"Gretta, untuk kamu saya akan berbicara blak-blakan saja karena kamu sudah saya anggap seperti anak sendiri, dan untuk James yang tidak tahu anak perempuannya yang mengunjungi paman sendiri. Mengeluh dengan berkata kalau dirinya sakit jiwa."
"Pertama, kamu tidak sakit jiwa. Hanya saja ada sedikit hal yang mengganjal dalam diri kamu. Secara medis sering dibilang sebagai..."
"Enosimania."
Frans menghela napasnya begitu Gretta membuka mulut.
"Kamu sudah paham kamu tidak gila. Kamu sudah hampir lepas dari hal itu, namun, kenapa kamu kembali dan mengatakan hal-hal yang tidak masuk akal?"
Gadis yang duduk di hadapan Frans memilin ujung bajunya dan kembali merasakan perasaan yang menikam jantungnya ketika memikirkan orang itu. Matanya mulai berkaca-kaca setiap mengingat orang itu dan kembali napasnya panjang-pendek, susah dikendalikan oleh diri sendiri.
"Aku belum lepas dari alkohol. Aku kemarin ketemu orang itu, dok." Ucapnya sambil merasakan air mata jatuh ke pipi.
Frans hanya menyaksikan Gretta yang kembali lemah dengan sabar. "Lalu kamu mencium pipi Mikhal teman kamu?"
"And now i feel so bad for him. For them."
"Beserta Goldie?"
"Dok, jangan sebut nama dia." Rintih Gretta, kini napasnya sesak dan ia sudah menangis.
"Gretta, tenangkan diri kamu. Atur napas kamu." Pinta Frans yang diikuti gadis itu.
Gretta menghirup oksigen yang ada di ruangan berwarna cokelat muda, tempat mereka sekarang. Gadis itu menghembuskan napasnya sambil mengusap dada, berharap sakit itu segera hilang.
Frans menawarkan tisu dan segera gadis itu gunakan. Kembali Frans melanjutkan ucapannya seperti yang selayaknya ia berikan pada keponakannya itu. "Saya kira kamu sudah memaafkan diri kamu sendiri dan sudah bisa bijaksana menyikapi peristiwa ini. Kamu tidak bersalah, Get."
"Aku salah, dok. Karena aku, banyak hal jadi kacau."
"Tidak, nak."
"Karena aku, semua orang jadi musuhan. Mereka malu. Mereka jadi bahan bicaraan."
"Gretta, kita tidak sedang membicarakan kilas balik cerita kamu sekarang."
"Dok, semua itu masih bikin aku takut!" Gretta berseru sambil menggenggam tangannya kuat-kuat. Rasa bersalah itu kembali menjadi-jadi dalam dirinya.
"Tenangkan diri kamu. Kamu tidak akan segera sembuh kalau kamu masih menyiksa diri seperti ini. Gretta, percuma terapi kita selama empat bulan lamanya kalau kamu sendiri masih memikirkan kesalahan kamu saja. Saya sudah bilang, bukan hanya kamu yang jadi penjahat pada masalah ini."
"Tapi aku yang paling berperan besar buat semua kekacauan ini, dok. They all hurting."
"So are you."
"Tapi, rasa sakit mereka lebih besar daripada aku."
"Mereka nggak dibully seperti kamu. Cukup. Jika kamu nggak ada keinginan sembuh, maka enosimania kamu nggak akan hilang."
Gretta mengusap pipinya yang sudah memerah dan basah akibat menangis, "Dok, aku mau sembuh," ucapnya kemudian.
"Akan saya bantu." Ucap Frans sambil melihat pada kertas berisi coretan berbagai macam perkembangan terapi yang telah mereka lakukan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Goldie vs Gretta
Ficção AdolescenteGoldie tentang Gretta "Gue gak paham itu anak, di antara semua cewek di sekolah, cuma dia yang benci gue sebegitu bencinya. Iya sih gue suka gangguin dia, dari dulu. Soalnya anaknya lucu kalau lagi ngamuk, kaya Harimau Betina. Tapi selucu apa pu...
