'*•.¸♡ ♡¸.•*'
✶﹒❀﹒✷﹒✸﹒
Di ruang kerja yang begitu luas Adrian duduk di kursi singgasana sementara Marius berdiri di hadapannya. Tatapan Adrian terlihat tak senang, ada emosi yang ia sembunyikan dibalik wajahnya dan Marius sudah hafal semua itu. Dia memang sering kurang ajar terhadap kakeknya, tapi ketika pria tua itu tengah menunjukkan amarahnya, Marius bisa sedikit melunak dan mendengar perkataan lelaki itu. Bagaimana pun selama ini hanya Adrian yang cukup memperhatikannya di rumah saat ibunya sibuk bekerja. Justru dari Adrian-lah Marius banyak belajar, tentang caranya bersikap, memperlakukan orang lain, serta menyelesaikan masalahnya. Oleh sebab itu Marius lebih hafal sikap kakeknya dibandingkan ibunya.
"Kamu terlihat sangat sehat untuk tidak menghadiri rapat itu." Adrian menatap dengan teliti.
"Aku mengalami demam tinggi saat berada di Mykonos, Dokter memintaku untuk istirahat terlebih dahulu, karena itu aku harus menunda penerbangan. Maafkan aku, kakek." Marius membubuhkan permintaan maaf usai penjelasan singkat. Ini adalah strateginya untuk mempersingkat pembicaraannya dengan Adrian.
"Apakah kamu tidak melakukan cek kesehatan? Berapa banyak dokter yang keluarga kita miliki? Apakah kamu lupa kalau bahkan kita memiliki dokter gizi sendiri?"
Pertanyaan yang membombardir itu berhasil membuat Marius menciut, ia sedikit menundukkan wajah tak berani menatap kakeknya. "Aku akan melakukan cek kesehatan secepatnya."
"Kamu sangat mengecewakan."
Singkat, padat, dan menyakitkan. Begitulah cara Adrian memberi pelajaran kepada Marius selama ini. Kata-katanya tak pernah gagal untuk menjatuhkan mental Marius. Tapi tenang saja, Marius sudah kebal dengan itu semua.
"Jangan sampai aku menganggapmu tidak berguna, Marius."
Marius masih terdiam.
"Aku selalu bilang kepadamu, bahwa seorang penerus Keluarga Kneiling tidak boleh terlihat lemah."
Rahang Marius mengetat. Ia sudah bosan dengan kata-kata itu. Selanjutnya Marius sudah bisa menebak apa yang akan kakeknya katakan.
"Ingat, ada banyak pihak yang siap menjatuhkanmu."
Iya, tenang saja, Marius sangat mengingat hal itu.
"Selagi kamu masih bisa bernapas, tidak ada alasan untuk meninggalkan pekerjaan. Apalagi ini adalah rapat penting bersama stakeholders."
Marius berusaha untuk tidak mendengus keras. Ia menggigit bagian dalam bibirnya.
"Jangan sampai aku menyuruh Jace untuk menggantikan posisimu."
Mendengar nama itu membuat mata Marius langsung menyala tajam. Justru Jace-lah yang tengah berusaha menjatuhkannya, sampai kapanpun Marius tak akan sudi memberikan posisinya kepada Jace. Tak akan pernah.
Terdengar seringai tajam Adrian yang disertai dengan dengusan. "Semua ini gara-gara wanita itu."
Tatapan Marius sontak terangkat menuju kakeknya.
"Pernikahan kau dengan wanita itu palsu. Tidak usah bersikap seolah kalian pasangan yang sesungguhnya. Walau aku membiarkanmu menikahi wanita itu, bukan berarti aku akan tinggal diam. Lakukan apa yang seharusnya kau lakukan, setelah masalahmu selesai, segera ceraikan dia."
Satu tangan Marius mengepal erat, ia menelan saliva dan menatap Adrian tanpa berkedip. "Kakek kira aku tidak tahu?"
Adrian terdiam.
"Kakek sengaja mengadakan rapat itu 'kan?"
Adrian tak menjawab, ia lantas membuang wajahnya ke samping seolah tak ingin lagi mendengarkan cucunya. Ia sudah selesai mengatakan apa yang ingin dia katakan. Tetapi tidak dengan Marius. Cucunya justru kini tengah menatap Adrian dengan tajam.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mr. Dangerous ✔ (New Version)
Storie d'Amore(New Version, 2024) Media menyebutnya sebagai Mr. Dangerous. Dia disebut berbahaya sebab pribadinya dikenal begitu sempurna. Ketampanan, kekayaan, citra yang sangat baik, dia memiliki semuanya. Kharisma dan pesonanya mampu menghipnotis siapapun yang...
