Selama di bioskop hanya Gretta yang fokus ke film. Sementara cowok itu, ia sama sekali tidak menonton film yang menurutnya membosankan itu. Ia lebih memilih mencuri pandang ke arah gadis yang duduk di seat di sebelahnya. Hidung mancungnya sangat jelas dari tempatnya saat ini. Sukurlah selama ia memandangi Gretta cewek itu tidak pernah menyadarinya. Goldie hanya menonton film itu jika kissing scene-nya dimunculkan.
Laki-laki.
Setelah selesai menonton, keduanya langsung pulang. Gretta membawa mobil sendiri dan begitu pula Goldie. Tapi tahu bagian manis dari Goldie yang membuat Gretta bergidik ngeri? Cowok itu menghantar Gretta hingga ke parkiran.
Gretta berpikir bahwa Goldie sudah mulai gila dan berlebihan. Ia cukup heran dengan perubahan dari seseorang yang dulunya sangat menginginkan Gretta mati tertabrak truk, sekarang malah berbaik hati dan bersikap layaknya a true gentleman menghantar Gretta ke tempat di mana mobilnya terparkir.
Aneh! Dan lagi-lagi gue nggak suka! Pikir Gretta.
💀
Artis SMA Brighten yang terkenal akan kenakalannya itu sekarang turun sekolah lebih awal. Biasanya ia akan menyogok satpam sekolah dengan gorengan bu Nani jika sudah kesiangan. Kali ini, tukang sapu sekolah sangat heran karena dikiranya Goldie adalah anak baru di sekolah mereka, tak pernah melihat cowok itu turun sekolah saat ia bekerja sebelumnya.
Hanya jam turunnya saja yang berubah, tampang dan gaya penampilannya sama sekali tidak. Rambut hitamnya panjang dan acak-acakan seperti tidak pernah disisir. Baju putihnya bersih, tapi tidak dimasukkan ke dalam celana dan sedikit gantung. No dasi, no ikat pinggang.
Sukurlah ia punya jurus seribu langkah untuk menghindari guru BK yang sudah mengincarnya dari awal semester. Dan sukur juga ia sangat pintar. Sehingga guru-guru susah untuk menegur tingkah Goldie yang pernah membuat beberapa guru perempuan menangis karena dikerjai.
Goldie berjalan santai di sepanjang koridor, merasakan sejuknya pagi dan segarnya udara karena belum ada yang merasakannya selain dia seorang. Ia merayakan pagi ini tidak seperti pagi-pagi yang lain. Entah apa yang membuatnya begitu semangat untuk sekolah, berbeda dengan hari-hari lain. Mungkin hari ini dan seterusnya tidak akan ada bolos-membolos seperti biasa. Ia lebih memilih untuk tinggal di kelas dan hidup layaknya anak-anak biasa. Ya. Hanya itu alasan Goldie ingin menghabiskan waktunya di kelas.
Ia berjalan menyusuri koridor dan memasuki kelasnya yang berada di lantai dasar. Ia menuju ke mejanya yang terletak di pojok sebelah kanan dan ia mengedarkan pandangannya ke bangku-bangku yang lain. Kelas masih sepi karena hanya dia sendiri yang sudah hadir pagi ini.
Goldie melepas tasnya dan duduk. Ia mengambil handphone-nya, membuka aplikasi musik dan memutar Gravity milik John Mayer. Ia menatap bangku yang letaknya sejajar dan berjarak beberapa meter dari tempatnya. Goldie jujur, ia tidak sabar menunggu cewek dengan mata cokelat itu datang.
Sadar tidak sadar, ia sudah jauh menyimpang dari tujuan awalnya. Sepertinya obrolan yang sempat mereka bicarakan akhir-akhir ini, tidak akan pernah membuat Goldie puas untuk mendengar suara ketus Gretta.
💀
Gretta berjalan tergesa menuju kelas. Ia sudah terlambat sepuluh menit dan pasti pak Toni, guru olahraganya yang disiplin itu akan menghukumnya. Sudah terbayang di kepalanya akan berlari keliling lapangan sebanyak dua puluh kali, ia bergidik.
Sesampainya di kelas, Gretta melihat keadaan kelas sudah sepi, tanda anak-anak yang lain sudah keluar. Jika ia mengganti pakaiannya ke toilet, waktu yang ia keluarkan akan semakin banyak. Cepat-cepat Gretta membanting pintu, menguncinya, dan mengeluarkan pakaian olahraganya dari tas. Gorden-gorden di kelas semuanya tertutup, tanda teman-teman perempuannya juga sebelumnya berganti pakaian di sini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Goldie vs Gretta
Teen FictionGoldie tentang Gretta "Gue gak paham itu anak, di antara semua cewek di sekolah, cuma dia yang benci gue sebegitu bencinya. Iya sih gue suka gangguin dia, dari dulu. Soalnya anaknya lucu kalau lagi ngamuk, kaya Harimau Betina. Tapi selucu apa pu...
