'*•.¸♡ ♡¸.•*'
✶﹒❀﹒✷﹒✸﹒
Tubuh Zoe meregang setelah ia bangun dari tidur nyenyaknya. Entah sudah berapa jam ia terlelap, tapi Zoe merasa ini adalah tidur terbaiknya. Mungkin karena ia sangat lelah? Atau mungkin karena selimut yang terasa sangat lembut membungkus tubuhnya, bantal dan ranjang yang begitu empuk seakan bisa menelan tubuhnya. Juga udara yang terasa segar dan sejuk di kulitnya.
Zoe membuka mata dan yang pertama ia lihat adalah langit-langit kamar dihiasi lampu kristal sejajar dengan ranjangnya. Zoe mengedarkan pandangannya, benar juga. Mungkin sekarang ia sudah berada di kediaman baru Marius dan ini adalah kamarnya. Saat Zoe menyingkap selimut ia baru menyadari bahwa pakaiannya sudah berganti dengan piyama sutra. Ekspresi Zoe tentu terkejut, siapa yang mengganti pakaiannya semalam?! Zoe berusaha mengingat-ngingat dan memori terakhirnya semalam adalah di dalam mobil itu, kemudian gelap. Sudah pasti Zoe tertidur di mobil lalu dibawa masuk ke kamar ini. Tapi siapa yang mengganti pakaiannya?!! Tidak mungkin Marius bukan? Hahah.
Buru-buru Zoe beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum ia menemui Marius dan menginterogasinya.
⎯⎯ ୨ ୧ ⎯⎯
Di kursi makan, Marius menikmati sarapannya yang terdiri dari secangkir kopi dan sepiring pancake dengan taburan buah-buahan di atasnya. Walau sudah dewasa dan berkepala tiga, selera Marius terhadap makanan masih seperti anak kecil. Ia menyukai makanan manis. Dilanjutkannya sesi sarapan seraya mengecek pekerjaan di tabletnya, untuk beberapa hari ke depan ia memutuskan tidak masuk kerja. Tentu saja, Marius baru menikah dan kalau ia langsung masuk kerja, dirinya pasti akan dicap sebagai orang gila yang gila kerja. Oleh sebab itu, untuk menghindari label tersebut Marius memiliki ide yang tentunya melibatkan Zoe.
Oh, wanita itu. Dia pasti masih terlelap di kamarnya, kelas sosial memang sangat menentukan kehidupan seseorang. Sejak kecil Marius sudah dituntut harus bangun pagi, sangat pagi sekali bahkan sebelum matahari terbit. Begitu matanya terbuka maka dia sudah disuguhkan dengan berbagai aktivitas yang menyibukkannya seharian sampai matahari terbenam. Anak-anak dari keluarga kaya cenderung memiliki waktu bermain terbatas, atau bahkan tidak ada. Mereka justru dituntut untuk jadi dewasa sebelum usianya. Seperti Marius yang saat berumur 10 tahun sudah diajarkan tentang istilah-istilah bisnis dan politik. Belum lagi berbagai bahasa yang perlu ia kuasai untuk berkomunikasi dengan para calon rekan bisnisnya. Bagi Marius, waktu bermainnya adalah saat bersama Amber. Ketika dia diam-diam bermain di taman disela pelajaran sosial dan manner-nya.
Beruntungnya Zoe, mengingat keluarga wanita itu yang begitu hangat, dia pasti memiliki masa kecil bahagia. Belum lagi ia tinggal di pedesaan jauh dari hiruk pikuk perkotaan yang menyesakkan. Sungguh kehidupan yang selama ini Marius impikan.
Marius kembali menyeruput kopinya. Walau terbuat dari biji kopi Black Ivory terbaik yang ia impor langsung dari Thailand Utara, namun rasanya tetap berbeda. Ini hanya soal selera, tapi bagi Marius racikan kopi di Cafe tempat Zoe bekerja adalah yang terbaik. Haruskah ia meminta wanita itu membuatkannya?
Lamunan Marius buyar ketika ia mendengar langkah kaki yang berjalan menuju ke arahnya, ia menoleh dan terlihat Zoe yang muncul mengenakan shirt dress Hermès berwarna cokelat muda. Zoe menarik kursi duduk di sebelah Marius.
"Kau kemanakan semua baju-bajuku?" Zoe rupanya sudah siap memulai perdebatan di saat pagi seperti ini.
Marius meletakkan tabletnya. "Sudah aku buang."
"Apa?!!" Pekik Zoe sangat terkejut.
"Semua bajumu tidak bagus, sudah usang dan tak layak pakai. Kamu memiliki selera fashion yang buruk."
KAMU SEDANG MEMBACA
Mr. Dangerous ✔ (New Version)
Romance(New Version, 2024) Media menyebutnya sebagai Mr. Dangerous. Dia disebut berbahaya sebab pribadinya dikenal begitu sempurna. Ketampanan, kekayaan, citra yang sangat baik, dia memiliki semuanya. Kharisma dan pesonanya mampu menghipnotis siapapun yang...
