Part 3

330K 19.2K 348
                                        

'*•.¸♡ ♡¸.•*'
✶﹒❀﹒✷﹒✸﹒

Zoe Aston, wanita 25 tahun berparas cantik dengan tatapan mata lembut hanya melamun, memandang satu persatu pelanggan yang tengah menikmati kopi racikannya melalui Bar tempat ia meracik kopi. Walau Cafe tempatnya bekerja ini tidak terlalu besar, namun karena letaknya yang berada di jantung kota dengan lokasi strategis dan kudapan serta racikan kopi yang terkenal enak, membuat Cafenya itu cukup banyak dikunjungi orang. Terutama saat jam istirahat kantor dan jam pulang kantor.

Sambil menopang dagunya dengan tangan, Zoe sejenak melupakan segala problema di kepalanya. Setidaknya, kepuasan pelanggan yang menikmati kopinya dapat menghibur suasana hati Zoe sementara waktu dan rehat sejenak dari perang yang terjadi di kepalanya.

"Zoe, kamu terlihat berbeda hari ini." Felice, waitress sekaligus teman Zoe itu membuyarkan lamunan Zoe.

Zoe memutar tubuhnya menghadap Felice. "Benarkah? Aku tidak merasa seperti itu."

Gelagat Zoe yang berbeda tentu tak akan disadari oleh dirinya sendiri kecuali orang lain. Zoe yang biasanya ceria hari ini malah terlihat banyak melamun dan hal itu membuat Felice agak khawatir apalagi beberapa hari Zoe sempat tak masuk.

"Kau terlihat banyak melamun hari ini."

Seakan baru menyadarinya, Zoe menyunggingkan senyum singkat. "Aku hanya sedang merindukan orang tuaku. Itu saja."

Felice terdiam. Hidup jauh dari kedua orang tua memang tak selalu mudah, apalagi untuk perempuan seperti mereka. Selain menjadi tulang punggung, mereka juga harus menahan rindu terhadap rumah.

"Oke ... jika ada sesuatu kau tau 'kan di mana tempat untuk bercerita?"

Zoe mengangguk. "Tentu ..."

Felice tersenyum seraya mengelus bahu Zoe, ia kemudian kembali ke dapur di mana tempatnya bertugas.

Seperginya Felice, Zoe kembali berusaha fokus. Waktu senggang memang membuatnya rawan untuk melamun dan oh, syukurlah ada pelanggang baru datang. Tiga orang pria berpakaian serba hitam dengan raut datar memasuki Cafe hingga menyita perhatian beberapa pelanggan. Namun yang lebih mencolok dari ketiga orang tersebut adalah lelaki berkepala plontos yang berjalan di tengah dengan menggunakan kacamata hitam tanpa ekspresi di wajahnya. Tiga orang itu berjalan menuju Bar di mana Zoe berada.

Walau agak ngeri karena penampilan dan ekspresi mereka yang layaknya robot, Zoe berusaha memasang wajah seramah mungkin. "Selamat siang, mau pesan apa?"

Lelaki berkepala botak itu melepas kacamatanya kemudian menatap wajah Zoe lekat. "Apakah saya bisa bertemu dengan pemilik Cafe ini?" Katanya tanpa berbasa-basi.

Seketika Zoe tercenung, mungkinkah mereka adalah renternir? Apakah Bob memiliki hutang yang banyak? Tapi sejak kapan? Selama Zoe bekerja ia merasa Cafe selalu baik-baik saja. Apalagi Bob tidak pernah aneh-aneh.

Oh sial! Orang berpakaian serba hitam ini membuatnya berspekulasi macam-macam.

"Maaf sebelumnya, kalau boleh tahu Tuan-tuan ini dari mana?" Bukan bermaksud ingin tahu, hanya saja Zoe perlu mengetahui identitas mereka terlebih dahulu sebelum memberitahu Bob. Apalagi penampilan mereka itu tidak biasa.

Sebelum pria plontos menjawab, Bob tiba-tiba muncul dan hal itu menyita perhatian Zoe.

"Ada apa Zoe?"

"Bob, ada yang ingin bertemu denganmu." Lalu Zoe beralih pada ketiga lelaki itu. Mereka dan Bob saling menatap satu sama lain dan nampaknya Bob pun tidak mengenal mereka. Namun akhirnya Bob dengan ramah tersenyum.

Mr. Dangerous ✔ (New Version)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang