Akhirnya, desah Nicholas. Ia benar-benar merindukan tempat tidurnya.
Malam ini berlalu dengan rasa bosan yang sama seperti biasanya. Dentum musik klub malam, deretan wanita yang datang dan pergi, serta segala bentuk hiburan kelas atas selalu menjadi rutinitas yang mulai terasa hambar. Nicholas jenuh. Hidupnya bergerak dalam lingkaran kemewahan yang monoton.
Setiap malam, hanya keheningan penthouse-nya yang menyambut kepulangannya. Tidak ada yang benar-benar memicu adrenalinnya selain urusan bisnis. Orang-orang mungkin menganggap hidupnya sempurna, tetapi bagi Nicholas, kemewahan yang terlalu mudah didapatkan justru membuat segalanya terasa hambar.
Namun, beberapa menit yang lalu, malamnya mendadak terasa sedikit berbeda. Ada riak penasaran yang mendadak mengusik benaknya. Siapa wanita tadi? pikirnya. Wanita itu tidak mengenakan gaun malam yang mahal atau perhiasan mewah, tetapi ada sesuatu yang memikat dalam kesederhanaannya yang kontras. Nicholas menyukai sensasi yang ditinggalkan wanita itu dalam benaknya—sebuah getaran asing yang sudah lama tidak ia rasakan. Bagaimana bisa ia melewatkan wanita semenarik itu di kotanya sendiri?
Hanya dengan membayangkan kembali tatapan wanita itu, Nicholas merasakan desakan gairah yang familier di bawah sana. Ia berdecak pelan, merutuki reaksinya sendiri. Sialan, umpatnya dalam hati. Ia benar-benar butuh mandi air dingin sekarang.
Baru saja ia hendak melangkah menuju kamar mandi, suara bel pintu bergema, memecah keheningan penthouse miliknya. Nicholas mengumpat tertahan. Dengan langkah berat, ia berjalan membuka pintu. Begitu mendapati sosok pria yang berdiri di ambang pintu dengan wajah panik, Nicholas hanya bisa mengembuskan napas dongkol. "Apa kamu tidak punya hal yang lebih berguna untuk dilakukan daripada menggangguku jam segini?" cemooh Nicholas dingin, sembari bergeser memberi jalan agar tamunya bisa masuk.
Pria itu melangkah masuk tanpa beban, seolah tempat itu adalah rumahnya sendiri. Nicholas kembali menghela napas kasar. "Edison Stokes, apa kamu sudah kehilangan akal sehat? Ini tengah malam dan aku memerlukan istirahat istirahat." Nicholas menatap sahabatnya dengan tatapan tajam, namun Edison tampaknya tidak memiliki rasa bersalah sedikit pun. "Cepat katakan apa maumu, setelah itu angkat kaki dari sini."
"Sial," umpat Edison, frustrasi.
"Simpan umpatanmu untuk besok, Ed. Kalau ini hanya soal drama wanitamu, kita bicarakan besok saja. Aku lelah."
"Ini masalah besar, Nicholas. Emma Roberts... wanita itu kembali."
Nicholas mengangkat sebelah alisnya, tidak terkesan. "Lalu? Bukankah itu yang kamu harapkan selama ini?"
"Apanya yang bagus?!" seru Edison frustrasi. "Aku baru saja memulai hubungan yang serius dengan Laura Dalton. Dan sekarang, kehadirannya bisa menghancurkan segalanya. Aku bisa gila."
Nicholas bersandar pada konter dapur, menatap sahabatnya dengan pandangan sinis yang praktis. "Kamu membuat segalanya menjadi rumit. Tinggalkan salah satu, atau pertahankan keduanya. Bukankah biasanya begitu?"
"Nicholas Abraham McConnell yang terhormat," ucap Edison dengan nada menyindir. "Kamu pikir aku bajingan sepertimu? Aku memang brengsek dulu, tapi itu sebelum aku bertemu Laura. Aku ingin berubah. Apa kamu sendiri tidak bosan berganti wanita setiap malam? Kamu mungkin tidak akan paham, Nicholas. Pria sinis sepertimu tidak tahu rasanya menginginkan satu wanita seutuhnya."
Nicholas mendengus meremehkan. "Terserah apa katamu, Ed. Intinya, aku tidak punya waktu untuk ini. Besok pagi aku ada janji temu dengan Dominic Loredan."
Edison seketika menoleh, ketertarikannya terusik. "Loredan? Kamu punya proyek baru dengan mereka? Apa kamu juga akan bertemu Aurora?"
"Aurora? Siapa dia? Aku tidak kenal dan tidak tertarik untuk tahu."
Edison justru mengembuskan napas lega, sebuah senyuman penuh arti terbit di wajahnya. ""Bagus kalau begitu. Jadi kamu bisa tetap profesional besok. Lagipula, dia putri Loredan—terlalu berisiko untuk kamu jadikan mainan. Aku tahu betul seleramu, Nicholas."
Nicholas menatap sahabatnya dengan pandangan menilai. "Kamu mabuk, Ed. Sejak tadi bicaramu melantur tidak keruan."
"Kita lihat saja besok. Seleramu mungkin tinggi, Nick, tapi dia punya standar yang bisa membuat pria sepertimu egois untuk mendapatkannya. Sayangnya, dia bukan tipe wanita yang mudah terkesan. Well, kita lihat saja nanti. Omong-omong, aku menumpang tidur di sini malam ini."
"Pilih kamar mana saja yang kosong," sahut Nicholas acuh tak acuh, terlalu lelah untuk meladeni omong kosong sahabatnya. "Aurora atau siapa pun dia, fokusku besok hanya bisnis. Dia tidak akan mengubah apa pun."
Edison terkekeh pelan, melangkah menuju koridor kamar tamu dengan gestur santai. "Aku pegang ucapanmu, Nicholas. Kita lihat apa kamu masih bisa seangkuh ini setelah rapat besok pagi berakhir."
KAMU SEDANG MEMBACA
Aurora Is Mine
RomanceAurora Kiera Loredan Wanita berparas cantik, memiliki khidupan sempurna dan juga memiliki segalanya . Harus menghadapi kenyataan pahit. Penghianatan dari calon tunanganya. Yang terpergok berselingkuh dengan sahabatnya sendiri. Ketika hatinya teng...
