SEMBILAN

115K 3.8K 10
                                        

Aurora menatap jemarinya yang terkunci di dalam genggaman hangat Nicholas. Punggung tangan pria itu masih menyisakan rona kemerahan samar akibat tamparannya di koridor beberapa saat lalu. Namun, di dalam lift eksekutif yang mendadak penuh oleh karyawan Loredan Limited ini, Aurora terpaksa menahan diri untuk tidak membuat keributan kedua.

​Sayup-sayup, kasak-kusuk dari beberapa staf yang berdiri di depan mereka mulai terdengar. ​"Aku tidak salah lihat, kan? Itu Nicholas McConnell, CEO McConnell & Co.," bisik seorang karyawan wanita dengan suara teredam.

​"Keduanya terlihat sangat serasi. Apakah ini bagian dari konsolidasi merger keluarga mereka?" timpal yang lain, melirik sekilas ke arah jemari yang bertautan.

Ting.

Pintu lift terbuka di lantai lobi utama, bertepatan dengan jam istirahat makan siang. Ratusan karyawan mulai memadati area tersebut. Aurora menghela napas pendek, merasa tidak nyaman karena mendadak menjadi pusat spekulasi. ​"Membiarkanmu menggandengku di jam sibuk seperti ini adalah ide yang buruk, Nicholas," desis Aurora rendah, mencoba menarik tangannya, namun Nicholas justru mempererat cengkeramannya dengan lembut. ​"Anggap saja ini latihan, Aurora," sahut Nicholas tenang, tanpa mengalihkan pandangannya dari jalur keluar lobi.

Sebuah senyuman tipis yang sulit diartikan terukir di wajahnya.
​Di luar gedung, Fischer sudah berdiri sigap di samping pintu penumpang Rolls-Royce Phantom hitam. Setelah memastikan Aurora masuk terlebih dahulu, Nicholas menyusul di sampingnya. ​"Bagaimana hasil rapatnya, Sir? Apakah kita langsung kembali ke kantor pusat?" tanya Fischer, profesional dan tidak menunjukkan ketertarikan pada kehadiran Aurora.

​"Arahkan ke bandara, Fischer. Aku sudah meminta Maria menyiapkan private jet. Kita bertolak ke Colorado siang ini," perintah Nicholas santai.
​Aurora seketika menoleh, tatapannya menuntut penjelasan.

"Colorado? Nicholas, agenda kerja kita ada di Luksemburg, bukan di Amerika Serikat bagian barat." Keluh Aurora.

​"Ada beberapa aset di sana yang harus kutinjau secara langsung sebelum kita ke Eropa. Kamu akan menyukainya," jawab Nicholas tak acuh.

​"Kamu bisa pergi sendiri. Aku memiliki banyak timeline kerja yang harus diselesaikan di New York."

​"Asistenmu, Miss Wang, baru saja mengonfirmasi pada Frodo bahwa semua laporanmu sudah tuntas semalam. Jadwalmu kosong hingga akhir pekan," potong Nicholas tegas.

"Aku baru saja mengakuisisi sebuah resor ski eksklusif di Aspen. Anggap saja ini bagian dari perjalanan dinas yang fleksibel."

​Aurora mendengus, menyandarkan punggungnya pada jok kulit yang nyaman. "Kamu membeli sebuah resor ski hanya untuk perjalanan beberapa hari? Bukankah itu pemborosan yang tidak perlu?"

​Nicholas menoleh, menatap Aurora dengan binar jenaka yang maskulin. "Jika aku bisa memilikinya secara mutlak, untuk apa aku menyewanya? Nilai properti itu tidak lebih dari pendapatan beberapa menit McConnell & Co. di pasar saham."

​"Sikap aroganmu ini benar-benar mengingatkanku pada Papa dan Carley," gumam Aurora, memalingkan wajah ke arah jendela. "Dan lagipula, aku bahkan belum meminta izin pada orang tuaku."

​"Aku sudah menyelesaikan bagian itu dengan Dominic sebelum kita turun ke lobi," sahut Nicholas, jemarinya bergerak santai, menepuk pelan punggung tangan Aurora untuk menenangkannya.

​Satu jam kemudian, Rolls-Royce mereka telah tiba di landasan pacu privat. Sebuah jet pribadi dengan logo McConnell Group telah bersiap. Dua pilot, Damien dan Iichiro, menyambut mereka di dekat tangga pesawat dengan hormat profesional.

​Setelah dibantu oleh seorang flight attendant bernama Mia untuk menaruh barang bawaannya, Aurora mengambil posisi duduk di kursi captain yang berseberangan dengan Nicholas.
​Sambil mengamati Nicholas yang mulai fokus memeriksa tablet bisnisnya, pikiran Aurora berkelana. Ia tahu persis tipe pria seperti Nicholas—pria Alpha dominan yang terbiasa menggunakan otoritas dan materi untuk mengontrol segalanya. Kakak lak-lakinya, Carley, adalah cetakan yang sama. Pria-pria seperti ini biasanya membawa pesona yang mematikan, sekaligus potensi petaka yang besar bagi wanita yang tidak hati-hati menjaga hatinya.
​Namun, Aurora menyadari satu hal yang mengejutkan dirinya sendiri. Sejak kekacauan di ruang rapat tadi pagi, ia menyadari bahwa ia belum memikirkan Evans sama sekali.

​Evans—pria dari masa lalunya yang sempat ia kira sebagai pusat semestanya, sebelum pria itu menghancurkan seluruh kepercayaannya.

Aurora mengembuskan napas berat, sebuah helaan yang cukup keras hingga memecah konsentrasi Nicholas.
​Pria itu menurunkan tabletnya, menatap Aurora dengan pandangan menilai yang mendalam. "Kamu tampak gelisah, Aurora. Jika lelah, kamu bisa beristirahat di kabin belakang."

​"Aku hanya sedang berpikir, Nicholas," jawab Aurora jujur, matanya menatap lurus pada manik mata abu-abu pria di hadapannya. "Aku... sedikit takut."

​Nicholas mengernyitkan dahi samar, ada kilat tidak suka yang melintas cepat di matanya. "Apakah tindakanku tadi membuatmu merasa terancam?"

​"Bukan kamu. Tapi situasinya."

​"Bisa jelaskan lebih spesifik?"

​Aurora terdiam sejenak sebelum menjawab dengan suara rendah, "Aku hanya takut jika kamu tidak ada bedanya dengan Evans." ​Mendengar nama itu disebut, atmosfer di dalam kabin jet mendadak mendingin. Nicholas meletakkan tabletnya di atas meja konsol dengan gerakan terukur.

"Evans? Mantan tunanganmu yang membuatmu mengurung diri dari dunia bisnis selama dua tahun terakhir?"

​Aurora sedikit terkejut karena Nicholas mengetahui informasi tersebut, namun ia memilih tidak mendebatnya. "Ya. Dia cinta pertamaku. Aku terlalu naif saat itu."

​"Lalu apa yang dia lakukan hingga membuat putri seorang Dominic Loredan merasa tidak berdaya?" tanya Nicholas, suaranya terdengar berat dan penuh tuntutan profesional, seolah sedang menginterogasi sebuah kasus.

​"Aku menemukannya di ranjang yang sama dengan Ellena—sahabat karibku sendiri—di dalam penthouse yang baru saja dibelikan Papa sebagai hadiah pertunangan kami," ucap Aurora, nadanya terdengar datar namun sarat akan luka lama yang belum sepenuhnya mengering. "Papa dan Carley sudah memperingatkanku sejak awal bahwa ada yang tidak beres dengan pria itu. Tapi aku terlalu buta oleh ego." ​Nicholas menyilangkan kakinya, mendengarkan dengan saksama tanpa memotong.

​"Menemukan kenyataan bahwa pria yang kamu percayai mengkhianatimu dengan orang yang paling kamu sayangi... itu merusak caraku memandang komitmen," lanjut Aurora, menatap lurus ke arah luar jendela pesawat yang mulai menembus awan. "Aku merasa sangat bodoh karena tidak memercayai insting keluargaku sendiri."

​Nicholas terdiam cukup lama, membiarkan keheningan menguasai kabin selama beberapa saat. Ketika ia kembali bersuara, nadanya terdengar sangat tenang namun mutlak.
​"Aku tidak tahu dan tidak peduli siapa pria bernama Evans itu," ujar Nicholas dingin, namun ada ketegasan yang protektif di dalamnya. "Tapi jika dia masih menyisakan keraguan di kepalamu, aku pastikan aku akan menghapus presensinya dari ingatanmu secepat mungkin. Aku tidak suka berbagi perhatianmu dengan hal-hal yang tidak penting dari masa lalu."

​Aurora menatap Nicholas, mempelajari garis wajah pria itu yang tampak angkuh namun entah mengapa memberikan rasa aman yang aneh. Tamparan yang ia berikan di koridor tadi seolah menjadi pembatas tegas bahwa Nicholas menghormati ruang pribadinya sekarang. ​"Dominic menentangnya pasti karena sebuah alasan konkrit," tambah Nicholas lagi, melonggarkan dasinya sedikit. "Di dunia kita, melacak latar belakang seseorang yang berniat buruk bukanlah hal yang sulit. Tapi lupakan bajingan itu untuk sekarang. Buat dirimu nyaman, perjalanan ke Aspen memakan waktu beberapa jam. Tidurlah jika kamu lelah."

​Aurora mengangguk pelan, merasakan ketegangan di pundaknya perlahan memudar. "Terima kasih, Nicholas."
​Nicholas hanya mengangguk tipis, kembali meraih tabletnya dan membiarkan Aurora tenggelam dalam istirahatnya, tanpa mencoba melewati batasan yang telah wanita itu tetapkan dengan tegas.

Aurora Is MineCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang