Chapter 57

110 31 2
                                        

Ketika Jeongyeon dan Mina kembali ke rumah mereka, hujan turun dengan sangat deras. Beruntung ada payung di dalam mobil, jadi mereka berdua tidak perlu menunggu pelayan datang dan bisa kembali tanpa basah-basahan.

Hampir tengah malam ketika mereka sampai di rumah. Jeongyeon memberitahu Mina bahwa dia lelah dan ingin langsung beristirahat kemudian pergi ke kamarnya dan Mina pun melakukan hal yang sama.

Hujan turun sangat deras, angin menderu kencang melalui jendela dan sesekali terdengar guntur.

Begitu Jeongyeon berbaring, pikirannya melayang memikirkan kejadian malam ini, terus-menerus bertanya-tanya tentang situasi di rumah tua setelah dia pergi dan apa yang akan dilakukan nyonya serta tuan Yoo.

Dia tidak bisa tidur sampai dini hari, akhirnya bangun untuk minum pil tidur  dan baru kemudian dia perlahan tertidur.

Tapi dia bermimpi lagi.

Mimpi yang mencerminkan malam hujan yang tak berujung, seolah-olah dia telah jatuh ke dalam kegelapan yang tak ada habisnya.

Dalam mimpi itu, dia masih berada di ruangan yang sama, gelap, sempit dan menyesakkan. Langit-langit menyerupai tutup peti mati, memancarkan cahaya merah yang menyeramkan.

Di seberang tempat tidur berdiri patung perunggu yang ditutupi kain hitam. Seprai putih berserakan dengan potongan-potongan kertas putih, seolah kertas dari mesin penghancur kertas telah dikosongkan.

Telepon di meja samping tempat tidur terus menyala. Jeongyeon berdiri di ruangan itu seperti bayangan dan cahaya, melihat pesan-pesan muncul di layar yang terus menyala.

Tzuyu : Kenapa kau bersembunyi di rumah lagi? Membosankan sekali, ayo keluar dan bermain.

Tzuyu: Yah! Kau tidak membalas pesan lagi. Lain kali kita bertemu, aku akan memukul kepalamu.

Eomm: Jeongyeon, kau sama sekali tidak boleh mengangkat kain hitam itu!

Eomma: Itu dewa yang kuundang untuk melindungimu. Hanya dalam satu minggu, aku jamin roh jahat itu akan diusir dan dia tidak akan mengganggumu lagi.

Eomma: Jangan beri tahu teman-temanmu. Aku takut mereka akan tahu dan menjauhimu. Aku tidak bisa melindungimu jika itu terjadi.

Eomma: Dengarkan aku, jangan angkat kain hitam itu!

Eomma: Kau mau makan apa besok pagi? Aku akan meminta pelayan membuatkan bubur favoritmu, oke?

Setelah beberapa saat, layar ponsel akhirnya mati. Jeongyeon berbalik dan melihat dirinya sendiri. Tepatnya, itu adalah pemilik tubuh ini.

Dia mengenakan kemeja biru dan celana hitam. Potongan rambutnya jauh lebih pendek dari sekarang, bahkan tidak sampai melewati tengkuknya.

Dia berdiri termenung di ruangan itu. Setelah beberapa saat, dia mengambil ponselnya untuk memeriksa pesan, awalnya mencibir lalu mulai menangis.

Isak tangis pelan bergema di ruangan itu.

Tidak lama kemudian, pemilik aslinya kembali meletakkan ponselnya. Dia berjalan lurus menembus bayangan ilusi Jeongyeon dan berdiri di depan patung perunggu yang ditutupi kain hitam.

Jeongyeon sangat ingin mengatakan padanya, "Jangan angkat itu."

Menilai dari intruksi berulang nyonya Yoo, dia pasti ingin pemilik aslinya mengangkatnya dan melihat apa yang tersembunyi dibaliknya. Benda itu pasti sangat menakutkan.

Jelas pemilik aslinya juga waspada, tangannya melayang di atas kain hitam, tampak ragu-ragu dan mundur beberapa kali. Tetapi pada akhirnya, dia tidak bisa menahan rasa ingin tahunya.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: 4 days ago ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Where am i?Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang