Part 34

141K 10.9K 209
                                        

'*•.¸ ¸.•*'
✶﹒❀﹒✷﹒✸﹒

Entah sudah berapa banyak ungkapan cinta dari para lelaki yang Zoe terima selama ini. Mulai dari di bangku sekolah hingga menjadi barista, tak terhitung berapa banyak pria yang mencoba mendekatinya. Zoe begitu cantik juga memiliki aura yang positif dan hal itu membuat dirinya mudah disukai oleh banyak orang. Tapi meski demikian bukan berarti Zoe menerima mereka dengan mudah, justru Zoe hanya memiliki satu mantan kekasih dan itu pun berhasil membuatnya trauma selama bertahun-tahun sampai Zoe memilih untuk menyendiri sebelum akhirnya ia bertemu dengan Marius Kneiling.

Lalu sekarang, secara tiba-tiba Zoe mendengar Marius mengungkapkan perasaannya.

"Aku menyukaimu, Zoe ...."

Zoe mendengarnya dua kali dan ia yakin Marius sangat sadar untuk mengatakan itu. Dia bahkan kini tengah menatap Zoe dengan lekat, membuat Zoe sampai hampir kehilangan keseimbangannya untuk berpijak jika saja Marius tak segera menangkap lengannya.

Perlahan lelaki itu mengulas senyum di bibirnya. Ia menundukkan pandangan sebelum kembali menatap mata Zoe.

"Aku tau ini pasti sangat mengejutkan."

Bibir Zoe terbuka tapi ia tak tahu harus berkata apa selain bergerak gugup.

"Tidak apa. Kamu tidak perlu menjawabnya." Marius melepaskan tangannya kemudian ia hendak melangkah pergi tapi Zoe segera meraih tangan Marius.

"Sejak kapan?"

Marius membeku. Perlahan ia menoleh pada Zoe. "Aku ... tidak tau. Aku tidak bermaksud membuatmu tak nyaman, Zoe. Maafkan aku ...."

Zoe sejenak membisu dengan tatapan menunduk berusaha menahan gejolak hatinya yang tidak karuan. Matanya tiba-tiba saja memanas, ternyata Marius memiliki perasaan yang sama dengannya. Tapi Zoe tak mampu mengatakan itu semua. Rasanya begitu sulit sampai akhirnya Zoe kembali menatap mata Marius, melangkah maju, menangkupkan telapak tangannya di rahang lelaki itu, lalu Zoe berjinjit dan menyatukan bibirnya dengan bibir Marius.

Sontak Marius membeku tapi ia kemudian segera menghadapkan dirinya dengan Zoe, memiringkan kepalanya dan perlahan membalas ciuman Zoe. Pagi itu menjadi ciuman keempat mereka dan kali ini berbeda dari sebelumnya. Tidak tergesa-gesa, tak ada paksaan, hanya gerakan lembut dan kecupan manis yang mereka berikan satu sama lain.

Marius hampir menggila jika ia tak berusaha menahan dirinya. Ia pun melepas ciumannya untuk memandang wajah Zoe penuh damba kemudian kembali diciumnya bibir Zoe. Tangannya bergerak lembut mengelus surai hitam Zoe. Tak peduli kalau keduanya kini sedang berada di dapur yang mana siapapun bisa tak sengaja melihatnya.

"Marius." Zoe berbisik seraya menahan dada Marius. Dirinya kini bersandar pada konter dapur sementara Marius menghimpit di depannya.

Marius mengambil satu langkah mundur untuk membuat jarak antara dirinya dengan Zoe. Kemudian Marius menundukkan pandangannya setelah menyadari apa yang terjadi. Selanjutnya bagaimana? Dalam benak Marius muncul pertanyaan tersebut. Usai ciuman ini ia tentu tak akan bisa bersikap seperti sediakala lagi pada Zoe.

"Aku tidak bisa, Zoe." Marius menggeleng samar. "Aku tidak bisa."

"Marius?"

Mr. Dangerous ✔ (New Version)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang