20. Antara Pura-Pura dan Nyata

1.6K 68 1
                                        


Vannesa dalam keadaan galau sekarang. Ia sangat labil. Ia bingung dengan perasaannya sekarang. Apa benar ia sedang jatuh cinta?

Tuk...

"Aduh."

Vannesa meringis ketika sebuah pena berhasil mendarat dengan mulus mengenai ujung kepalanya. Ia menatap tajam pelaku penganiayaannya. Yang tak lain dan tak bukan adalah Nia. Sobat Vannesa.

"Apaan sih, Nia? Sakit tau." Gerutunya tak terima.

"Kenapa lagi lo? Muka kok ditekuk kayak gitu? Mana asem banget lagi."

"Kepo lo?!"

Nia duduk di hadapan Vannesa. "Eh, buk. Tengah hari tuh nggak boleh ngalamun tau."

"Biarin. Masa bodo."

"Lagi patah hati ni ye?" Canda Nia.

"Mana ada gue patah hati?" Celoteh Vannesa. Ia kembali ke lamunan panjangnya. Ada banyak hal yang harus disaring oleh otaknya.

Tiba-tiba Vannesa terlonjak. Hampir saja membuat jantung Nia meloncat. Gadis itu sekonyong-konyongnya keluar kelas tanpa pamit.

Nia hanya geleng-geleng kepala. Berharap sahabatnya itu tidak kerasukan hantu siang bolong.

Sementara itu di tempat lain tampak dua orang tengah duduk santai karena pelajaran sedang santai. Guru-guru sedang mengadakan rapat untuk membahas persiapan ujian kelas dua belas. Hal ini menjadi salah satu keuntungan adik-adik kelas untuk mendapat jam kosong.

Kali ini Bima dan Nathan tak menyia-nyiakan suasana. Mereka berdua sudah duduk tenang di pojok taman. Hanya mengobrol. Tak ada hal lain.

"Oy, kayaknya lo lagi deket ye sama Vannesa mantannya Bang Azka ?" Celetuk Bima.

Nathan menggaruk alisnya dengan jari telunjuknya. "Dia temen gue."

"Gimana bisa jadi temen lo?" Cerocos Bima.

"Ya, bisa lah. Dia itu temen kecil gue." Sambung Nathan.

Bima mendelik mencari tau kebenaran, "Yang bener aja lo? Lo kayaknya naksir tuh sama dia?"

Nathan terkekeh, "Emang keliatannya kayak gitu ya? Dia itu temen gue. Bener deh."

"Lo ngibul ya?" Ujar Bima.

"Ga percaya ya udah. Toh gue nggak minta lo percaya." Sahut Nathan gampang saja.

Bima tampak berpikir, "Gimana bisa cewek secantik kayak Vannesa jadi temen lo?" Ujarnya bingung.

Nathan menoyor kepala Bima, "Enak aja lo ngeremehin gue. Gini-gini banyak cewek yang mau sama gue, tau?!"

"Padahal masih gantengan juga gue." Sindir Bima khas dengan kepercayaandirinya yang tinggi.

Nathan balas menyindir, "Kalo ganteng, napa situ masih jones mulu?"

Bima bersungut-sungut, "Sialan. Gue cuma belum ketemu aja sama yang pas. Ntar kalo gue pacaran sama cewek cakep, baru nyaho lo."

"Lagian lo sih. Pake acara nggak percaya segala. Jelas-jelas dia itu temen gue waktu kecil."

"Terus yang sebenernya lo taksir itu siapa? Anya yang waktu itu nyamperin ke kelas?"

"Kepo ye?"

"Sialan. Kepo setengah mati nih gue." Sungut Bima.

Mereka berdua tak sadar. Ada seorang yang mendengar percakapan mereka dari jarak yang cukup jauh.

"Jadi bener? Selama ini dia cuma becanda?" Batinnya.

Entah mengapa ada rasa kecewa yang tiba-tiba menyergap. Seperti bogem yang langsung menghantam. Rasanya sangat sakit.

Brondong Idaman [ON-GOING]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang