Kamar Jeongyeon sangat luas. Seluruh ruangan di dekorasi dengan abu-abu yang sederhana, namun elegan.
Karpet kasmir tipis bergaris terbentang di lantai dan tirai otomatis jendela dari langit-langit, begitu dibuka memperlihatkan halaman belakang yang rimbun oleh pepohonan, menjadikannya tempat yang sangat baik untuk menikmati pemandangan di pagi hari.
Jeongyeon tidak tahu mengapa dirinya bisa berakhir menyetujui permintaan Mina untuk tidur di kamarnya.
Saat itu, tubuhnya sudah bergerak lebih dulu dari pikirannya dan ketika tersadar, Mina mulai berbicara dengannya tentang keluarga Yoo dan dia tidak bisa menolaknya.
Mereka pun larut dalam obrolan tersebut dan baru berhenti ketika Jeongyeon tiba-tiba menutup mulutnya untuk menguap. Dia jelas lelah dan Mina pun tidak jauh lebih baik.
Pembicaraan mereka otomatis berhenti di situ, Mina kemudian berdiri dan pergi keluar, tanpa kembali menyebutkan tentang tidur bersama.
Melihat sosok itu menghilang di balik pintu, Jeongyeon seketika bernapas lega, berpikir bahwa Mina tidak jadi menginap di kamarnya.
Namun hanya dalam beberapa menit, pintu kamarnya kembali terbuka dan Mina masuk ke dalam sembari membawa laptopnya.
Jeongyeon langsung tergagap, "K-kau..."
"Ada apa?" tanya Mina polos, seolah-olah tidak melihat kekhawatiran di wajah Jeongyeon.
Dia kemudian dengan percaya diri duduk di tempat tidur, menyalakan laptopnya dan jari-jarinya mulai sibuk bergerak di atas keyboard.
Jeongyeon benar-benar tercengang dan akhirnya hanya bisa pasrah, "Tidak ada apa-apa..."
Dia bergerak gelisah dengan kedatangan Mina, diam-diam melirik orang yang duduk tenang disebelahnya dan menghela napas untuk kesekian kalinya.
Mimpi buruk sebelumnya telah membuatnya berkeringat hingga membasahi pakaiannya.
Karena Mina akan tidur bersamanya, Jeongyeon dengan tak berdaya harus mandi lagi demi kenyamanan bersama.
"Aku mau....mandi...."
Mina berkata tanpa melihatnya, "Oke."
Ketika Jeongyeon keluar setelah mandi dan berganti pakaian, hanya lampu tidur yang menyala di kamarnya.
Di bawah cahaya kuning redup, segala sesuatu di depannya tampak bermandikan cahaya orange hangat dan kabur.
Seluruh ruangan sunyi, terutama arah dari tempat tidur, dimana tidak ada suara sama sekali. Jeongyeon menduga Mina telah menyelesaikan konferensi videonya dan pergi tidur.
Sebelumnya, ketika dia mengambil pakaian ganti, dia melihat Mina mengatur letak laptopnya dan memulai konferensi video dengan orang di ujung video lainnya.
Jeongyeon mendengar beberapa kalimat saat dia lewat. Mereka berbicara dalam bahasa inggris yang masih bisa dia pahami, tapi sebagian besar percakapan itu berada diluar pemahamannya.
Mereka tampaknya sedang membahas bug dalam suatu perangkat lunak, dia mengerti arti banyak istilah teknik, tapi tidak memahami maknanya.
Karena itu, Jeongyeon buru-buru pergi ke kamar mandi dan tidak berniat untuk menguping pembicaraan tersebut.
Saat ini, sudah larut malam. Dua tirai abu-abu gelap di jendela prancis tertutup rapat. Ketegangan yang dirasakan sebelumnya sedikit mereda. Jeongyeon menghela napas dan berjingkat ke sofa.
Dia sudah meletakkan selimut tipis diatasnya. Sambil memegangnya, dia berbaring di sofa, tetapi dengan kakinya yang panjang, ruangnya terasa sedikit sempit.
KAMU SEDANG MEMBACA
Where am i?
Fiksi PenggemarJeongyeon mengalami kecelakaan mobil hingga merengut nyawanya. Ketika dia membuka matanya lagi, dia malah terbangun di tempat lain dan menjadi suami dari seorang wanita yang dingin dan kaya raya. Untuk bertahan hidup dan menyembunyikan rahasianya, J...
