Senja & Jingga

2.4K 107 0
                                        

Semakin hari semakin hancur, bukannya membaik tapi semakin retak. Mungkin, ini adalah sebuah skenario dari Tuhan yang harus dilalui oleh setiap makhluknya. 

Waktu pagi hari merupakan kewajiban seorang pelajar untuk menuntut ilmu disekolah. Karamel telah berangkat lebih dulu dibanding Kennaldy, gadis itu sengaja berangkat lebih awal agar tidak bertemu Kennaldy dan Randy.

Kini Kennaldy hanya menatap rumah Anna, tidak berniat untuk mengetuk pintu apalagi memanggil Karamel. Fikiran nya kacau, ia bingung harus melakukan apa saat ini.

***

Karamel sampai di sekolah disaat pagi buta, kakinya terus melangkah melewati koridor menuju kelas.

Walaupun terasa masih sangat pagi, namun sudah banyak pasang mata yang menatap Karamel ragu dan seperti biasa gadis itu bersikap cuek dan tak peduli akan pandangan mereka.

Kaki nya terhenti ketika tepat di depan pintu kelas. Disana terlihat para wanita yang sedang bergosip ria, termasuk Andien, Jessica, Syasha, dan--- Agatha.

Karamel menatap Agatha acuh sebisa mungkin ia ingin menghindar dari tatapan itu. Karamel melanjutkan langkahnya sampai di kursi yang biasa ia duduki.

"Ka.ra.mel. Lo kan amnesia, harusnya lo ngga perlu masuk. Kasian otak lo! Ntar yang ada lo makin lupa sama kejahatan gue." Bisik Agatha tepat ditelinga Karamel ketika gadis itu baru saja duduk dikursinya

Karamel tersenyum kecut mendengarnya dan terkekeh pelan menatap Agatha.

"GUE.GA.AKAN.LUPA.SAMA.KE.JA.HA.TAN.LO!! Ngerti?!" jawab Karamel pelan namun penuh penekan.

"Udah gue duga! Kalo lo bohongin kita semua!" bisik Agatha

"Terus?  Apa mau lo?"

"Mau gue? Gue mau lo hancur! Hancur, sehancur - hancurnya."

"Coba aja kalo lo bisa! Gue ga pernah ngalangin lo buat hancurin gue."

"Okey. Liat aja nanti."

Agatha pergi dari hadapan Karamel, sedangkan Karamel memilih berkutat pada ponsel miliknya dan membuka aplikasi sosial media.

Tengg.. Tengg

Bel masuk berbunyi. Seluruh murid XI Ipa 2 seketika menjadi kalem dan suasana berubah hening ketika guru Kimia sudah memasuki kelas.

Kemana Ken? - Batin Karamel

Karamel menatap kosong bangku disebelahnya yang menjadi tempat Kennaldy ketika berada disekolah. Laki  laki itu belum ada, seketika muncul perasaan khawatir akan ketidakhadiran Kennaldy.

Tiba - tiba seseorang mengetuk pintu dan menampilkan sosok Kennaldy dari balik pintu, laki - laki itu  memasuki ruangan kelas dengan tergesa - gesa. Namun bukannya takut karena ia sudah telat, melainkan cengengesan di depan guru.

"Maaf bu saya telat."

"Kenapa kamu bisa terlambat?"

"Eng, A---Anuu, Bu"

"Sudahlah, silahkan duduk. Mumpung saya masih baik. Tapi, ingat jangan terlambat lagi."

"Iya saja janji. Terimakasih, Bu."

Kennaldy duduk di samping Karamel, ia sempat menatap Karamel. Namun, yang ditatap malah menunduk cuek.

"Hari ini kita ulangan harian.

Mendengar kata ULANGAN dari guru adalah hal yang menyebalkan sekaligus menegangkan, apalagi kalau ulangan itu diadakan secara mendadak. Entahlah, bagaimana nasib nilai nya nanti.

“Tidak ada buku diatas meja. Hanya ada alat tulis saja. Jika ada yang mencontek maka nilainya minus 5. PAHAM?

"Hah? Kok ada minus nya, Bu?"

"Apaan bu?"

"Masa ulangan, Bu?"

"Ulangan apaan bu?"

"Ga bisa diundur aja ya?"

"Anjrittttt gue belom belajar."

"Siapin contekan njir!"

"Awas lo! Kalo pelit gue gibeng."

"Seketika yang pinter jadi conge."

"Hey, geng kita bertemen udah lama. Jadi, kalo masalah gini aja masih pelit. Wah, parah lo. Bagi - bagi ya." ucap salah satu siswa dengan dramatis

Beribu keluhan yang dikeluarkan dari mulut siswa siswi di kelas ini sehingga membuat ricuh seisi kelas.

"Sudah. Sudah. Harap tenang! Tidak ada yang berisik, kalian harus kerjain soal ini dalam waktu 2 jam."

"Heh Ken. Awas lo kalo pelit." Bisik Jason

"Kita tabokin kalo lo pelit." Timpal Andra

"Selow elah." Ucap Kennaldy santai

"Okehh"

Kennaldy menatap Karamel lagi, wajahnya benar - benar cantik. Ia selalu terlihat tenang dalam keadaan apa pun dan itu yang Kennaldy sukai.

Aku yakin suatu hari nanti aku akan menjadi senja dan kamu yang akan menjadi jingga. Aku yakin suatu hari nanti akan ada sempurna, meski pun tidak mungkin. Tapi, aku akan berusaha memungkinkan kata itu.

Karamel [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang