"Saya dan semua guru sangat heran dengan tingkah kamu."
"Saya juga heran dengan ibu dan semua guru."
"Tidak usah menjawab!"
Ina, kepala SMA Brighten, menggeleng-geleng melihat tingkah salah satu siswa di depannya ini. Salah satu tantangan terbesar mereka sebagai pendidik di sekolah itu adalah menghadapi sekaligus menjinakkan siswa yang berperilaku menyimpang. Namun, jika sudah berhadapan dengan anak laki-laki ini, Ina hanya bisa memijit kepalanya pusing harus melakukan apa.
"Semakin hari kamu semakin banyak tingkah." Ucap Ina kepada siswanya yang berpakaian jauh dari kata rapih itu.
"Perasaan ibu aja kali." Sahutnya santai membuat Ina ingin sekali melempar dia dengan telepon di atas meja.
"Saya belum meminta kamu untuk bicara. Apa perlu mulut kamu saya lakban supaya tidak banyak bicara dan merokok lagi?"
Lelaki itu bungkam dan ia hanya membalas tatapan tajam mata Ina yang seakan hendak keluar dari rongga jika tidak ditahan oleh kacamata berbingkai kotak di hidungnya. Entah sudah berapa kali dalam bulan ini, ia dihadapkan pada Ina langsung, bukan lagi guru BK. Ina juga sudah pusing melihat kenakalan siswanya yang semakin hari semakin membuat tekanan darah guru-guru menjadi naik.
"Saya sudah lelah, Goldie. Kamu tahu saya lelah menghadapi kamu dengan anak-anak sejenis kamu. Bisa beri saya waktu untuk tidak memikirkan cara mempertahankan kamu di sekolah ini?"
Goldie tidak menjawab malah memainkan kabel-kabel yang ada di meja Ina. "Saya tahu kamu sekarang sedang mencari perhatian, lagi." Lelaki itu mendongak dan menatap Ina dengan tatapan yang sekarang tak kalah tajam dari perempuan beruban itu.
"Kamu merokok sejak empat bulan yang lalu. Sebulan setelah sahabat kamu..."
"Bukan karena itu. Kalau ibu nggak tahu jangan sok tahu. Perlu ibu ingat, orang yang ibu maksud nggak ada kaitannya dengan saya." Goldie mengelak dan reflek, ia terpicu akan apa yang disampaikan Ina. Hanya karena memikirkan orang itu perasaannya seperti dikejar-kejar dan napasnya seperti hilang.
Ina kaget dengan reaksi Goldie, namun itu merupakan sebuah hal yang mungkin membuatnya sedikit tertantang dengan sesuatu pada diri Goldie. "Kamu mungkin mengelak, tapi kenyataannya seperti itu. Kamu berkata tidak, tapi kamu tidak tahu berapa banyak orang yang sadar dampak gadis itu malang itu pada diri kamu."
"Cukup, bu."
Goldie hendak beranjak dari tempatnya namun Ina menghentikannya. "Jika kamu mau keluar dari kantor saya sebelum saya perintahkan, silakan. Tapi kamu juga harus bersiap juntuk keluar dari sekolah ini. Saya akan melakukan sesuatu yang lebih buruk daripada yang telah kamu lakukam kepada orang yang kamu sayang." Akibatnya, Goldie kembali duduk di hadapan Ina yang merasa menang.
💀
"Gretta ya Tuhan! Udah berapa kali lo nolak Mikha?"
"Sama yang barusan,"
"Enam kali." Jawab Gretta sambil memakan sup buatan Randy yang setiap hari selalu datang, sekali pun si pembuat tidak.
Elle menggeleng-gelengkan kepalanya dan mendecak. "Kalau gue jadi lo, sebelum Mikha nembak gue, gue bakal langsung dengan antusias bilang 'iya'. Coba lo mikir deh, itu Mikha bego!"
Mikha yang dibicarakan adalah anak seorang pengusaha tekstil kaya raya bernama lengkap Mikhal Pieters. Tinggi badan 183cm dengan berat 65kg, Mikha bertubuh atletis dan merupakan salah satu model dari majalah yang juga menaungi Goldie yang juga sempat membawa Gretta. Mikha jelas sudah mengenal Gretta sebelum gadis itu pindah ke sekolahnya, dan merupakan sebuah jackpot karena akhirnya gadis cantik itu pindah ke SMA Ignatius Loyola. Untuk seorang Mikha yang memiliki segala-galanya, ia tidak akan kesusahan mendapatkan Gretta. Tapi penolakan sebanyak enam kali nampaknya menyadarkan Mikha jika Gretta bukan seperti yang dia bayangkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Goldie vs Gretta
Ficção AdolescenteGoldie tentang Gretta "Gue gak paham itu anak, di antara semua cewek di sekolah, cuma dia yang benci gue sebegitu bencinya. Iya sih gue suka gangguin dia, dari dulu. Soalnya anaknya lucu kalau lagi ngamuk, kaya Harimau Betina. Tapi selucu apa pu...
