Kringgg...
Goldie cepat-cepat menutup pintu mobilnya dan berlari ke kelas. Ia berharap hari ini bisa bertemu cewek itu untuk berterimakasih. Sudah dua hari Gretta tidak masuk sekolah karena sakit setelah camping kemarin. Penyebab ia tidak pulang bersama dengan rombongan, papanya sudah lebih dulu menjemputnya setelah pihak sekolah melapor keadaan Gretta yang sakit.
Sesampainya di kelas, cowok itu segera merapikan rambutnya. Tidak tahu mengapa ia melakukannya. Ia merasa tubuhnya melakukan itu karena ia akan bertemu Gretta, tapi ia menepis semua pemikiran itu. Ia masih normal. Ia hanya akan meminta maaf dan berterimakasih kepada gadis itu. Itu saja.
Goldie memasuki kelas yang ribut karena sedang mempersiapkan diri untuk pelajaran bu Vanesa, guru matematika yang tiap hari kerjaannya hanya marah-marah. Matanya langsung mengarah ke pojok sebelah kiri, mencari sosok itu, dan ia mendapatkannya. Sedang berbaring bertumpu di lipatan tangannya yang berada di atas meja. Tidak ada orang yang bersamanya saat itu, bahkan Jean tidak kelihatan.
Cowok itu menarik napas dalam-dalam dan berjalan mendekat ke arah Gretta. Saat tinggal beberapa langkah lagi jaraknya dengan Gretta, bu Vanesa datang dan menegur Goldie yang masih berdiri.
Sial.
💀
"Jadi gimana ceritanya sampai lo sama Goldie tersesat sih, Gre?" Tanya Jean yang penasaran.
Saat camping kemarin, Jean tidak ikut karena ia sakit dan harus di opname di rumah sakit karena kurang cairan. Dan pasti kalian bertanya-tanya di mana Keegan. Cowok itu juga tidak mengikuti camping karena ia dan ketua OSIS, Rafael, harus keluar kota. Mereka berdua harus plœmenghadiri acara yang mengharuskan ketua dan wakil ketua OSIS turut berpartisipasi. Dan kalian juga pasti bertanya-tanya apa reaksi Keegan tentang kejadian itu kan?
Ia hampir memukul Goldie untuk yang kedua kalinya di kantin kemarin.
"Ya gitu. Kita tersesat karena ke-sotoy-annya si goblok." Jawab Gretta sekenanya.
Jean nampak berpikir, "terus katanya Ghea kalian tenggelam ya?"
Gretta menghela napas, "dianya aja yang tenggelam. Gue nggak."
"Si Goldie nggak bisa berenang? Si Songong itu nggak bisa berenang seriusan demi apa?"
Gretta mendelik melihat Jean yang makin ke sini makin kepo, dan bawel. "Kepo banget sih lo kaya dora."
Jean mencebik, "gue dora, lo Boots-nya."
"Serah lu deh, pantat panci."
Jean terkekeh, "receh banget, neng."
Dalam hati Gretta mati-matian tidak ingin mengingat kejadian malam itu. Malam yang membuatnya merasa sudah tidak bisa menjadi orang yang sama setelah itu.
Setelah papanya menjemput malam itu, ia tidak bisa tidur dengan tenang. Goldie dan teriakannya, ucapannya, kejahilannya mendominasi pikiran Gretta. Gadis itu merasa ia sudah tidak normal lagi.
Dalam beberapa waktu ia juga berpikir, mengapa malam itu Goldie tidak membantunya. Saat ia terbatuk karena dadanya terasa nyeri di sebelah tenda, ia tahu Goldie ada di belakangnya. Tapi kenapa cowok itu tidak membantunya? Atau sekedar menanyakan ia kenapa?
Jujur itu membuat Gretta sedikit menyesal telah menolong Goldie. Perlakuan seseorang kepada musuhnya tidak akan pernah bisa berubah. Tidak akan ada yang bisa membuatnya menjadi pertemanan yang digambarkan di fiksi-fiksi remaja yang menjadi bacaan Gretta.
KAMU SEDANG MEMBACA
Goldie vs Gretta
Fiksyen RemajaGoldie tentang Gretta "Gue gak paham itu anak, di antara semua cewek di sekolah, cuma dia yang benci gue sebegitu bencinya. Iya sih gue suka gangguin dia, dari dulu. Soalnya anaknya lucu kalau lagi ngamuk, kaya Harimau Betina. Tapi selucu apa pu...
