Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

"what if i say i don't know?"

12.2K 665 14
                                        

Jika ada satu hal yang Goldie tidak percayai di dunia ini adalah berteman dengan Gretta, maka hal itu sungguh sudah terjadi. Ia sendiri bingung kenapa dia terlalu ingin dekat dengan cewek galak dengan mulut pedas itu. Mungkin rasa itu muncul setelah kejadian yang membuat Gretta menjadi penyelamat hidup Goldie di sungai. Ia yakin hanya itu alasan kenapa ia perlu berbaikan dengan Gretta. Bukan yang lainnya. Ia hanya perlu membalas budi dengan budi.

Hari pertama dijalani cowok itu dengan tidak mengganggu siapa-siapa di sekolah, bahkan ia hanya menjawab seperlunya pertanyaan dari guru-guru yang masuk kelas. Tidak banyak tingkah seperti biasanya. Masih ingat kenapa Goldie melakukan ini? Ya. Ia hanya ingin berkomunikasi dengan baik kepada Gretta.

Cowok itu akan menatap Gretta jika emosi dan segala ketengilannya yang akan timbul. Setiap melihat mata cokelat gelap itu yang balik menatapnya dengan alis terangkat, Goldie akan berusaha untuk tidak menjadi orang yang menyebalkan.

Sekarang jam istirahat, Gretta tidak berniat ke kantin sehingga Jean pergi bersama dengan Ghea. Ia tidak melihat siapa-siapa di kelas, hingga dijajarkannya empat buah kursi terdekat darinya, membentuk sebuah tempat untuk ditidurinya.

Ia membuka tas dan mengambil Milk and Honey karya Rupi Kaur dan membaca puisi-puisi dari perempuan muda yang merupakan seniman favoritnya. Gretta membaca sambil berbaring, ia bahkan tidak menyadari Goldie sekarang duduk di kursi di depan mejanya.

"Baca sambil tiduran bisa bikin mata rusak loh."

Gretta mencoba untuk tidak peduli dengan ocehan Goldie, ia tetap membaca buku itu. Tidak tahu kenapa, perubahan Goldie membuatnya takut akan sesuatu. Cowok itu ternyata bisa jadi orang yang baik.

"Elah, guenya udah ngajak ngomong nggak diladenin. Gue udah nggak nyebelin tetep dikacangin."

Gretta langsung menutup bukunya dan bangkit untuk duduk. Rambutnya yang tergerai sedikit acak-acakan karena habis berbaring asal. Ia menatap cowok itu sebentar kemudian tersenyum.

"Percobaan hari pertama, not bad." Ucap Gretta kemudian tersenyum kecil.

Goldie pun ikut tersenyum, "sukur deh. Padahal mulut gue udah gatel pengen ngerjain bu Lusi."

Gretta terkekeh, "tai lo."

Cowok itu senang karena mereka bisa berkomunikasi dengan normal seperti ini. Ternyata ini kunci hati Gretta, orang yang tidak menyebalkan dan orang yang baik. Mungkin Goldie harus menjadi orang yang seperti ini.

"Nih gue bawain makanan. Gue lihat di kantin lo nggak ada, dan gue tahu lo pasti belum makan." Goldie menyerahkan sebuah kotak bekal yang berwarna merah jambu dan bergambar kelinci.

"Di?" Panggil Gretta sambil menahan tawa.

"Hm?"

"Seriously?"

"Apaan?"

"Kotak makan lo kelinci?" Ucap Gretta sambil memperhatikan kotak itu dan meledek Goldie.

Goldie menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba gatal. "Ng... Itu..."

"Dari fans ya?"

Goldie mengangguk malu.

Gretta tertawa kecil masih tidak percaya Goldie akan membawa kotak makanan itu berjalan menyusuri sekolah. Goldie dengan kotak bekal berwarna merah jambu? How cute!

"Nggak deh! Buat lo aja." Ucap Gretta menolak.

Goldie menatap Gretta malas. Cewek itu selalu saja menolak tawarannya. Ia menyodorkan kotak makanan itu kepada Gretta.

Goldie vs GrettaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang