Part 41

167K 12.5K 158
                                        

'*•.¸ ¸.•*'
✶﹒❀﹒✷﹒✸﹒

Di dalam ruang rawat Adrian terbaring lemah dengan berbagai alat penunjang kehidupan yang terpasang di tubuhnya. Matanya yang sedikit terbuka melihat Marius melangkah memasuki ruanhannya. Adrian berusaha meraih tangan Marius, tetapi ketidakmampuan membuatnya hanya bisa menggerakkan jari-jari tangannya sengat lemah. Jangankan menggerakan tubuhnya, bahkan hanya untuk bernapas saja Adrian kesulitan.

Marius yang melihat gerak jari tangan Adrian lantas meraihnya. Ia menatap Adrian sangat lekat, rasanya begitu pilu melihat kondisi Sang kakek yang selama ini Marius tau baik-baik saja namun ternyata sebenarnya tersiksa.

"Kakek ...." Marius memanggil dengan suara tertahan ditenggorokan karena rasa sesak yang muncul di dadanya.

Bibir Adrian sedikit terbuka seakan ingin mengatakan sesuatu tapi ia terlihat begitu susah payah. Sampai akhirnya hanya suara bisikan yang lolos dari bibirnya. "Mm ... Ma ... Mateo ...."

"Mateo?" Marius mengulang perkataan kakeknya.

"Sam ... paikan... maaf ... ku ... pa ... da ... nya ...."

"Siapa Mateo, Kakek?" Marius menunduk lebih dekat agar dapat mendengar lebih jelas perkataan kakeknya.

"Ma...af...kan... a...ku... Mar...rius ...."

"Kakek?" Sorot mata Marius menjadi panik melihat Adrian yang tiba-tiba kejang. Marius makin mengeratkan genggaman tangannya. "Kakek?! Kakek!! Kakek!!!" Berkali-kali Marius berusaha menyadarkan Adrian tapi justru dia perlahan-lahan mulai kehilangan kesadarannya hingga akhirnya Marius menekan tombol untuk memanggil petugas medis, tepat setelah itu ketika Marius kembali menatap Adrian, kakeknya sudah terpejam dan terdengar dengingan monitor yang panjang.

Tubuh Marius membeku, pintu kamar tiba-tiba  terbuka dan beberapa dokter serta petugas medis yang lain masuk berlarian, mereka mulai mengecek kondisi Andrian. Sementara itu dengan tatapan kosong terpaku pada kakeknya, Marius perlahan melangkah mundur lalu ia keluar dari ruang rawat dengan kondisi seperti orang linglung, masih berusaha memproses apa yang terjadi. Batin Marius merasa sesuatu buruk akan terjadi dan rasanya ia belum siap untuk menghadapi itu.

"Marius!" Mata Marius mengerjap begitu melihat Sawyer, Jace, serta Sabine muncul di hadapannya yang baru saja keluar dari kamar rawat. Tapi begitu melihat kehadiran Grace yang juga berdiri dengan jarak cukup jauh di depan sana, tatapan Marius langsung terpaku padanya. Akhirnya ibunya itu muncul juga usai sekian lama.

"Siapa Mateo?" Pertanyaan itu lolos dari bibir Marius dan sontak Sawyer begitu juga dengan Grace langsung membelalak mematung.

Sebelum ada yang menjawab pertanyaan Marius, pintu kamar rawat kembali terbuka dan terlihat Dokter keluar dari sana dengan ekspresi penuh sesal sebab apa yang akan disampaikannya merupakan kabar buruk untuk semua yang berada di depan ruangan malam itu.

⎯⎯ ⎯⎯

Zoe keluar dari mobil yang membawanya menuju Rumah Duka. Dari pintu masuk sampai ke lorong bagian dalam terlihat jejeran papan bunga berisi ucapan turut berduka. Ia pun buru-buru melangkah melewati para pelayat yang juga akan masuk ke sana. Zoe sekuat tenaga menahan air matanya, dalam pikirannya ia hanya ingin segera bertemu dengan Marius. Begitu sampai di dalam, Zoe melihat keluarga Marius kini tengah menatap dirinya yang baru sampai. Ia memandang mereka satu per satu. Untuk pertama kalinya Zoe melihat wajah Sawyer yang murung dan kelelahan, Sabine dengan mata sembab dan bengkaknya, Jace dengan tatapan kosong, sementara Grace, ekspresi wanita itu dingin seperti biasa. Zoe tidak bisa membaca raut wajah ibu mertuanya itu, entah dia bersedih atau mungkin biasa saja dengan situasi ini. Namun, bukan itu yang terpenting, di dalam sana Zoe justru tak melihat kehadiran Marius.

Mr. Dangerous ✔ (New Version)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang