Malam itu berangin dan seperti hendak hujan. Goldie mengenakan tudung kepala hoodie berwarna merah maron miliknya yang bertuliskan 90's Better. Walau dingin masih menusuknya, ia tidak ingin mengamankan diri kembali ke dalam kamar, ia memilih tetap berada di balkon.
Dari saku, ia mengambil rokok dan satu batang mulai dibakar ujungnya. Goldie mengisap benda itu dalam-dalam seakan dengan begitu ia bisa hilang ingatan seketika.
Pikirannya masih saja tidak bertujuan dan ia benci jika akan mengarah pada orang itu. Orang yang mati-matian tidak disukainya, tetapi masih ia perhatikan sampai sekarang. Orang itu tidak akan pernah mengerti efeknya yang membuat Goldie melakukan hal-hal gila yang tidak pernah lelaki itu kehendaki.
Jika tidak ada orang tahu di mana keberadaan orang itu, Goldie adalah orang yang tahu ke mana ia akan pergi dan di mana ia berada. Ditengah caci-makian orang kepada dia, Goldie adalah orang yang teriris hatinya. Tetapi, penyebab kebencian terbesar adalah dari Goldie. Semuanya begitu rumit dan hanya mereka yang membuatnya begitu.
Setelah memadamkan rokok pada asbak yang terletak di sebelah, Goldie beranjak masuk ke dalam kamar untuk melihat hpnya.
03.12
Hpnya menunjukkan waktu yang sudah sangat larut dan lelaki itu belum berniat tidur. Malam ini ia tidak pergi ke kelab seperti biasanya karena belum sanggup melihat wajah orang itu secara langsung, setelah ia dengan gamblangnya mencium Mikha di hadapan Goldie. Goldie tidak cemburu dan tidak akan mungkin cemburu. Hanyalah perasaan jijik karena perbuatannya menunjukkan jika orang itu bersifat murahan. Bibir yang Goldie kira tidak akan lagi menyentuh wajah orang lain ternyata tidak sebegitu istimewanya untuk mendapatkan penghargaan.
Amarahnya kembali berapi-api hingga ia mengusap dahi yang tiba-tiba sakit. Dengan malas Goldie melihat di bar notifikasi pesan dari Maddy dan sosial media berisi orang-orang yang seperti tidak pernah berhenti menyukai postingannya. Ia menghela napas dan tidak membalas pesan-pesan itu, membiarkannya tidak terbaca.
Ia mengetikkan sebuah nama pengguna untuk mencari profil seseorang. Seperti yang selalu dilakukannya selama lima bulan terakhir ini. Setelah pencarian selesai, nampaklah avatar foto orang itu yang tidak berubah sejak lima bulan lalu. Berambut panjang indah tergerai. Goldie dapat melihatnya sekali pun slot penempatan foto itu begitu kecil. Ia tersenyum di avatarnya, sedangkan di foto-foto lain ia tidak banyak berekspresi.
Setelah puas melihat wajah orang itu, Goldie membuka pesan langsung yang pernah mereka saling tukarkan. Pesan singkat-singkat yang ia tak yakin diketik dengan perasaan. Ia tidak tersenyum melihat sejarah percakapan itu, emosinya malah tersulut.
Bangsat lo.
Dan sumpah, malam yang sudah menjelang pagi itu membuat Goldie sangat membenci dirinya sendiri beserta orang yang pernah mengirimkan pesan-pesan sesingkat perjuangan berakhir yang menyedihkan itu kepadanya.
💀
Sore itu Gretta duduk di dekat ibunya di kebun belakang yang dipenuhi dengan bunga. Orang tuanya begitu sibuk akhir-akhir ini dan ia sendiri mengerti. Perihal kebiasaan minum-minumnya, Hillary dan James memang tidak mengetahui jika anak tunggal mereka sering mengonsumsi minuman beralkohol. Kesibukan dan hal-hal yang menyangkut bisnis mereka membuat Gretta sedikit bebas.
"Kamu mau dirayain di mana nanti?" Hillary bertanya, membuka percakapan dengan anak gadisnya itu.
Hal itu membuat Gretta memutar mata dan mendengus, "ma, nggak usah dirayain."
Semula pisau yang Hillary gunakan untuk mengupas apel ia sentakkan pada meja kayu, "beneran kamu nggak mau ngerayain sweet seventeen?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Goldie vs Gretta
Novela JuvenilGoldie tentang Gretta "Gue gak paham itu anak, di antara semua cewek di sekolah, cuma dia yang benci gue sebegitu bencinya. Iya sih gue suka gangguin dia, dari dulu. Soalnya anaknya lucu kalau lagi ngamuk, kaya Harimau Betina. Tapi selucu apa pu...
