Vannesa menyimak pelajaran yang disampaikan gurunya. Ia tampak memutar-mutar penanya karena bosan. Ia sudah duduk di bangku yang cukup keras itu selama tiga jam. Sebenarnya lima menit lagi bel istirahat akan berbunyi namun entah mengapa sepertinya jam lama sekali bergerak.
"Lama banget sih," gumamnya dalam hati.
Kringg....
Akhirnya bel yang ditunggu-tunggu tiba juga. Ia segera menutup bukunya dan memasukkannya ke dalam tas biru dongker miliknya.
"Kantin yuk!" Ucap gadis yang duduk di depannya.
"Oke. Capcus!" Ujar Vannesa bersemangat.
Gadis yang duduk di bangku depannya itu adalah Nia. Teman dekat Vannesa di SMA ini. Mereka sudah dekat semenjak awal masuk SMA.
"Bentar lagi kita sibuk nih persiapan UN. Kesempatan ke bioskop makin kecil. Gue nggak suka nih kalo begini." Ujar Nia menggerutu.
Vannesa terkekeh. "Gue juga nggak suka kali. Tapi mau gimana lagi? Bentar lagi kan kita juga UN. Emangnya lo nggak pengen lulus apa?"
"Gue juga pengen lulus kali." Seru Nia.
"Makanya. Rajin-rajin mulai sekarang. Kayaknya gue bakal dicariin guru private buat ngasih jam tambahan buat gue." Ujar Vannesa.
"Elah, rajin amat sih lo. Kita belajar aja udah sembilan jam di sekolah. Lo masih mau les private? Itu otak nggak meledak apa?"canda Nia.
Vannesa mengangkat sebelah alisnya, "Mama yang minta gue les private. Apalah daya? Gue nggak bisa nolak permintaan nyokap gue."
"Elah, anak mami." Ledek Nia sembari menjulurkan lidahnya ke arah Vannesa.
Vannesa dan Nia berjalan beriringan di sepanjang koridor. Koridor yang biasanya lengang karena siswa yang memilih ke kantin, kini tampak ramai. Semua orang tampak berbincang-bincang mengenai sesuatu.
"Tumben rame," celetuk Vannesa.
"Bener. Tumben rame. Ada apaan sih?" Ujar Nia membenarkan.
Vannesa menggelengkan kepalanya tak tau. Nia yang penasaran pun beranjak mendekati adik kelasnya.
"Kenapa pada ribut sih? Ada apaan?" Ujarnya.
"Eh, Kak Nia. Itu Kak, ada anak baru. Ganteng banget. Tajir lagi. Sempurna deh." Ujar anak berambut kucir kuda.
"Iya Kak, senyumnya bikin melting. Nggak kalah sama Kak Azka." Ucap anak berambut gelombang.
"Anak kelas sebelas?" Tanya Nia.
"Iya Kak." Jawab mereka bersamaan.
Nia menggeleng-gelengkan kepalanya melihat reaksi adik kelasnya itu. Ia segera beranjak kembali mendekati Vannesa yang masih berdiri tak jauh darinya.
"Vann, gue ada kabar bagus nih," ujar Nia bersemangat.
"Apaan?" Ujar Vannesa.
"Katanya ada anak baru. Ganteng, tajir terus katanya kalo senyum bikin melting." Ujar Nia.
Alis Vannesa terangkat sebelah. "Ya, terus?"
"Lo nggak pengen tau anaknya yang mana?" Ujar Nia.
"Buat apaan? Males deh." Ucap Vannesa kemudian kembali melangkah ke kantin. Nia juga mengiringi langkahnya.
"Bentar aja deh. Gue kepo." Rajuk Nia.
"Ogah. Gue udah laper." Ucap Vannesa tetap pada pendiriannya.
"Ah, lo mah nggak asik." Ujar Nia merajuk.
Tiba-tiba suasana koridor semakin riuh. Ternyata di arah yang berlawanan ada seorang pemuda yang berjalan ke arah Vannesa dan Nia.
KAMU SEDANG MEMBACA
Brondong Idaman [ON-GOING]
Genç KurguCowok PDKT sama cewek yang lebih tua? Sudah biasa! Ini nih kisah cinta Nathan yang ngebet banget pengen macarin kakak kelasnya. Vannesa. Si cewek cantik pacar ketua tim basket. Pacar orang? Embat! "Selagi tampang oke. Sah sah saja merebut pacar or...
![Brondong Idaman [ON-GOING]](https://img.wattpad.com/cover/115360070-64-k239308.jpg)