"Besok dia ngajak gue pergi, Kee." Gretta menyesap green tea-nya sambil menatap lurus ke depan.
"Bagus dong. Kalian makin deket." Jawab Keegan senang.
Gretta tersenyum hampa, "gue nggak boleh lebih dari temen ke Goldie, Kee."
Cowok itu menatap sahabatnya yang tidak menatapnya balik itu dengan heran. Keegan melihat bagaimana bingungnya Gretta dan bagaimana ia benar-benar berkeras menutup hatinya. Ia perlu tahu alasannya dan sudah berdoa dalam hatinya jika bukan alasan itu yang membuat Gretta tidak bisa menerima orang lain di dalam hatinya.
"Kenapa nggak boleh? Nggak mungkin banget kan alesannya karena nggak direstuin sama bunda Larry? Seinget gue terakhir kali gue lihat mereka ketemu tuh, nyokap lo kaya seneng banget sama anaknya." Keegan sengaja menipiskan alasan yang akan diberikan Gretta dan membuat gadis itu menghela napasnya kasar.
"Keegan, gue suka sama orang lain dan gue sayang sama orang itu. Gue nggak bisa lagi suka sama orang lain selain dia. Gue cuma mau orang itu, Kee. Alesan kenapa gue nggak pernah pacaran dari SMP karena cuma orang itu yang gue tunggu."
Jawaban dari Gretta membuat Keegan sedikit takut jika orang yang dimaksud benarlah Ache. Keegan mencari pertanyaan lain untuk memastikan semuanya.
"Lo nggak pernah cerita tentang yang ini." Ucap Keegan sambil menatap Gretta malas.
Cewek itu hanya tersenyum kecil tidak bermakna karena senyum itu tidak mengekspresikan dia sedang bahagia. Melainkan mengeskpresikan betapa sabarnya dia menunggu dengan harapan yang menggebu.
"Gue nggak bisa cerita, Kee. Karena kalau gue cerita ke lo, semua yang gue tutupin selama ini bukan hal kecil."
Tidak mengerti, Keegan mengusap kepala cewek itu lembut. "Sabar ya. Tapi gue bilang dari sekarang sih, lo boleh nunggu orang yang lo mau perjuangin, tapi lo nggak boleh lupa sama orang yang mau perjuangin lo."
Cewek itu terkekeh dan bersandar di pundak sahabatnya yang sangat pengertian itu, "siap, boss."
💀
Harusnya minggu siang menjadi waktu istirahat Gretta. Namun, karena Goldie sudah berjanji akan menjemputnya untuk pergi ke suatu tempat yang ia tidak tahu, Gretta membatalkan istirahatnya. Ini semua juga karena keusilannya kemarin. Hari ini ia kembali harus membayar semuanya.
Ia mengenakan celana pendek berwarna biru tua dan kaos kebesaran berwarna putih serta ada beberapa bagian yang sobek pada baju itu, model kekinian. Gretta sangat santai dengan sneakers berwarna sama dengan bajunya. Sukurlah pada jalan-jalan kali ini, James dan Hillary sedang bertugas ke luar kota. Kalau mereka ada, mungkin reaksi kedua orang itu akan semakin menjadi-jadi.
Kini ia sedang menatap takjub sebuah gedung besar di depannya dengan Goldie yang berdiri di sebelahnya. Sebuah kantor percetakan majalah ternama yang mungkin mempunyai dua puluh lantai karena menjulang tingginya gedung itu. Ia heran setengah mati kenapa Goldie membawanya ke sini, dan nampaknya tadi Goldie memarkirkan mobilnya di parkiran khusus pegawai.
Goldie mengenakan kaos berwarna putih dengan luaran bomber jacket kesayangannya dan lagi-lagi jeans yang sama berwarna biru. Jika saja Gretta mengenakan bomber jacket, keduanya mungkin akan seperti pasangan yang senang memakai pakaian couple. Memikirkan anehnya kebetulan itu membuat Gretta ngeri dan Goldie sangat senang
"Kok kita ke sini?" Tanya Gretta mengikuti langkah kaki Goldie yang panjang dengan tergesa-gesa.
Angin siang itu menerbangkan rambutnya dan matahari membuat rambut kecokelatan itu berkilau indah. Dapat Goldie cium harum shampo yang Gretta kenakan saat angin berpihak padanya. Jika saja Gretta adalah miliknya, mungkin rambut itu akan menjadi sarang untuk hidung Goldie selama yang ia mau. Wanginya sangat menenangkan dan Goldie sangat suka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Goldie vs Gretta
Novela JuvenilGoldie tentang Gretta "Gue gak paham itu anak, di antara semua cewek di sekolah, cuma dia yang benci gue sebegitu bencinya. Iya sih gue suka gangguin dia, dari dulu. Soalnya anaknya lucu kalau lagi ngamuk, kaya Harimau Betina. Tapi selucu apa pu...
