'*•.¸♡ ♡¸.•*'
✶﹒❀﹒✷﹒✸﹒
Hah ....
Sorot mata Marius menatap frustasi ranjang besar yang tengah di dudukinya. Ia yang hanya mengenakan celana hitam panjangnya saja—menunjukkan tubuh kekar dengan bentuk otot perut sempurna hasil latihan fisik rutinya—menggeleng pelan kemudian mengacak rambut secara asal.
Sialan!
Maki Marius dalam batinnya.
Di sana, di ranjang yang sama seorang perempuan tertidur hanya dengan balutan selimut untuk menutupi tubuh polosnya yang meringkuk membelakangi Marius. Dari deru napas dan gerakan bahu yang naik turun secara teratur, wanita itu terlihat sangat nyenyak seakan ia sedang berada di ranjangnya sendiri.
Mata Marius terpejam berusaha mengingat apa yang terjadi semalam hingga membuatnya teledor seperti ini, sebab dalam kamus hidupnya, tak pernah sekali pun Marius membiarkan tubuhnya dijamah oleh wanita asing hanya untuk kepuasan satu malam. Oh membayangkannya saja begitu menjijikan.
Seketika matanya terbuka lebar dan kini rasa sesal memenuhi batinnya. Wajahnya perlahan menunduk, ia memijat pelipisnya untuk meredakan pening di kepalanya. Satu tangannya mengepal kuat sampai-sampai otot tangannya tercetak jelas, ia melirik wanita itu dengan sengit. Ingin rasanya Marius berteriak kencang menuntut penjelasan pada wanita itu. Namun, tak mau repot-repot mengotori tangannya sendiri, ia memutuskan beranjak dari ranjang, memungut kemeja dan memakainya. Seraya mengancingi kemeja, ia men-dial angka di ponselnya yang langsung terhubung kepada seseorang.
"Pedro," katanya setelah panggilannya tersambung.
"...."
"Ya, Ritz Carlton. Jemput aku lewat jalur khusus. Tidak jangan bawa tim keamanan. Hanya kau. Baiklah cepat." Marius melirik wanita asing itu lagi. "Dan Pedro, bawakan aku koper uang serta belikan ponsel baru. Tidak, sudah jangan banyak tanya. Aku menunggumu segera!" Marius memutuskan panggilan teleponnya. Ia menggulung lengan kemejanya sampai siku lalu mengambil jas ribuan dollar-nya dan mengibas-ibaskannya seolah tengah berusaha membuang kotoran yang menempel di sana.
Tatapan Marius menghunus tajam ke arah wanita itu, ada sorot merendahkan di dalamnya. Dalam hatinya ia berdecak, siapapun wanita itu, Marius akan berusaha membungkamnya dengan berbagai cara, sebab Marius yakin, ada yang ingin mengambil keuntungan dan menjatuhkan dirinya dengan insiden ini. Baik itu orang lain atau mungkin wanita itu sendiri. Terlebih siapapun tahu bahwa betapa sulitnya menyentuh Marius Kneiling, jangankan rival bisnisnya, bahkan bagi para wanita pun tidak mudah menaklukan seorang Marius, dia benar-benar menjaga teritorialnya dan tidak membiarkan sembarang orang memasuki kehidupannya.
Getaran ponsel membuyarkan lamunan Marius dan segala prasangka di kepalanya. Pesan dari Pedro menyampaikan bahwa ia sudah sampai di depan pintu kamar hotel. Marius segera beranjak membuka pintu lalu ia melihat Pedro membawa tas belanja beserta koper yang tentunya berisi uang dengan jumlah banyak.
"Kau datang sendiri?" Marius memastikan.
"Ya, Tuan." Pria plontos dengan perawakan kekar itu mengangguk tegas.
"Bagus. Sini."
Pedro memberikan koper uang dan tas yang berisi ponsel baru kepada Marius kemudian lelaki itu kembali masuk, meletakan koper besarta tas belanja dengan logo Apple di atas ranjang, tepat di mana Marius tidur.
Dahi Marius mengerut, ia baru menyadari ada bercak noda merah di atas sprei tersebut. Seketika tubuhnya membeku, hanya beberapa detik sampai Marius kembali sadar dan segera beranjak.
Apakah tidak apa-apa meninggalkannya seperti ini? Pikirnya. Ia benar-benar seperti bajingan brengsek dan pengecut. Meninggalkan seorang wanita dengan sekoper uang dan tas belanja setelah mengambil hal yang paling berharga di hidupnya.
Marius menggeleng cepat, tidak! Ia tidak brengsek. Ini adalah caranya dan begitu pula yang mungkin wanita itu inginkan. Siapapun pasti menyukai uang.
Orang-orang tahu siapa Marius Kneiling, selama hidupnya Marius dikenal sebagai pria yang bebas dari skandal apapun. Berasal dari keluarga terpandang yang masuk dalam daftar konglomerat terkaya. Levelnya jauh berbeda dari golongan kaya biasanya, sebab ia memiliki garis keturunan bangsawan, kakek buyutnya dikenal sebagai pemilik gurita bisnis yang kemudian diturunkan pada orang tuanya lalu kini Marius. Old money, itu adalah julukan yang diberikan pada keluarga Kneiling. Namun dari semua keluarga Kneiling, Marius yang paling diperhatikan oleh khalayak. Dari kalangan muda hingga tua, sosoknya begitu dikenal karena wajah tampan nan kharismatiknya yang sering muncul di televisi/media sosial. Walau begitu, tidak mudah mendekatinya dan saking tidak tersentuhnya, Marius sampai-sampai mendapat julukan sebagai Mr. Dangerous oleh salah satu majalah yang pernah mewawancarainya.
Sepanjang hidup Marius, tidak ada media yang pernah memberitakan hal negatif tentang dirinya, ia dipuji sebagai sosok yang sempurna. Oleh sebab itu Marius tak akan membiarkan masalah seperti ini menghancurkan dirinya terutama reputasi keluarga Kneiling yang selama ini dikenal terhormat.
"Pedro, selidiki tentang wanita itu." Marius memberikan ponsel keluaran lama yang terlihat usang milik wanita itu. "Dan ini, buang saja. Aku tidak mau memakainya lagi," ucap Marius seraya memberikan jas yang ia kenakan semalam.
"Baik, Tuan."
Kaki jenjang Marius pun melangkah lebar meninggalkan kamar hotel menuju jalur khusus, menghindari orang-orang yang mungkin mengenal dirinya dan melihatnya pagi-pagi seperti ini muncul di Hotel tentu akan menimbulkan tanda tanya. Apapun itu yang pasti Marius enggan menimbulkan asumsi. Dirinya yang selalu menjadi sorotan membuatnya harus selalu memperhatikan langkah dan gerak-geriknya dengan hati-hati. Sebab jika muncul cacat sedikit saja, maka semuanya bisa hancur berantakan. Baik itu kedudukan Marius dalam dunia bisnisnya atau pun keluarganya.
Oh dan jangan lupa pada perempuan asing dengan sekoper uang dan tas belanja yang masih berada di kamar hotel.
Segalanya sudah ditakdirkan dan setelah ini semuanya tak akan sama lagi.
✶﹒❀﹒✷﹒✸﹒
KAMU SEDANG MEMBACA
Mr. Dangerous ✔ (New Version)
Romance(New Version, 2024) Media menyebutnya sebagai Mr. Dangerous. Dia disebut berbahaya sebab pribadinya dikenal begitu sempurna. Ketampanan, kekayaan, citra yang sangat baik, dia memiliki semuanya. Kharisma dan pesonanya mampu menghipnotis siapapun yang...
