Nicholas berjalan santai kembali ke kamar setelah menemui Fischer untuk memastikan chef resor menyiapkan makan siang terbaik mereka.
Begitu membuka pintu, ia mendapati Aurora sudah tertidur lelap di atas ranjang. Nicholas tersenyum tipis, rasa jemawa muncul di benaknya. Ia melangkah perlahan lalu duduk di tepi kasur, memandangi wajah teduh wanita itu. Namun, tepat saat ia hendak berbaring di samping Aurora, sebuah getaran dan bunyi notifikasi berturut-turut dari ponsel di atas nakas menarik perhatiannya. Nicholas mengambil ponsel tersebut. Layarnya menyala, menampilkan serangkaian pesan dari nomor tidak dikenal. Tanpa ragu, Nicholas membuka pesan itu—ia tahu ini melanggar privasi, tapi instingnya mengatakan ada sesuatu yang salah.
Begitu membaca nama Evans di akhir baris pesan yang bernada ancaman itu, rahang Nicholas mengeras. Amarahnya seketika mendidih. Berani sekali bajingan dari masa lalu itu mengusik wanita yang saat ini berada di bawah pengaruhnya. Dengan tenang namun dingin, Nicholas menyalin nomor tersebut lalu mengirimkannya kepada Fischer via pesan singkat.
Kirim nomor ini ke Rodwick.
Aku mau pemilik nomor ini diselidiki sampai ke hal paling kecil sekalipun.
Setelah memastikan pesan terkirim, Nicholas menghapus seluruh notifikasi pesan dari Evans di ponsel Aurora. Ia tidak akan membiarkan ketakutan merusak suasana liburan ini. Nicholas meletakkan kembali ponsel itu ke tempat semula, lalu berbaring di sisi ranjang yang kosong dan memejamkan mata.
Beberapa jam berlalu. Ketika Nicholas perlahan terbangun, hal pertama yang ia tangkap adalah siluet Aurora yang sedang bersandar di headboard ranjang. Wanita itu tampak santai, tangan kanannya sesekali memasukkan buah ceri ke dalam mulut, sementara tangan kirinya sibuk mengganti saluran televisi besar di depan mereka. Nicholas bergerak, sengaja berdehem rendah untuk memberi tahu keberadaannya.
"Ehem..."
Aurora menoleh, mengunyah cerinya perlahan sebelum melempar senyum tipis yang sarat akan formalitas. "Apa bau makanannya membangunkanmu? Sorry, aku sudah lapar sekali dan kamu terlihat kelelahan tadi. Saat Fischer dan pelayan mengantar ini, aku sengaja tidak membangunkanmu karena kamu tidur nyenyak sekali."
Nicholas mengubah posisinya menjadi duduk, matanya menatap Aurora lekat-lekat. "Kamu mau?" tawar Aurora, mengulurkan sebutir ceri ke arah Nicholas tanpa niat bergerak dari posisinya. "Mau atau tidak?"
Nicholas tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru meraih pergelangan tangan Aurora dengan gerakan cepat, menariknya hingga separuh tubuh wanita itu ambruk tepat di atas dadanya. "Tentu saja mau. But I want to taste it in a more interesting way," bisik Nicholas dalam posisi wajah mereka yang kini hanya berjarak beberapa senti.
Sebelum Aurora sempat memprotes kelancangannya, Nicholas menahan tengkuk wanita itu dan langsung melumat bibirnya. Awalnya ciuman itu terasa lambat, namun Nicholas dengan cepat memperdalam ritmenya, menuntut balasan dengan intensitas yang pekat. Nicholas membalikkan posisi mereka dengan dominan, mengunci tubuh Aurora di bawah kuasanya tanpa memutuskan tautan bibir mereka. Ketika Nicholas akhirnya menjauhkan wajahnya untuk memberi ruang bernapas, bibir Aurora sudah tampak memerah dan sedikit bengkak. Napas wanita itu memburu, dan rambut panjangnya berantakan di atas bantal. Nicholas menurunkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Aurora, menghirup aroma tubuhnya yang memabukkan.
"Ceri itu manis, tapi kamu jauh lebih memikat," bisik Nicholas parau. Matanya kemudian menyipit saat menyadari pakaian yang dikenakan Aurora. "Kemeja milikku?"
Aurora mencoba mendorong dada bidang Nicholas untuk menciptakan jarak. Jantungnya berdegup gila, namun ia berusaha keras menguasai ekspresi wajahnya agar tetap terlihat dingin.
"Dressku sangat tidak nyaman untuk tidur, Nicholas. Dan aku tidak menemukan pakaian wanita lain di walk-in closet selain kemeja dan bathrobe milikmu. Kalau kamu keberatan, aku bisa menggantinya sekarang," Ucap Aurora, seraya menatap Nicholas.
Nicholas menyeringai tipis, tatapannya turun ke barisan kancing kemeja yang longgar itu. "Well, sebenarnya akan jauh lebih menyenangkan kalau kamu tidak memakai sehelai benang pun. Sial, menahan diri untuk tidak menelanjangimu malam ini benar-benar menguji kesabaranku."
BUK!
Sebuah bantal mendarat keras tepat di wajah tampan Nicholas. Aurora menatapnya dengan kilat amarah yang seksi. "Singkirkan pikiran mesummu itu, Nicholas! Cepat bangun dan makan, atau aku tidak akan segan-segan membuatmu menyesal karena sudah membawaku ke sini," ancam Aurora ketat, tidak memberi celah bagi Nicholas untuk melunjak.
Nicholas terkekeh rendah, sama sekali tidak terintimidasi oleh gertakan wanita di bawahnya. Ia bangkit berdiri dengan gerakan anggun, namun sebelum benar-benar menjauh, Nicholas menunduk dan mencuri satu kecupan tegas di kening Aurora. "Aku butuh energi banyak untuk malam ini, Aurora. Jadi aku akan menghabiskan makanannya," ujar Nicholas penuh arti, memberikan tatapan penuh spekulasi yang membuat bulu kuduk Aurora meremang halus.
"Keluar, Nicholas!" usir Aurora tajam, melempar bantal kedua yang dengan mudah ditangkap oleh Nicholas sambil tertawa kecil sebelum pria itu melangkah keluar kamar. Begitu pintu tertutup, Aurora langsung mengembuskan napas yang sejak tadi ia tahan. Kakinya terasa lemas. Ia menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang berkecamuk.
Nicholas benar-benar tipe pria dominan yang berbahaya bagi pertahanan hatinya, dan Aurora tahu, ia harus memasang benteng setinggi mungkin agar hatinya tidak kembali hancur seperti masa lalunya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Aurora Is Mine
RomanceAurora Kiera Loredan Wanita berparas cantik, memiliki khidupan sempurna dan juga memiliki segalanya . Harus menghadapi kenyataan pahit. Penghianatan dari calon tunanganya. Yang terpergok berselingkuh dengan sahabatnya sendiri. Ketika hatinya teng...
