The Season 2 (sequel) of "You're a Song To Me"
Saara living her new lifes and found someone who stole her heart.
How about Justin? Let's find out!
[Saara menjalani kehidupan barunya dan menemukan seseorang yang mencuri hatinya.
Bagaimana dengan Just...
Aku mengikuti saran Barry dan mencoba untuk bertemu dengannya lagi. Kuredam rasa benciku padanya dan mencoba menjadi seorang putri yang baik untuk ibuku. Entah itu akan berbuah baik untukku nantinya atau tidak. Setidaknya dia beritikad baik untuk menemuiku.
* * *
"Her kids are really cute." Kutunjukkan foto saudara tiriku dari suami baru ibuku. "My step sisters."
"Kau baik-baik saja? Dengan semua ini?" Tanya Justin mengembalikan handphoneku.
"You already know the answer." Kuberikan senyuman terpaksa pada Justin. Lalu aku memeluknya dari samping.
"She asked me to stay with her. But i refuse ..."
"Kenapa? Bukankah itu langkah yang bagus untukmu dan ibumu?"
"Entahlah. Aku merasa belum siap untuk menjalin hubungan dengan ibuku. Aku masih belum bisa melihatnya dengan suami baru nya ... dengan anak-anaknya."
"Lambat laun kau pasti bisa memaafkannya." Kedua tanganku digenggam olehnya.
* * * * *
Aku berjalan malas mengambil handphoneku yanh berbunyi nyaring. Ternyata dari Barry.
"Hey Bar." Kusapa dia penuh semangat.
"Do you have any schedule for tonight?" Suaranya terdengar sangat... aneh.
"Hmm... sepertinya tidak. Ada apa?"
"Aku mau mengajakmu makan malam, bagaimana?"
"Yang benar? Aku sungguh mau!" Aku berteriak karena terlalu senang. Aku pikir dia tidak akan mengajakku lagi untuk makan malam bersama keluarganya.
"Baiklah, aku akan menjemputmu jam 7. Sampai nanti."
Kutaruh lagi handphoneku di meja dan aku berlari ke kamar untuk mencari baju yang cocok. Akhirnya, aku akan bertemu dengan Iris dan Joe. Namun aku takut juga, karena Joe pasti akan tidak suka dengan aku yang sekarang bersama Justin.
Tak lupa aku mengirim pesan ke Justin bahwa aku akan pergi makan malam dengan keluarga Justin.
-
"Hai." Kupeluk Barry saat dia sudah berada di depan pintu. "Kau terlihat sangat rapi sekali."
"Kau juga terlihat sangat cantik," pujinya saat aku mengunci pintu. Setelah itu kami berjalan menuju mobil.
Setelah sampai, Barry memberiku sebuah sapu tangan.
Aku hanya menaikkan alisku tanda bingung.
"Oh itu untuk menutup matamu. Ini sebuah kejutan."
Dengan malas aku menutup mataku pelan agar riasan mataku tidak rusak.
"Kau tidak akan mengerjaiku kan?" tanyaku memelas. Yang kudengar hanya tawanya dan tidak ada jawaban.
-
Barry menuntunku keluar dari mobil. Kami berjalan entah kemana. Namun perasaanku mengatakan kalau aku tidak dibawa kerumah Barry. Karena selama ini aku hanya berjalan jauh, beberapa kali menaiki tangga, dan sekarang, aku dan dia berada di dalam lift. Sependengaranku.
Aku memilih untuk diam dan membiarkan Barry membawaku kemanapun. Mungkin kami akan makan malam di rooftop sebuah hotel. Untung saka pakaianku sangat rapi dan menarik.
Ting...
Bunyi lift terbuka dan aku dituntun lagi. Kali ini hanya perlu berjalan sedikit lalu kami berhenti. Kudengar bunyi kunci pintu dibuka dan aku dituntun masuk. Sebenarnya aku ini berada dimana?
"Jangan buka dulu matamu saat aku membuka sapu tangan ini, oke?"
Kujawab dengan anggukan pelanku.
Sapu tangan dilepas olehnya dan aku menepati janjiku.
"You may open your eyes," kata Barry yang suaranya terdengar jauh di telingaku.
Kubuka mataku perlahan dan... aku terpana.
Yang ada dihadapanku sekarang ini adalah sebuah meja makan yang didekorasi sedemikian rupa dan banyaknya lilin-lilin yang menghiasi ruangan ini. Tak lupa banyaknya bunga mawar yang berhamburan di lantai. Suasana ini benar-benar sangat romantis.
Namun, tempat ini adalah apartemen aku dan Barry dulu tinggal bersama. Untuk apa Barry menyiapkan semua ini?
"Ayo, duduklah." Barry menarik kursi agar aku duduk.
Setelah aku duduk, dia kedapur dan kembali dengan membawa 2 piring makanan. Aku tidak bisa berkata apa-apa selain diam.
"Ini untukku, dan ini untukmu." Sepirinh spageti sudah berada dihadapanku.
"Aku pikir kita akan makan malam bersama Joe dan Iris." Aku membuka suara. Dia hanya tersenyum tak menggubris perkataanku.
Aku tidak terlalu menunggu jawabannya dan memilih untuk mencicipi spageti buatan Barry. Melakukan hal ini membuatku teringat masa lalu. Saat kami masih bersama.
"Apakah kau masih ingat, saat kau membuat bumbu spageti kau memasukkan garam terlalu banyak?"
Mendengar pertanyaannya tadi aku langsung tersedak. Aku langsung minum dan aku tertawa.
"Hahaha... kau ini. Aku pikir itu gula, jadi aku masukkan saja banyak," kataku sambil menutup mulutku. Barry pun ikut tertawa bersamaku.
Aku jadi terbawa masa lalu. Ternyata nyaman juga dekat dengannya. Dan tempat ini membawa kenangan indah dulu.
-
"Bagaimana kabarmu sekarang?" Dia bertanya saat kami sudah selesai makan malam dan berjalan kearah sofa untuk duduk.
"Seperti yang kau lihat sekarang. Aku baik-baik saja," jawabku. Sedari tadi dia hanya diam seperti gelisah.
Tanganku tiba-tiba digenggam olehnya. Aku tidak melarangnya, malah membiarkannya. Aku benar-benar terhanyut dalam masa lalu. Aku rindu saat dia menggenggam tanganku.
Kubiarkan dia mendekat dan mengecup bibirku.
Setelah kulepas, kami saling memandang canggung. Entah apa yang dipikirannya. Namun yang pasti dipikiranku, aku sangat merindukan hal itu.
"I've been thinking about you lately...." Dia bertekuk sebelah lutut dihadapanku.
"Maafkan aku yang meninggalkanmu dulu. Semakin aku mencoba untuk melupakanmu, semakin kau yang berada dipikiranku selama ini. Aku menyesal telah melepaskanmu. Aku sudah yakin dengan keputusanku sekarang. Apa kau mau kembali denganku?"
Barry mengeluarkan sebuah cincin dari sakunya. Lalu dia menunjukkan itu padaku. Apa yang harus kuperbuat?
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Bar...," ucapku lirih. "I... i... i can't."
Dengan cepat aku mengajaknya untuk berdiri. Lalu aku mencium bibirnya dan pergi meninggalkannya.