SEPULUH

122K 3.6K 28
                                        

Tepukan pelan di bahunya membangunkan Nicholas dari tidur lelapnya. Begitu membuka mata, ia melihat Aurora sudah berdiri di dekatnya.

​"Kita sudah sampai," bisik Aurora.

​"Aku ketiduran?" tanya Nicholas dengan suara yang masih serak.

​"Iya. Kamu tidur nyenyak sekali, Nicholas. Pesawatnya sudah mendarat dari beberapa menit yang lalu," ujar Aurora sambil melangkah mundur untuk memberi jarak.

​Nicholas terdiam sebentar, mengumpulkan kesadarannya. Melihat wajah tenang Aurora dari jarak dekat seperti itu mendadak membuat hatinya berdesir aneh. Ada rasa penasaran dan keinginan yang kuat untuk memiliki wanita ini. Nicholas terbiasa bangun di samping wanita yang hanya mengincar uangnya, tapi Aurora berbeda. Gadis ini punya harga diri tinggi dan itu justru membuatnya jauh lebih menarik.
​Saking tidak fokusnya, Nicholas hampir saja tersandung saat hendak melangkah turun dari tangga jet pribadinya.

​"Nicholas, kamu baik-baik saja?" tanya Aurora heran melihat gelagatnya. Secara refleks, ia mengulurkan tangan dan menyentuh kening Nicholas sekilas. "Wajahmu memerah, apa kamu demam?" ​Sentuhan mendadak itu sukses membuat Nicholas salah tingkah dalam hati. Sial, kenapa dia bisa se-amatir ini di depan seorang wanita?

​"Jemputan kita sudah siap, Sir," sapa Fischer yang tiba-tiba muncul, menyelamatkan Nicholas dari rasa canggungnya.

​Mobil Bentley Mulsanne hitam sudah menunggu mereka di pinggir landasan. Fischer langsung mengambil alih kemudi setelah memastikan Nicholas dan Aurora duduk dengan nyaman di kursi penumpang bagian belakang.
​Sepanjang perjalanan membelah jalanan Aspen yang bersalju, Nicholas lebih banyak diam. Ia sibuk berpikir bagaimana cara menyenangkan gadis di sampingnya ini. Biasanya, ia sangat mudah memikat wanita dengan uang, berlian, atau properti mewah. Tapi Aurora jelas tidak memerlukan semua itu. ​Nicholas menghela napas. Mendadak ia merasa panik. Apakah membawa Aurora ke resor ski miliknya adalah keputusan yang tepat?

​"Haruskah kita kembali ke New York?" tanya Nicholas tiba-tiba pada Aurora.
​Aurora menoleh dengan sebelah alis terangkat. "Apa kamu punya pekerjaan mendesak di sana? Kalau mau kembali sekarang, aku tidak masalah."

​"Tidak." sahut Nicholas, mencoba bersikap tenang. "Aku hanya tidak ingin memaksamu kalau kamu merasa tidak nyaman di sini."

​Aurora diam sejenak, lalu menyunggingkan senyum tipis. "Kita sudah terlanjur sampai di Colorado, Nicholas. Menghabiskan waktu satu atau dua hari di sini rasanya bukan ide yang buruk."

​Jawaban itu membuat Nicholas merasa lega, sekaligus memicu sisi liciknya. Ini waktu yang tepat untuk menjalankan rencananya. ​"Tapi kita punya sedikit masalah di resor, Aurora."

​"Masalah apa?"

​"Orang-orangku baru saja memberi tahu Frodo kalau sistem pemanas di beberapa area rusak. Jadi, hanya ada satu kamar yang siap dipakai saat ini," ucap Nicholas berbohong tanpa kedip.
​Tentu saja itu hanya akal-akalannya saja. Sebelum pesawat mereka lepas landas dari New York, Nicholas sudah memerintahkan anak buahnya untuk mengosongkan semua kamar tamu dan menyisakan master bedroom utama. Ia tidak akan membiarkan kesempatan berduaan dengan Aurora lewat begitu saja.

​Aurora menatap Nicholas dengan pandangan tidak percaya. "Kamu pasti bercanda, kan?"

​"Aku tidak pernah bercanda soal ini."

​"Jadi kita harus tidur sekamar?" tanya Aurora memastikan. Ada nada gugup yang coba ia sembunyikan dalam suaranya.

​"Secara teknis, iya," jawab Nicholas santai. "Tapi kalau kamu merasa tidak nyaman satu ranjang denganku, aku bisa tidur di sofa. Aku akan menghormati batasanmu."
​Nicholas menahan senyumnya. Ia tahu betul kalau ia sudah menyuruh pelayan resor untuk menyingkirkan semua sofa dari kamar utama itu sejak beberapa jam lalu. Di kamar itu nanti, hanya akan ada satu ranjang besar yang empuk.

​Aurora menghela napas panjang, mencoba tetap terlihat jual mahal dan tenang untuk menutupi detak jantungnya yang mendadak tidak beraturan. ​"Aku tidak akan membiarkan pemilik rumah tidur di sofa, Nicholas. Aku tidak setega itu," ujar Aurora ketus. "Biar aku saja yang tidur di sofa nanti. Oke?"

Nicholas memalingkan wajahnya ke arah jendela luar. Sebuah seringai tipis muncul di wajahnya karena tahu betul tidak ada satu pun sofa yang tersisa di dalam kamar itu nanti.

"Baiklah." Ucap Nicholas licik.

Aurora Is MineCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang