Dentuman musik dari DJ yang berada di panggung menyambut kedua makhluk yang baru saja berjalan masuk ke dalam kelab malam yang terletak di atas rooftop sebuah bangunan terkenal di kota mereka. Goldie melihat bagaimana ramainya orang yang datang dan sekarang sudah asik sendiri dengan kubu-kubu yang tercipta di beberapa sofa. Tidak sedikit pula yang berdansa di dance floor. Tidak terlalu sesak di sana, tapi ia takut kehilangan Gretta hingga ia mengaitkan jari-jari mereka kemudian menuntun jalan.
Tidak seperti kali pertama atau kali keberapa Goldie memegang tangannya, kali ini Gretta sudah tidak terkejut. Ia tidak lagi seperti tersengat listrik. Jantungnya tidak lagi perlu memompa terlalu cepat. Ia merasa ini sudah benar dan ia tahu jika Goldie adalah orang benar untuk memegang tangannya. Ia merasa nyaman dan aman, sekali lagi karena Goldie dan karena jarinya ditangkup oleh jari cowok itu. Sebagai seorang teman, Goldie sudah membuktikan ia baik. Walau pun, tidak ada teman yang mencium temannya sendiri.
Karena hal itu terlintas di pikiran Gretta, ia langsung mencoba mengenyahkannya dan kembali pada realita.
"Kita ke tempat Ache kan?" Tanyanya pada Goldie, berharap cowok itu mengerti ia tidak mau ke mana-mana selain bertemu dengan Ache.
"Udah pasti."
Jawaban singkat dengan gaya yang keren itu membuat Gretta diam dan mengikuti langkah Goldie. Tempat itu tidak luas, tapi rasanya waktu berjalan sangat lamban hingga untuk bergerak beberapa meter saja perlu belasan menit. Mungkin karena fans keduanya yang mulai mengerumuni dan menyapa mereka di setiap sudut tempat itu.
Pernahkah dijelaskan bahwa Goldie dan Gretta memang sudah banyak disenangi oleh orang-orang? Oleh kaum yang berlawanan dari gender mereka masing-masing hingga kaum mereka sendiri?
Gretta karena keberanian, ke-to the point-an, kebaikan, kecerdasan, kejudesan—yang bahkan aneh untuk disukai—, dan kecantikannya. Goldie karena ketampanan, otak, dan banyak hal yang bisa membius semua perempuan. Keduanya memiliki kharisma yang terlalu kuat untuk tidak jatuh ke dalamnya.
Kharisma itu, makin menguar karena malam ini model dadakan yang sedang hangat dibahas oleh kota datang bersama-sama dalam setelan yang sangat serasi.
"Goldie..."
"Gretta..."
"Wah dateng berdua ya..."
"Eh, Ta, inget nggak kita pernah satu latihan basket bareng dulu...."
"Pacaran ya?"
"Goals banget anjir..."
"Gue mau cowoknya..."
"Seksi gila..."
Pertanyaan, bisikan, hingga desisan tidak suka dan pujian memuja membuat mereka bingung harus bagaimana. Jujur, Gretta tahu ia dikenal, tapi ia tidak nyaman jika terlalu ditekan seperti ini. Ditekan oleh pertanyaan, ocehan, dan lain sebagainya yang datang dari orang-orang yang ia tidak kenal.
Raut wajah gadis itu tersenyum, tapi Goldie tahu jika gadis itu merasa risih. Beberapa kali di perjalanan mereka yang terasa begitu lama itu Gretta meremas jari Goldie tanpa ia sadari. Goldie hanya tersenyum dalam hati sekaligus mengutuk Ache karena cowok itu terlalu susah untuk ditemukan.
"Hei, Gretta!" Seorang cewek berambut panjang berwarna blonde menyapa Gretta dengan berteriak berusaha mengalahkan suara musik sambil melambaikan tangannya.
Jelas, Gretta tidak tahu itu siapa dan ia hanya tersenyum sambil menyapa balik. "Hei!"
Merasa puas karena sudah dijawab, cewek itu tersenyum lebar kemudian pergi. Raut wajah Gretta kembali datar dan Goldie tahu jika gadis itu hanya memalsukan senyumnya. Senyum yang sangat susah didapatkan oleh orang sembarangan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Goldie vs Gretta
Fiksi RemajaGoldie tentang Gretta "Gue gak paham itu anak, di antara semua cewek di sekolah, cuma dia yang benci gue sebegitu bencinya. Iya sih gue suka gangguin dia, dari dulu. Soalnya anaknya lucu kalau lagi ngamuk, kaya Harimau Betina. Tapi selucu apa pu...
