Alun-Alun Kidul.
Setelah menempuh perjalanan menggunakan becak selama kurang lebih lima belas menit, dua orang yang sedang liburan itu tiba juga di tempat ini. Ramai, sesak, lalu lalang orang-orang yang hendak menikmati senja sangat ketara di tempat ini.
Banyak hal yang bisa dilakukan selain sekedar nongkrong menghabiskan waktu. Mereka bisa bermain di area yang luas ini.
Vannesa dan Nathan terkesima ketika melewati seniman jalanan yang asik bermain musik keroncong mereka. Beberapa wisatawan asing tampak bertepuk tangan takjub melihat kepiawaian mereka menghasilkan nada yang terdengar sangat harmonis di telinga.
"Kak Nes, coba main itu yuk. Katanya kalo kita bisa ngelewatin tengah-tengah pohon itu, permintaan kita bakal dikabulin."
Nathan menunjuk ke arah orang-orang yang sedang asik menikmati permainan mereka. Ia serta merta menarik lengan Vannesa agar merapat ke arah mereka.
Masangin. Mungkin bagi sebagian orang, permainan ini sudah populer. Permainan melewati tengah-tengah pohon beringin kembar ini dengan mata yang tertutup. Mitosnya, hanya orang-orang yang mempunyai hati yang tulus yang mampu melewati tengah beringin kembar itu.
"Siapa duluan?" Tantang Nathan sembari mengangkat kain hitam yang baru saja ia sewa dari mas-mas di sekitar beringin itu.
"Gue dulu." Balas Vannesa percaya diri.
"Oke. Setuju."
Vannesa pasang badan siap. Tangannya meraba udara karena pandangannya gelap. Ia tak bisa melihat apapun sekarang.
"Jalan lurus kak." Celetuk Nathan.
"Bawel ah." Komentar Vannesa.
Gadis itu berkonsentrasi penuh sekarang. Dan ia tak ingin suara berisik Nathan memecah konsentrasinya.
"Lurus jangan ke kiri." Kekeh Nathan.
Pria ini tak sanggup melihat kelucuan Vannesa ketika berjalan dengan mata tertutup. Tangan Vannesa yang terus menerus menggapai udara seperti mencari pegangan sesuatu saja. Padahal jelas-jelas di depannya kosong.
Hm.
Keramaian ini sebenarnya tak begitu menyenangkan. Vannesa dan Nathan jadi tak bisa leluasa. Jogja, salah satu kota yang menjadi pilihan wisata. Jadi tak heran saja jika di musim liburan natal menjelang tahun baru jalanan akan penuh sesak.
"Capek gue." Keluh Vannesa.
Vannesa menghempaskan pantanya ke sembarang tempat. Asal ia bisa duduk sekarang. Ia tak peduli dengan debu yang akan meninggalkan noda pada celana hitamnya.
"Makan?" Tawar Nathan.
Vannesa menggeleng, "Masih kenyang."
Vannesa memasang ekpresi bingung ketika Nathan hanya diam setelah ia menjawab pertanyaannya.
Apa Nathan salah makan?
Atau jangan-jangan lumpia yang tadi mereka makan, ada racun yang membuat Nathan jadi tak bisa berpikir.
Biasanya Nathan akan merengek kepadanya. "Makan yuk!"
"Gue laper..."
"Pokonya kita harus makan. Titik!"
Begitulah kiranya ucapan yang seharusnya dikeluarkan Nathan. Namun nyatanya pria itu hanya diam. Apa suasana di sini yang membuat Nathan jadi berbeda?
Mereka berdua lantas hening. Melihat matahari benar-benar sudah lenyap dari pandangan mereka. Siluet jingga di langkit pun telah memudar.
Untuk beberapa saat mereka hanya melihat orang berlalu-lalang. Ah, tidak, mereka cukup lama, bukan hanya beberapa saat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Brondong Idaman [ON-GOING]
أدب المراهقينCowok PDKT sama cewek yang lebih tua? Sudah biasa! Ini nih kisah cinta Nathan yang ngebet banget pengen macarin kakak kelasnya. Vannesa. Si cewek cantik pacar ketua tim basket. Pacar orang? Embat! "Selagi tampang oke. Sah sah saja merebut pacar or...
![Brondong Idaman [ON-GOING]](https://img.wattpad.com/cover/115360070-64-k239308.jpg)