Panik. Satu kata yang dirasakan Gretta saat ini. Keduanya tidak tahu apa yang mereka hadapi adalah sebuah sungai yang dalam walau terbilang tidak besar. Semuanya malam itu tidak terlihat karena minimnya cahaya yang tertutupi dedaunan pohon-pohon tua.
"Goldie!" Panggil Gretta sambil melepas hoodie yang dipakainya.
"Cepet woy! Gue nggak bisa berenang!"
Suara cowok itu beradu dengan suara riakan air. Ia memang tidak bisa berenang, dan satu-satunya harapan Goldie sekarang adalah tangannya yang berotot tapi tidak bisa mengayuh itu. Ia menciptakan berbagai gerakan supaya tidak tenggelam.
Gretta meraba sekitarnya, sebelum ia nekat terjun untuk membantu Goldie. Ia tidak peduli lagi dengan apa pun. Nyawa cowok itu ada bergantung padanya sekarang.
"Di!" Panggilnya lagi, mencoba meyakinkan dirinya di mana cowok itu berada. Suara riakan air tidak terlalu membantunya.
"Gre!"
Setelah yakin, Gretta mencoba mempertajam instingnya dan terjun. Sungai tersebut memang dalam, ia bahkan tidak bisa merasakan dasarnya. Ia berenang ke arah Goldie, hingga tangannya menyentuh tangan cowok itu. Syukurlah Goldie tidak terlalu jauh.
Tanpa aba-aba, Goldie memeluk Gretta yang sekarang kesusahan karena badan Goldie yang hampir menenggelamkannya. Gretta berusaha supaya keduanya tetap mengapung.
"Balik! Peluk punggung gue!" Perintahnya kepada Goldie dan langsung dilakukan cowok itu.
"Gerakin kaki lo! Jangan didiemin! Berat!" Keluh Gretta dan kembali langsung dilakukan cowok itu tanpa pikir panjang.
Gretta berusaha membawa keduanya ke tepi. Setelah Goldie berhasil naik kembali ke daratan, ia pun mengikuti. Goldie melepas parkanya dan melempar benda itu sembarangan. Ia benar-benar merasa malu atas malam ini dan semua kejadian yang terjadi. Pertama, ia mengakui kalau ia tidak tahu kemana akan membawa Gretta dan dirinya. Kedua, ia tidak bisa berenang dan gadis itu harus menolongnya. Dan ia bahkan berteriak minta tolong kepada Gretta.
Perasaan gengsi lagi-lagi menghantuinya. Tidak. Ia tidak boleh berterimakasih kepada Gretta sekarang. Nanti saja. Mungkin.
Di sisi lain, Gretta paham apa yang Goldie rasakan. Ia pernah hampir tenggelam di kolam renang pada saat umur 7 tahun. Hal yang membuatnya giat belajar berenang. Rasanya sangat tidak enak dan itu membuat Gretta mengerti perasaan Goldie saat ini. Ia memiliki ide.
"Di?" Panggilnya.
"Hm." Gumaman kecil Goldie terdengar jelas baginya.
Ia melangkah mendekat ke arah Goldie yang ternyata sudah duduk jauh dari tepi sungai itu. Ia duduk dengan kepala tertunduk. Gretta tidak melihatnya, bahkan ia tidak bisa melihat betapa pucatnya Goldie sekarang. Hoodie yang tadi dilemparnya sebelum terjun ke sungai, diambilnya.
"Buka baju lo." Pinta Gretta.
Goldie menurut. Tidak ada perlawanan sama sekali. Tidak ada bantahan bahkan sekedar heran mengapa Gretta menyuruhnya dan ia menurut saja tidak. Pikirannya benar-benar kosong dan ia malas berdebat. Itu hanya membuatnya semakin malu dan tak tahu berterima kasih.
Gretta memberikan hoodie-nya kepada Goldie. Cowok itu memakainya sebagai ganti kaosnya yang basah. Gretta sendiri tidak peduli dengan tubuhnya yang sendirinya dingin. Setidaknya cowok itu merasa lebih baik. Itu tujuannya.
Gretta mengambil duduk di sebelah kanan Goldie dan membuka percakapan, sekali lagi, ini hanya untuk membuat orang yang tadi hampir tenggelam, merasa kembali baikan.
"Gue juga dulu pernah mau mati tenggelam, di kolam renang rumah gue." Ia mulai bercerita tentang pengalaman buruk itu.
"Waktu itu gue masih tujuh tahun. Papa sama mama gue udah larang buat ke kolam kalau nggak ada mereka. Tapi, gue tetep keras kepala karena gue kira kolamnya dangkal. Karena memang kelihatannya kaya gitu kan dari atas."
KAMU SEDANG MEMBACA
Goldie vs Gretta
JugendliteraturGoldie tentang Gretta "Gue gak paham itu anak, di antara semua cewek di sekolah, cuma dia yang benci gue sebegitu bencinya. Iya sih gue suka gangguin dia, dari dulu. Soalnya anaknya lucu kalau lagi ngamuk, kaya Harimau Betina. Tapi selucu apa pu...
