Part 30

204K 13.8K 166
                                        

'*•.¸ ¸.•*'

"Apakah artinya malam ini kita tidur berdua?"

Perkataan Marius membuat mata Zoe hampir saja melompat keluar. Zoe benar-benar tak menyangka Marius bisa bicara seperti itu. Ada apa dengannya malam ini? Siapa sebenarnya lelaki yang ada di hadapan Zoe itu? Dia pasti bukan Marius 'kan?

Zoe reflek menjauh dan memandang Marius kikuk. "Apa maksudmu?!" Ucapnya masih dengan nada berbisik agar Theodore tak bisa mendengar percakapan mereka.

"Kita tidak mungkin tidur di kamar terpisah bukan? Bagaimana jika Theodore melihat?"

Raut wajah Zoe perlahan melunak. Ah, ternyata karena itu alasannya. Benar juga apa yang Marius katakan.

"Zoe? Marius?"

Bersamaan keduanya menoleh ke arah Theodore yang memanggil mereka. Baik Zoe dan Marius kini memasang senyum tipis di bibir mereka.

"Theo, duduklah dulu selagi aku menyiapkan kamarmu." Zoe lantas melenggang pergi begitu Theodore mengangguki perkataannya.

"Theo, mau minum teh bersamaku?"

Tatapan Theo beralih pada Marius, ia pun kembali mengangguk. "Tentu," ucapnya kemudian mengikuti langkah Marius menuju area kolam renang kediamannya.

Keduanya duduk bersebelahan seraya menikmati pemandangan langit malam yang terlihat cerah. Ini adalah pertama kalinya Marius dan Theodore duduk berdua. Mereka belum membuka suara dan sibuk dengan pikiran masing-masing hingga pelayan datang membawakan teh untuk mereka.

"Zoe pasti sangat malu dengan apa yang sudah terjadi." Theodore membuka topik pembicaraan lebih dulu dan itu membuat Marius yang tengah menyeruput teh lantas meletakkan cangkirnya. Ia tahu ke mana arah pembicaraan Theodore.

"Kenapa kamu berpikir seperti itu?"

"Hari ini aku bertemu dengan Zoe di suatu acara amal dan aku adalah penerima sumbangan itu. Aku tidak tau kalau ternyata Zoe turut hadir di acara yayasan tersebut. Salahku tidak memberitahunya lebih dulu."

Marius sejenak terdiam. Ia perlahan menghela napasnya. Dialihkannya pandangan ke depan. "Aku yakin Zoe pasti tidak pernah merasa seperti itu. Dia justru lebih mengkhawatirkanmu."

Theodore termenung mendengar ucapan Marius. Benar. Bagaimana pun keluarganya sejak dulu Zoe tidak pernah merasa minder atau malu. Walau teman-temannya dulu bisa memiliki apapun yang orang tua mereka berikan, Zoe tak pernah sekali pun menuntut orang tuanya. Di tengah kesibukannya menuntut ilmu, Zoe bahkan tak sungkan untuk bekerja paruh waktu atau membantu orang tuanya dengan tulus. Sebaik itu diri Zoe dan Theodore hampir melupakan pribadi adiknya hanya karena ia sudah menikah dengan lelaki yang berasal dari kelurga kaya raya.

"Benar ...." Theodore melirih seraya mengalihkan pandangannya dari Marius.

"Kamu tidak perlu mengkhawatirkan apapun, Theo. Zoe akan baik-baik saja."

Theodore mengangguk. Ia tersenyum samar seraya melirik Marius lewat ekor matanya. "Terima kasih, Marius ... terima kasih juga untuk bantuanmu selama ini."

Marius bergeming, kedua alisnya reflek terangkat. Ia menahan diri agar tak menatap Theodore. Baru kali ini ada seseorang yang mengucapkan rasa terima kasih setulus itu dan hati Marius seketika menjadi hangat mendengarnya.

Mr. Dangerous ✔ (New Version)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang