Jam yang bertengger di pergelangan Keegan dilirik lelaki itu. Lima belas menit lagi jam tujuh, dan gadis yang akan dirayakan ulang tahunnya akan turun ke ballroom beberapa menit lagi. Setelah berargumen dengan beberapa orang—termasuk Keegan—karena menganggap make up naturalnya kelewat tebal, ia mengalah dan membiarkan si perias untuk menambahkan bahan-bahan yang akan membuat dia sempurna. Keegan tersenyum mengingat bagaimana Gretta yang garang memarahi si perias saat mengaplikasikan eyeliner di kelopak matanya.
"Aduh, kak! Ini kena mata aku! Perih!" Sungutnya dengan gerakan tangan dramatis mengipas-ngipas.
Si Perias hanya mengambilkan tissue dan membersihkan apa yang perlu, "makanya, Gretta, disuruh merem ya merem. Jangan melek. Masa cover girl dimake up kaya gini sih?"
Gretta mendengus, "cover girl jaman kapan?" Tanyanya mencoba meminta penjelasan kepada si Perias tentang fakta yang dia sendiri telah lupakan itu.
"Loh, kamu pernah jadi cover girl buat BOYZ MAGZ kan? Sama partner kamu,"
Gretta terhenyak.
"Goldie." Sambung si Perias datar masih sibuk dengan tangan terampilnya di mata Gretta.
Kebisuan setelahnya tidak membuat si Perias sadar bahwa yang dibahasnya adalah konten terlarang. Terlalu sensitif dan membuat hati orang yang sedang dipermaknya sedikit sakit.
Orang itu seperti tidak bisa keluar dari kepalanya barang satu hari pun.
Keegan yang menyaksikan adegan itu hanya menggeleng, tidak menegur si Perias yang tidak tahu-menahu. Ia memutuskan turun lebih dulu daripada melihat wajah murung Gretta. Di sinilah ia sekarang, menghadap ballroom megah dengan dekorasi elegan, berada di kerumunan teman-teman Gretta yang sama sekali tidak dia kenal. Kecuali, gadis itu,
Elle.
"Elle!" Serunya memanggil si gadis yang pada malam itu berpakaian berwarna hitam. Semua orang mengenakan warna hitam, karena ketentuannya begitu.
Si gadis menoleh, dan mendapatkan Keegan yang kelewat tampan pada malam ini. Lelaki itu berdiri sendiri, di tengah-tengah ruangan dengan satu tangan memegang gelas minuman dan yang satunya dimasukkan ke dalam saku celana. Sadar atau tidak, semua mata gadis-gadis dari SMA Ignatius Loyola daritadi sudah gatal ingin tahu siapa dia.
Dengan perasaan bercampur aduk Elle berjalan menuju Keegan. Pada malam ini, Keegan terlihat begitu maskulin dengan mengenakan kemeja hitam dengan kancing paling atas terbuka, celana bahan, dan sepatu berwarna senada. Rambut cokelat gelapnya di sisir rapih dengan bantuan gel. Elle akan marah jika jodohnya di masa depan tidak seperti Keegan.
"Kenapa? Tersesat lo ya?" Elle bertanya dengan santai, berusaha untuk menetralisir suasana hatinya sendiri.
Dilihatnya cowok itu mendecak.
Mampus lo salah ngomong. Batin Elle langsung bergejolak tak karuan.
"Sejarah dari mana gue tersesat? Lo pikir gue anak TK lagi di mall?"
Elle mengelus dada dan seketika ia tenang, Keegan tidak kesal rupanya. "Sukur deh."
Lelaki itu memiringkan kepalanya, "apanya yang sukur?"
"Lo nggak tersesat."
"Heran, satu-satunya temen Gretta yang normal cuma gue." Ucap Keegan penuh percaya diri, membuat Elle mendengus tidak menjawab. Ia lebih memilih diam.
Atmosfer tidak nyaman tercipta dan Keegan sadar itu karena ucapannya. Ia menoleh ke arah gadis yang sudah tidak tertarik lagi berdiri bersama dengan mengamati sekeliling, mencari pelarian secepat yang ia bisa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Goldie vs Gretta
Ficção AdolescenteGoldie tentang Gretta "Gue gak paham itu anak, di antara semua cewek di sekolah, cuma dia yang benci gue sebegitu bencinya. Iya sih gue suka gangguin dia, dari dulu. Soalnya anaknya lucu kalau lagi ngamuk, kaya Harimau Betina. Tapi selucu apa pu...
