Part 22

196K 14.1K 103
                                        

'*•.¸♡ ♡¸.•*'
✶﹒❀﹒✷﹒✸﹒

Ada kalanya panggilan dari Adrian terdengar bagai peringatan darurat dan itu terjadi ketika seseorang dalam keluarga Kneiling melakukan kesalahan. Kini Marius bisa menebak apa yang tengah terjadi hanya melihat lewat ekspresi tegang Bibi-nya yang berdiri di depan ruang kerja Adrian. Tanpa menyapa ia hanya melirik wanita itu yang seolah meminta pertolongan melalui tatapan matanya. Marius pun membuka pintu ruang kerja Adrian dan langsung disuguhkan dengan pemandangan Sawyer bersama Jace yang tengah duduk menghadap Adrian dengan ekspresi muram. Pandangan Sawyer dan Jace teralih menuju Marius yang berjalan memasuki ruangan sementara Andrian hanya bergeming ke arah lain dengan tatapan tajam.

"Aku akan segera mengurus kepindahan Jace ke Filipina."

"Ayah!" Sawyer menyela tak terima, ia memajukan posisi duduknya. "Aku mohon, beri kesempatan Jace sekali lagi untuk bekerja di perusahaan. Aku janji dia tidak akan melakukan kesalahan lagi seperti ini."

Marius menempati single sofa di antara kakeknya dan pamannya, bersamaan dengan itu tatapan Andrian tertuju pada Sawyer yang tengah memandangnya dengan putus asa.

"Berapa kali lagi aku harus memberi anakmu kesempatan? Sudah berapa banyak kerugian yang dia sebabkan? Anakmu tidak berbakat untuk bekerja di perusahaan. Hanya itu masalahnya dan masalah seperti itu harus segera disingkirkan."

"Ayah, aku tau Jace tidak sebaik Marius dalam mengurus perusahaan. Tapi dia juga selama ini berusaha yang terbaik ayah." Sawyer merangkul bahu anaknya. "Dia bahkan rela keluar dari sekolah seni-nya dan memilih jurusan bisnis karena ingin membantu bisnis kelurga kita."

Seakan sudah tidak mempan lagi dengan rayuan Sawyer. Adrian dengan tak acuh beralih menatap Marius yang sedari tadi hanya diam menatap meja di hadapannya.

"Bagaimana masalah dengan Sub kontraktor itu?"

"Aku sudah meminta Pedro untuk melacak keberadaannya. Kemungkinan dia melakukan pencucian uang melalui salah satu galeri seni dan Wilson tengah menyelidikinya."

Terdengar helaan napas berat Andrian, ia sejenak memejamkan mata dengan erat dan kembali menatap Sawyer juga Jace.

"Mungkin bagi kalian uang 2,3 miliar itu bukan apa-apa. Tapi bagaimana dengan nasib pekerja di lapangan? Karena masalah ini, mereka terpaksa harus berhenti bekerja dan kehilangan mata pencaharian. Berbeda dengan kalian yang hanya duduk beberapa menit saja tanpa melakukan apa-apa namun masih memiliki banyak uang. Jadi aku tegaskan, jangan pernah lagi sepelekan masalah sekecil apapun sebab itu bisa berakibat fatal."

Sawyer dan Jace langsung memucat, tubuh mereka membeku tak berani berkutik lagi di hadapan Adrian yang baru saja melemparkan fakta pahit kepada mereka. Memang tak bisa dipungkiri bahwa kesalahan Jace sebagai Manager Utama Kontraktor benar-benar fatal, ia tidak teliti dan terlalu sibuk mengurusi hal lain sampai-sampai lengah jika seseorang sudah menggelapkan dana perusahaan. Kesalahan kedua ia membuat perusahaan mengalami kerugian dan harus mencari sub kontraktor baru agar proyek tetap berjalan dan selesai sesuai dengan tenggat waktu yang sudah ditentukan. Jace sudah tak bisa lagi membela diri sehingga sedari tadi yang dilakukannya hanya diam menerima makian kakeknya dan membiarkan ayahnya menjadi juru bicara dirinya. Pikiran Jace bahkan sudah tidak berada di sini lagi, ia membayangkan bagaimana dirinya nanti berada di Negara lain seorang diri, jauh dari orang tua, dan tidak mengenal siapapun.

"Aku sudah selesai. Kalian bisa keluar."

Sawyer dan Jace mengedip bersamaan. Sawyer kemudian lebih dulu beranjak dengan berat hati dan kepala menunduk, ia menepuk bahu anaknya untuk turut pergi dan keduanya pun melangkah. Keluarnya dari ruang kerja Adrian, Sawyer melirik Sabine dengan tatapan pahit lalu mengatakan, "Segera persiapkan kepindahan Jace. Dia akan dikirim ke Filipin untuk mengurus kantor cabang di sana."

Mr. Dangerous ✔ (New Version)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang