Goldie merutuki dirinya semalaman. Ia mengacak rambutnya gusar mengingat kebodohannya siang tadi. Ia ditemani Ares yang kini sedang menghisap rokoknya di balkon kamar Goldie dan ia masih terus menjahili sahabatnya itu.
"Like seriously, Di? Dari banyaknya pertanyaan dari kamus playboy lo yang biasanya jago ngibulin cewek, waktu berhadapan sama laki, dan laki ini adalah atlet basket provinsi, Randy Hardiputra, pertanyaan yang lo keluarin sepayah itu?"
Goldie memutar matanya kesal kemudian melempar Ares dengan remot tv. "Anjing sakit!"
"Gue koreksi. Pertama, gue nggak punya kamus playboy karena sejak kapan gue jadi makhluk menjijikan yang satu itu? Oke gue terima untuk fakta ngibulin ceweknya, tapi gue bukan playboy. Kedua, wajarlah gue minta tanda tangan sama atlet!" Ucap Goldie tak mau disalahkan.
"Iyain." Balas Ares singkat sambil terkekeh.
"Tai lo. Gue ngomong panjang lebar cuma di-iyain. Nggak bestfriend goals lo, Res." Ucap Goldie pura-pura kecewa.
"Anjeng! Kebanyakan mantengin timeline lo homo!"
"Yayang Ares!" Seru Goldie manja membuat sahabatnya itu menatapnya ngeri.
"Bajingan lo nggak usah kaya gitu ya babi! Gue kutuk lo jadi homo beneran tau rasa lo entar!"
Goldie mendekati Ares dengan tatapan menggoda, sontak Ares langsung melempar kembali remot tv tepat di kepala sahabatnya itu.
Plak!
"Bangsat lo babi!"
"Sadarkan Goldie ya Tuhan!"
Goldie menatap Ares emosi dan mengusap pelipisnya yang mungkin akan biru setelah ini. Goldie segera meninggalkan Ares yang masih shock akan kelakuan sahabat gilanya yang satu itu menju ke kamar mandi.
Goldie berteriak dari dalam kamar mandi,
"Anjing, Res! Pelipis gue yang tampan benjol woy!"
Ares tertawa terbahak-bahak hingga perutnya sakit, Goldie keluar dari kamar mandi dengan raut wajah yang tak jauh beda sebelum masuk. Ia langsung menuju ke dalam walk in closet-nya dan mencari sebuah hoodie abu-abu yang belum dikembalikan itu. Goldie memakainya dan berjalan menuju kasur, menghempaskan diri di sana dan mengacungkan jari tengahnya ke arah Ares.
Dalam dua bulan ini, hoodie Gretta yang selalu dipakainya sebelum ia tidur. Aneh. Tapi Goldie suka.
Ares hanya menggeleng melihat tingkah sahabatnya itu, ia terlupa ingin mengatakan sesuatu.
"Eh besok gue sama Rey nggak sekolah. Soalnya si Damian mau lamar Diamond."
Goldie yang semula ingin tidur kembali terduduk dengan besar-besar mengucapkan, "hah?"
Ares mengangguk mantap, "mereka bakal lamaran di rumah gue, ini private party sih. Cuma keluarga aja yang dateng..."
"Ntar! Damian sama Diamond tuh siapa?"
Ares kaget. "Kita temenan udah satu tahun, dan lo nggak tahu Diamond itu siapa?"
Goldie menggeleng. "Siapa?"
"Kucing gue, tai!" Seru Ares dramatis.
"Jadi kucing lo bakal dilamar sama kucing Rey besok? Kucingnya Rey mau ke rumah lo? Anjir!"
Kini gantian Goldie yang tertawa terbahak-bahak karena kekonyolan dua sahabatnya itu. Perjodohan kucing dengan kucing? Hal itu membuat Goldie setengah mati tergelak.
"Serah deh. Pokoknya besok gue sama Rey nggak masuk." Ucap Ares masa bodoh kemudian mengambil kunci mobilnya dari nakas dekat kasur Goldie.
"Oke."
KAMU SEDANG MEMBACA
Goldie vs Gretta
Teen FictionGoldie tentang Gretta "Gue gak paham itu anak, di antara semua cewek di sekolah, cuma dia yang benci gue sebegitu bencinya. Iya sih gue suka gangguin dia, dari dulu. Soalnya anaknya lucu kalau lagi ngamuk, kaya Harimau Betina. Tapi selucu apa pu...
