Gretta hampir tidak percaya melihat orang itu di sini. Di Brighten! Orang itu berdiri menghadapnya dan tersenyum. Menggunakan kaos dan jeans putih, ciri khasnya yang Gretta hapal. Tidak lupa Converse-nya, yang mungkin tidak pernah kotor, berwarna putih bersih seperti masih baru. Sekarang ia sudah tidak pendek lagi, sekarang Gretta perkirakan tingginya 180cm. Ia semakin ganteng dari terakhir kali bertemu dengan cewek itu, terakhir kalinya ia membuat cewek itu merasakan debaran kencang di dadanya.
Tidak tunggu lama, Gretta langsung menghambur ke arahnya saat ia membuka lengannya lebar-lebar, mengharapkan pelukan cewek itu, sahabatnya. Archery sampai terhuyung ke belakang karena terjangan Gretta. Cowok itu terkekeh dan membelai rambut Gretta dengan lembut. Inilah yang selalu membuat Gretta menyukai Ache, Ache tidak seperti Keegan, Ache lebih lembut dari siapa pun kepadanya. Ache mengingatkannya kepada ayahnya.
Setelah puas memeluk sosok yang sukses membuatnya insomnia setiap malam selama dua tahun ini, ia merenggangkan pelukan mereka.
"Kenapa lo ada di sini?"
Archery tersenyum, "bokap gue pindah lagi."
Deg!
Semudah itu ya pekerjaan orang tua Archery membuat hidup Gretta menjadi terombang-ambing selama dua tahun? Semudah itu pergi lalu datang kembali mempermainkan Gretta yang benar-benar menunggu kedatangan Ache, orang yang disukainya itu? Tidakkah atasan papanya Archery mengerti kalau Gretta sangat tidak mau jauh dari sahabatnya ini?
"Segampang itu?" Tanya Gretta.
Ache bingung, "maksudnya 'segampang itu' apa, Get?"
Gretta lupa kalau Archery tidak mengetahui perasaannya. "Nggak, Che, gue ngawur."
"My stupid, Getta, daydreaming as always. I never forget how ngawur you are di siang-siang begini." Ujar Ache sambil mengacak-acak rambut Gretta gemas.
Cewek itu memerah saat Ache mengucapkan 'my'. Ache menyebutnya sebagai miliknya. Ia meledak-ledak dalam hati dan ledakan itu menyisakan semburat merah di pipinya.
"Cie yang kangen gue, sampai merah gitu mukanya gue godain." Goda Ache sambil mencubit pipi Gretta.
"Anjing, Che! Sakit!" Ringis Gretta.
Ache menyudahi aksinya menjahili cewek itu sambil tertawa puas. "Mulutnya juga nggak berubah. Padahal udah SMA loh."
"Kaya lo berubah aja." Ucap Gretta ketus.
"Ye berubah gue, nyet. Makin tinggi dan ganteng."
"Nah kan kambuh ngeselinnya."
"Ngeselin tapi lo sayang kan?"
Deg!
"Kantin yuk! Kita cari Keegan?" Ajak Gretta mengalihkan topik pembicaraan mereka yang berhasil membuat jantungnya berhenti sebentar.
"Oke bentar. Gue kasi tau nyokap dulu di dalem."
Gretta mengangguk kemudian Ache masuk ke dalam ruang kepala sekolah. Beberapa menit kemudian ia keluar dan merangkul cewek itu, mereka berjalan beriringan mencari Keegan, sahabat mereka yang lain. Mungkin habis ini Keegan akan mencium Ache habis-habisan saking rindunya. Powerpuffs Girls akan kembali.
Tanpa Gretta sadari ia telah meninggalkan seseorang dan hukuman bagi mereka. Orang itu hanya tersenyum kecut melihat semua adegan layaknya orang bodoh. Ia bisa melihat gestur Gretta yang aneh ke cowok itu. Sebuah sikap yang tidak pernah Gretta tunjukan kepada orang lain. Ketergantungan? Mungkin seperti itu.
Ia berpikir sejenak, mungkin sejak insiden di sungai waktu itu, ia melihat Gretta terlalu berlebihan. Sangat-sangat berlebihan. Ia tahu cara Gretta melihat cowok tadi, dan bagaimana reaksi Gretta ketika bertemu cowok itu. Ia tahu dan ia paham.
KAMU SEDANG MEMBACA
Goldie vs Gretta
Ficção AdolescenteGoldie tentang Gretta "Gue gak paham itu anak, di antara semua cewek di sekolah, cuma dia yang benci gue sebegitu bencinya. Iya sih gue suka gangguin dia, dari dulu. Soalnya anaknya lucu kalau lagi ngamuk, kaya Harimau Betina. Tapi selucu apa pu...
