Satu Malam di New York
Malam itu, Aurora terbangun dengan leher yang terasa kaku. Ia ketiduran di atas meja kerja setelah memaksakan diri menyelesaikan berkas untuk rapat penting esok hari. Begitu menoleh ke arah jam dinding di sebelah kanannya, jarum jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari.
Ruang kerja milik ayahnya itu terasa begitu sunyap dan menenangkan. Belakangan ini, Aurora memang terlalu memprioritaskan pekerjaan. Ia tahu tidak ada salahnya bersikap ambisius untuk sesaat, namun kedua orang tuanya kerap cemas melihat ia kerap mengabaikan waktu istirahat. Hampir tiga jam ia terlelap dalam posisi yang salah.
Aurora meraba meja, mencari ponselnya untuk memeriksa apakah ada laporan masuk dari timnya. Luxembourg Project bukanlah proyek sembarangan; ini adalah proyek yang memiliki tempat khusus bagi ayahnya. Aurora tidak boleh mengacaukan pekerjaan penting ini hanya karena urusan pribadi yang sedang menguras emosinya.
Setelah memeriksa di antara tumpukan dokumen yang berserakan, ia akhirnya menemukan ponsel tersebut. Layarnya menyala, menampilkan tujuh panggilan tak terjawab dari satu nama: Laura.
Untuk apa sahabatnya itu menelepon berulang kali di tengah malam buta seperti ini? Firasat buruk langsung tebersit di benak Aurora. Tanpa pikir panjang, ia segera melakukan panggilan ulang.
Panggilan pertama baru saja tersambung ketika suara isak tangis yang tertahan langsung terdengar di seberang telepon. "Aurora, tolong aku..."
Aurora menghela napas panjang, berusaha menahan rasa kantuknya. "Halo, Laura. Ada apa?"
"Aurora... aku..."
"Laura, ini sudah tengah malam," potong Aurora jenuh. "Selain mengganggu waktu istirahat, kamu juga bisa mengacaukan jadwal kerjaku besok. Kalau kamu mabuk, hubungi sopirmu."
"Aku tidak mabuk, Aurora. Jemput aku sekarang, tolong..."
"Beri aku alasan yang jelas kenapa aku harus menjemputmu jam segini."
"Dia bersama wanita lain, Aurora. Dia meninggalkanku demi wanita itu..." Tangis Laura kembali pecah.
Aurora tertegun. Rasa kantuknya mendadak hilang. "Kamu di mana sekarang? Tunggu di sana, jangan ke mana-mana. Aku akan ke sana sekarang."
"Aku tidak mungkin keluar dengan keadaan sekacau ini. Aku masih di dalam toilet klub tempat biasa kita bertemu."
Tanpa membuang waktu, Aurora langsung bergegas ke kamarnya untuk mengambil kunci mobil di atas nakas. Ia bahkan tidak memedulikan penampilannya malam itu—hanya mengenakan pakaian rumahan seadanya dengan rambut yang dibiarkan berantakan. Saat ini, kondisi sahabatnya jauh lebih penting.
Aurora menuruni tangga melingkar mansion miliknya dengan tergesa-gesa.
"Kamu mau ke mana, Sayang? Ini sudah larut malam," tanya Amanda, sang mama, yang ternyata masih terjaga di ruang tengah bersama suaminya, menonton sebuah film klasik.
"Aurora harus pergi, Ma. Ada urusan mendesak dengan Laura. Aku harus menemui dia sekarang."
"Laura Dalton? Putrinya Vincentius?" tanya Dominic, papanya, memastikan.
"Benar, Papa. Ma, Pa, Aurora pergi dulu."
"Ya sudah, segera susul dia. Hati-hati di jalan, jangan mengebut," pesan Amanda cemas.
Dominic hanya mengangguk, memerhatikan langkah terburu-buru putrinya yang segera menghilang di balik pilar ruang tengah. Aurora menuju garasi dan langsung menghidupkan mesin Bugatti Veyron miliknya. Mobil itu melesat memutari air mancur halaman depan, melewati gerbang otomatis yang terbuka lebar, lalu membelah jalanan New York yang lengang. Kota itu seolah tidak pernah tidur. Di beberapa sudut, beberapa taksi tampak menepi dan sekelompok pemuda masih terlihat berkumpul di bahu jalan. Sepanjang perjalanan, pikiran Aurora terfokus pada Laura. Sahabatnya itu bukan tipe wanita yang mudah menunjukkan kerapuhan, kecuali jika sesuatu yang sangat fatal telah terjadi.
Begitu tiba di pusat kota, Aurora langsung mengarahkan mobilnya masuk ke area parkir La Noche. Klub malam tersebut merupakan salah satu tempat paling eksklusif di New York, tempat di mana para pengusaha, figur publik, hingga politikus biasa menghabiskan malam. Saat berjalan menuju lorong toilet, Aurora menyadari beberapa pasang mata menatapnya dengan pandangan sinis. Ia tahu pakaian rumahan yang dikenakannya sangat tidak selaras dengan atmosfer tempat itu, namun ia memilih untuk tidak peduli.
"Laura?" panggil Aurora saat memasuki area toilet. Namun, ruangan bernuansa mewah itu tampak kosong. Saat ia hendak menghubungi Laura kembali, sebuah notifikasi pesan singkat masuk ke ponselnya.
Laura: Aurora, maafkan aku. Jacob tiba-tiba datang dan memaksaku pulang setelah melihatku menangis di lorong. Aku sudah di rumah dengan selamat sekarang. Aku harap pesan ini belum terlambat. Kamu boleh memarahiku besok, aku tahu aku salah. P.S. Kalau kamu sudah telanjur di klub, segera pulang. Aku sudah meminta bouncer di depan untuk mengabari jika kamu datang.
Aurora mengembuskan napas tajam, menahan rasa kesal yang beralih menjadi dongkol. Ia melangkah keluar dari klub dengan gusar. Di dekat pintu masuk, seorang petugas keamanan yang mengenalinya tampak mengangguk canggung, mengonfirmasi situasi tanpa perlu diminta. Perjalanan pulang terasa jauh lebih melelahkan. Aurora mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, menyusuri jalanan kawasan hunian elite yang sepi dan jauh dari hiruk-piruk pusat kota. Namun, saat ia bersiap menambah kecepatan, pandangannya tertuju pada sebuah mobil mewah yang tampak ringsek setelah menabrak pembatas jalan di sisi kanan trotoar.
Aurora memperlambat laju mobilnya, lalu memutuskan untuk menepi. Ia turun dari Bugatti miliknya dan berjalan mendekati mobil tersebut. Ketukan pertama pada kaca jendela tidak membuahkan hasil.
"Apakah Anda baik-baik saja di dalam, Sir?" tanya Aurora setengah berteriak sambil mengetuk lebih keras.
Khawatir pengendara di dalam mengalami cedera serius atau kehilangan kesadaran, Aurora terus mengetuk kaca mobil hingga akhirnya pintu kemudi terbuka. Seorang pria melangkah keluar dengan gestur yang sedikit tidak stabil. Aurora sempat terdiam sesaat.
Pria di hadapannya memiliki garis wajah yang tegas dan tampak begitu proporsional. "Apakah Anda terluka?" tanya Aurora, berusaha bersikap formal. "Saya kebetulan lewat dan melihat mobil Anda menabrak pembatas. Apa perlu saya pesankan ambulans, atau Anda butuh tumpangan? Anda tampak sedikit mabuk." Aurora dalam hati heran mengapa ia mendadak menjadi begitu perhatian pada orang asing.
Pria itu tidak langsung menjawab. Ia hanya berdiri bergeming, memerhatikan penampilan Aurora dari ujung kepala hingga kaki dengan tatapan menilai yang intens.
Merasa tidak nyaman dengan keheningan itu, Aurora mengibaskan tangan di depan wajah sang pria. "Halo? Anda bisa mendengar saya?"
"Aku baik-baik saja. Terima kasih," jawab pria itu. Suara baritone-nya terdengar berat dan serak.
"Anda yakin? Perlu saya antar pulang?"
"Tidak perlu. Orang-orangku akan segera tiba."
Tepat setelah pria itu berbicara, sorot lampu dari dua mobil hitam membelah kegelapan, diikuti oleh mobil derek di belakangnya. Beberapa pria berjas rapi segera turun dan menghampiri mereka dengan sigap. "Baiklah, sepertinya bantuan Anda sudah datang. Saya permisi, semoga Anda lekas pulih," ucap Aurora formal.
Tanpa menunggu jawaban, Aurora berbalik dan kembali ke mobilnya. Sebelum melesat pergi, ia sempat melirik dari kaca spion; pria itu masih berdiri di posisi yang sama, menatap lurus ke arah mobilnya yang mulai menjauh. Aurora memilih untuk mengabaikan kejadian itu. Rasa lelah yang teramat sangat membuatnya hanya menginginkan satu hal: tempat tidur miliknya. Berurusan dengan orang asing yang misterius di jam tiga pagi jelas bukan agenda yang ingin ia perpanjang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Aurora Is Mine
RomanceAurora Kiera Loredan Wanita berparas cantik, memiliki khidupan sempurna dan juga memiliki segalanya . Harus menghadapi kenyataan pahit. Penghianatan dari calon tunanganya. Yang terpergok berselingkuh dengan sahabatnya sendiri. Ketika hatinya teng...
