ENAM

139K 4.5K 26
                                        

​Pagi hari di New York disambut oleh langit kelabu dan gemuruh petir yang samar, perlahan membangunkan Aurora dari tidurnya. Jarum jam menunjukkan pukul enam pagi.
​"Terima kasih untuk hari ini," bisik Aurora pelan, sebuah rutinitas singkat yang selalu ia rapalkan setiap kali membuka mata.

​Ia duduk bersandar pada headboard ranjang, menatap rintik hujan yang mulai membasahi jendela kaca besar kamarnya. Suasana di luar masih tampak temaram. Aurora menyibak selimut, melangkah menuju nakas di dekat jendela untuk meminum segelas air mineral yang selalu disiapkan pelayan setiap pagi. ​Dengan langkah santai, ia berjalan menuju walk-in closet di sisi kanan kamar, mengganti pakaian tidurnya dengan setelan olahraga yang nyaman. Setelah menyambar ponselnya yang tergeletak di atas kasur, Aurora melangkah keluar menuju ruang gim pribadi di dalam mansion. ​"Selamat pagi, Miss Aurora," sapa Anna, salah satu kepala pelayan di kediaman Loredan. "Protein shake Anda sudah saya siapkan di dalam. Apakah ada hal lain yang Anda butuhkan pagi ini?"

​Aurora tersenyum tipis. Di rumah ini, ia hampir selalu menjadi orang pertama yang terbangun. Anna menyerahkan sebotol Hildon Mineral Water di atas nampan perak. "Air mineral Anda, Miss."

​"Terima kasih, Anna," ucap Aurora seraya menerima botol kaca bening tersebut. ​Menatap botol air premium seharga 75 dolar itu mendadak memicu memori lama di benak Aurora. Ia teringat perdebatan kecil dengan mamanya beberapa tahun lalu mengenai efisiensi pengeluaran rumah tangga mereka.

​"Ma, kita menghabiskan puluhan dolar hanya untuk sebotol air minum berukuran 750 ml. Rasanya sama saja dengan merek komersial lainnya. Bukankah ini terlalu berlebihan?" protes Aurora saat itu.

​Amanda Loredan, yang kala itu sedang menikmati pain aux raisins dan secangkir teh di taman belakang, menatap putrinya dengan pandangan terusik. "Tentu saja berbeda, Aurora. Air ini disaring secara alami melalui bukit kapur di Hampshire. Ada alasan mengapa keluarga kerajaan memilihnya. Kamu tidak perlu mempertanyakan standar yang sudah mama tetapkan di rumah ini."

​"Maksudku, uangnya bisa dialokasikan untuk hal yang lebih berdampak, Ma. Yayasan kemanusiaan, misalnya," balas Aurora, mencoba bertahan.

​Sang mama hanya tersenyum tenang, tatapannya menyiratkan keanggunan yang mutlak. "Mama mendirikan Amanda Fund bukan untuk sekadar pameran, Sayang. Semua hasil lelang lukisan mama dan Gala Night tahunan dialihkan ke Afrika. Jadi, sebelum kamu mengkritik sebotol air mineral dan membuat mama terdengar seperti wanita kikir, kontribusi nyata apa yang sudah kamu lakukan untuk dunia luar?"

​Sejak hari itu, Aurora tahu ia tidak akan pernah menang berdebat dengan mamanya jika menyangkut masalah prinsip dan gaya hidup. ​Setelah menyelesaikan sesi olahraga selama tiga puluh menit dan mandi pagi, Aurora bersiap dengan efisien. Ia hanya mengulas sedikit pelembap dan lip balm pada wajahnya yang sudah tampak segar alami. ​Untuk pertemuan penting hari ini, ia memilih mengenakan monogrammed maxi dress berwarna off-white dari Balmain, dipadukan dengan double-breasted coat hitam senada dari rumah mode yang sama. Dengan sepasang eden heel pumps dari Ralph & Russo, Aurora melangkah anggun menuju ruang makan formal, di mana kedua orang tua dan kakak laki-lakinya sudah berkumpul.

​"Guten morgen, meine liebe," sapa Amanda hangat, memberikan kecupan ringan di pipi putrinya. ​"Selamat pagi, Mama," balas Aurora lembut.

​"Kopi?" tawar Amanda sembari menuangkan cairan hitam pekat itu ke cangkir porselen.

​"Ya, terima kasih. Aku sedikit tegang pagi ini, Ma. Luxembourg Project ini sangat krusial bagi Papa dan rekan bisnis kita. Aku takut presentasiku tidak memenuhi ekspektasi." ​Dominic Loredan meletakkan koran paginya, melirik sang putri dengan tatapan meneduhkan. "Tidak perlu cemas. Luxembourg Project hanya satu dari sekian kerja sama strategis antara Papa dan Derek. Hari ini kamu hanya akan berhadapan dengan putranya. Carl, dia temanmu, bukan?"

​Carley, kakak laki-laki Aurora yang duduk di seberang meja, mengangguk pelan tanpa mengalihkan pandangan dari tabletnya. "Kamu tidak perlu terlalu akrab dengannya, Ra. Jaga batasan profesional saja. Pria itu... punya reputasi yang agak bermasalah dengan wanita," ujar Carley dengan nada datar khasnya.

​"Paham," sahut Aurora singkat.

​"Sekretarisku sudah mengirimkan minutes of meeting sebelumnya ke asistenmu," lanjut Carley. "Hari ini agenda kita adalah meninjau usulan dari jajaran direksi. Papa dan Derek mungkin hanya akan memantau, karena penanggung jawab penuh proyek ini adalah Nicholas. Reputasi tangan dingin pria itu di sektor food and beverage tidak perlu diragukan. Ekspansi kita akan berjalan jauh lebih cepat dari estimasi awal."

​Aurora mengernyitkan dahi samar. "Apakah dia seberpengaruh itu? Aku bahkan tidak pernah mendengar namanya dari Laura."

​Carley mendengus geli, melirik adiknya dengan tatapan sarkastik yang familier. "Tentu saja tidak. Fokus radiasimu selama ini kan hanya terbatas pada dunia komik dan animasi, bukan jajaran eksekutif Wall Street."

​---------

Di tempat lain.

Tallinn, Estonia — Eropa Utara.

Sudah sewajarnya wanita itu merindukanku, bukan? ​Di dalam sebuah ruangan privat bernuansa gotik, seorang pria bertubuh tegap berdiri menghadap jendela besar, menatap tajam ke arah patung rajawali perunggu di seberang jalan. Jemarinya memainkan gelas lowball berisi wiski mahal yang beradu dengan sebongkah es batu. Ia menyesap cairan pekat itu perlahan, membiarkan rasa hangatnya membakar tenggorokan, sementara tangan kanannya menjepit sebatang rokok yang asapnya mengepul tipis.

​"Ada laporan dari Nebraska, Bos," ujar seorang pria berbadan tegap yang tiba-tiba melangkah masuk setelah mengetuk pintu dua kali. ​Pria itu berdiri tegap di dekat meja kerja. "Ramsey memberi kabar bahwa kita harus mengosongkan area ini secepat mungkin. Ada transaksi skala besar yang sudah menunggu di New York. Barang dari Ramsey berhasil melewati pemeriksaan perbatasan, dan tim kita sudah bersiap di titik koordinat."

​Pria di dekat jendela itu menyunggingkan senyum tipis—sebuah senyuman yang sarat akan dominasi dan ketenangan yang berbahaya.
​"Kamu tahu apa yang harus dilakukan. Amankan semua aset kita di sini," perintahnya, suaranya berat dan penuh penekanan. "Aku mau seluruh transaksi di kota ini selesai malam ini juga. Sudah waktunya aku kembali ke New York, menemui boneka porselenku yang cantik, dan memastikan pria tua itu memberikan pengakuan yang layak untukku."

Aurora Is MineCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang