"Apa yang akan kita lakukan disini?" Aku sangat terkejut saat Justin berhenti didepan rumahnya.
"C'mon. Ikuti saja aku." Justin mengajakku keluar mobil untuk masuk kerumahnya.
Dengan sedikit keraguan, aku mengikutinya dibelakang.
Justin melangkah sangat cepat dan menuju kearah tangga.
Aku sedikit celingak-celinguk. Aku melihat sekeliling isi rumah Justin yang sangat besar dan ini pertama kalinya aku datang kerumahnya (maaf ya aku lupa saking kelamaan ga nerusin ceritanya. Tapi kalo ga salah si Bara ketempat mamanya Justin doang kan selama ini..).
Kuikuti langkah Justin yang sangat cepat dan akhirnya kami berdua sampai di lantai 2. Aku tetap mengikuti arah kaki Justin yang menuju ke sebuah pintu. Pintu yang berwarna putih tulang dan berukuran cukup besar.
Justin membuka pintu tersebut dan mengajakku masuk.
Ternyata sebuah kamar. Kamar yang sangat luas dan 2 kali luas apartemnku. Wah ... benar-benar sangat mengagumkan.
Tapi tunggu. Aku menyerngit dan berpikir apa yang akan kami lakukan disini dan mengapa dia membawaku kesini?
"Tenang saja. Kita tidak akan melakukan hal 'gila'." Secara tidak sengaja Justin menjawab pertanyaan yang barusan saja muncul di pikiranku. Aku hanya tersenyum lalu duduk di pinggir kasur yang sangat empuk ini.
"Tunggu sebentar," kata Justin sambil keluar dari kamarnya. Aku mengambil handphoneku lalu melihat apakah ada pesan dari Barry. Namun ternyata tidak ada.
Justin seketika kembali dan membawa 2 botol bir. Dia memberiku satu namun aku menolaknya.
"Ayolah. 1 botol tidak akan memabukkanmu." Aku terpengaruh olehnya dan mengambil botol yang ada ditangan kanannya.
Aku meneguknya sedikit lalu mencoba mengalihkan pandanganku ke handphoneku.
"Stop staring at your phone, Bar." Dengan cepat aku menyimpan kembali handphoneku ke saku dan meneguk lagi.
"Okay okay. Lebih baik kita bicara saja," ajakku. Justin mengangguk.
-
"Give me more baby." Kutarik botol dari tangan Justin dan meminumnya. Pandanganku sudah tidak begitu jelas lagi dan mataku mulai berat.
"Kau sudah meminum 6 botol, Bara. Kau harus berhenti." Justin mencoba merain botol yang kupegang namun aku sembunyikan dipunggungku.
"Yes i have to stop loving you, darling." Aku menjauh darinya dan meneguk kembali minuman dari botol ini.
"Bara please. Kau ini mabuk berat. Apa yang nanti akan kukatakan pada Barry?"
"No no no. Don't say anything to my man." Kurebahkan tubuhku kekasur dan kulepas botol tersebut dari tanganku.
"Kau tahu tidak? Mengapa kau peduli denganku? Apa kau masih mencintaiku?" Aku menatap wajah Justin yang mulai samar.
"Aku tahu kau mencintaiku, kan?" Jari telunjukku kuarahkan ke arah Justin. "Come here baby. I love u too."
Justinpun mengarah kepadaku dan duduk disebelahku.
"Now what?" Tanya nya. Aku tertawa sangat kencang karena ini lucu sekali.
"Kiss me." Kumajukan bibirku agar dia menciumku namun dia menolaknya.
"No Bar. Aku tidak ingin menyakiti perasaan Barry."
"Fuck Barry. I don't care about him as long as i stay beside you darling. I love you. I just love you, Justin. Only you." Kusentuh wajah mulus Justin yang sangat kurindukan sejak lama.
"Kau tahu kenapa aku berpacaran dengannya? Karena aku ingin melupakanmu. Seorang Justin Bieber biadab yang meninggalkanku demi seorang Selena Gomez wanita jalang."
"But where's she? She left you huh? Jadi sekarang kau menyendiri?"
"Let me drive you h-"
"Let me finish my words first. See, you get mad when i mentioned her. You just only want me, right? Yes and i want you too baby. Forget about Barry and Selena. Fuck them. It's only about you and me."
* * * * *
End of part 20
Maaf banget post nya kelamaan :( aku selama ini latihan peradilan semu dan jarang buka2 sosmed. Makasih masih ada yg mau baca. Kadang suka cek masih aja ada yang vote2 story aku makasih banyak. Love u semuaaaa
KAMU SEDANG MEMBACA
I am Your Love Song
FanfictionThe Season 2 (sequel) of "You're a Song To Me" Saara living her new lifes and found someone who stole her heart. How about Justin? Let's find out! [Saara menjalani kehidupan barunya dan menemukan seseorang yang mencuri hatinya. Bagaimana dengan Just...
