikceKisah 7 anak yang hidup terpisah karena ada suatu masalah yang mengharuskan mereka untuk dititipkan pada saudara dari papa mereka sejak kecil. Sejak itu mereka memiliki pengalaman yang berbeda-beda kemudian membentuk sebuah kepribadian atau kebiasaa...
