Satu

297K 6.3K 55
                                        

Bayang-Bayang Luka

Aurora Keira Loredan masih setia duduk di kursi kebesarannya—tempat yang akhir-akhir ini menjadi pelariannya dari dunia. Di ruang kerja mewah bertabur cahaya lembut itu, ia menghabiskan sebagian besar waktunya, menyelami angka dan laporan, mencoba melupakan luka yang belum kering.

Ia terlahir dari keluarga yang nyaris sempurna. Ayahnya, Dominic Loredan, seorang taipan ternama yang membangun kerajaan bisnis sejak muda. Sementara ibunya, Amanda Whitney Loredan, adalah mantan supermodel berdarah Brasil dan Italia yang mewariskan kecantikan luar biasa pada putrinya. Aurora juga memiliki kakak laki-laki yang sangat melindunginya, Carley Loredan—CFO perusahaan, sekaligus sosok yang hampir tak pernah lepas dari sisi adiknya.

Campuran darah Irlandia, Brasil, dan Italia mengukir wajah Aurora menjadi lukisan yang nyaris tak bercela. Namun, di balik keindahan itu, tersembunyi luka yang dalam. Cinta pertamanya hancur karena pengkhianatan dua orang terdekat: tunangan dan sahabatnya sendiri. Sejak itu, Aurora perlahan menarik diri dari dunia para pria. Ia membangun benteng setinggi langit.

Tok... tok...

Suara ketukan membuyarkan lamunannya. Dengan enggan, ia bangkit dan melangkah ke pintu.

Ceklek...

"Papa?" suaranya terdengar lirih.

Dominic berdiri di ambang pintu, sorot matanya khawatir. "Aurora, sampai kapan kamu di sini, Nak?"

"Aku harus menyelesaikan laporan minggu ini, Pa. Branch Manager dari Kanada baru saja mengirimkannya. Besok pagi aku harus menyerahkannya ke CFO."

"Ini sudah malam. Kamu bisa minta bantuan kakakmu. Kau tahu Carley tidak akan membiarkan adiknya lembur sendirian."

"Tidak, Papa. Aku harus tetap profesional. Fakta bahwa aku adalah putri pemilik perusahaan ini bukan berarti aku bisa seenaknya."

Dominic menghela napas panjang. "Tapi jalanan New York..."

"Masih ramai. Papa tahu itu. Lagi pula, aku bawa mobil sendiri. Aku tidak harus naik subway dan berdesak-desakan seperti karyawan lain. Mereka bekerja untuk hidup. Aku? Aku bekerja untuk mengisi kekosongan waktu. Akan sangat tidak adil kalau aku pulang lebih awal hanya karena aku anak CEO."

Dominic terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. "Baiklah, Papa mengerti."

"Terima kasih, Pa."

"Papa akan tetap menunggu."

Aurora tersenyum tipis, lalu kembali ke layar monitornya. Namun suara ayahnya terdengar lagi.

"Banyak orang jahat di luar sana, Aurora. Kau hanya belum menyadarinya."

"Papa, dunia tidak seburuk itu."

"Justru karena kamu terlalu percaya, kamu bisa celaka."

Aurora memilih diam. Ia tahu, ayahnya berbicara dari rasa sayang. Tapi ia juga tahu, ketakutan yang terlalu besar kadang justru menyesakkan.

---

Sang Casanova

Sementara itu, di jantung malam New York, irama musik EDM menggema dari dinding ke dinding sebuah klub malam elit. Lampu-lampu gemerlap menari di udara, memantul pada wajah-wajah lelah yang menari untuk melupakan sejenak dunia nyata.

Di salah satu sudut ruangan, seorang pria tampan duduk tenang, terpisah dari keramaian. Ia tidak menari. Tidak bicara. Ia hanya menikmati permainannya sendiri. Tangannya merayap di dada seorang wanita muda—model majalah dewasa yang sedang naik daun—yang tampak menikmati setiap sentuhannya.

Dialah Nicholas Abraham McConnell.

Casanova. Playboy. Billionaire.

Putra dari Derek McConnell, raksasa bisnis yang tangan dinginnya menumbangkan banyak pesaing. Nicholas mewarisi segalanya—harta, kekuasaan, bahkan aura intimidasi yang membuat banyak orang memilih diam di hadapannya. Pada usia 33 tahun, ia telah menjadi CEO yang disegani dan pria lajang paling diincar para sosialita. Wajahnya terpampang di halaman depan Vogue, dinobatkan sebagai Sexiest Man Alive. Forbes menempatkannya sebagai miliarder peringkat empat dunia.

Bagi Nicholas, uang menyelesaikan segalanya. Termasuk urusan ranjang. Tak terhitung jumlah wanita yang berlomba masuk ke pelukannya hanya untuk satu malam bersamanya.

Namun malam ini, ia bosan.

"Auhhh...," desah gadis di pangkuannya, matanya setengah tertutup, mabuk oleh hasrat. Tapi Nicholas justru menghentikan semua itu.

"Pergi. Kau tak lagi menyenangkan," ucapnya dingin.

Wanita itu menatapnya, kecewa. Namun satu isyarat dari Nicholas sudah cukup membuat asistennya menghampiri, menyodorkan segepok uang. Ia pergi, membawa kehancuran harga diri, tapi juga dengan logika yang masih bekerja. Melawan Nicholas bisa menghancurkan karier siapa pun.

"Brengsek kau, Nicholas," gumamnya pelan.

"Aku dengar itu, sayang," jawab Nicholas sambil meneguk winenya dengan tenang.

Aurora Is MineTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang