"Karna gue cinta sama lo."
Satu kata yang membuat Vannesa terdiam. Jantungnya tiba-tiba berdebar sangat kencang.
"Kenapa... kenapa gue jadi deg-degan ya?" Batinnya nggak karuan.
"Vannesa!"
Vannesa terlonjak. Ia hampir saja terjungkal ke belakang kalau saja Elang tidak menahan kursi yang sedang di dudukinya.
"Nggak kenapa-kenapa kok." Cetus Vannesa begitu saja.
Tentu saja hal ini membuat Elang terbahak. Ia tak mengatakan apapun tadi. Dan tiba-tiba saja Vannesa menyeletuk demikian.
"Eh?" Ujar Vannesa begitu sadar sepenuhnya.
"Kamu ngalamun?" Tanya Elang setelah tawanya reda.
"A-ah, enggak kok." Ujar Vannesa sembari menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal.
Jika Vannesa boleh jujur saat ini, ia akan mengatakan dengan lantang. "Malu gue," begitulah kiranya.
Mukanya sudah merah padam seperti kepiting rebus siap matang. Ia ketahuan melamun saat les bersama Elang. Sungguh insiden yang tak pernah terbayangkan di otak Vannesa.
"Udah ngaku aja. Bosen ya les sama aku?" Tanya Elang lembut.
Pria ini. Sudah baik hati. Pintar. Lembut lagi. Benar-benar tipe idaman setiap wanita. Memangnya siapa sih yang tidak mau memiliki pacar sehebat Elang.
"Nggak kok, Kak. Aku cuma rada boring sama suasananya."
"Ya terus gimana? Mau udahan aja?" Tanya Elang.
"Enggak, nggak usah." Ujar Vannesa cepat sembari menggoyangkan kedua tangannya dengan cepat. Ia takut menyinggung perasaan pria itu.
"Mending kita ke cafe aja, Kak. Lumayan sekalian nyari cemilan di sana." Celetuk Vannesa tanpa dipikir.
"Mau belajar di cafe?" Tanya Elang sembari mengangkat sebelah alisnya.
"Kenapa? Udah deh, Kak. Dijamin lebih asik. Aku traktir deh." Ujar Vannesa sembari menunjukkan puppy eyesnya.
"Oke- oke." Ujar Elang tanpa membantah. Duh benar-benar penurut.
"Cowok perfect, emang!" Batin Vannesa.
Vannesa segera membereskan buku-buku tebal miliknya. Ia harus segera pergi mencari suasana baru atau ia akan semakin terngiang dengan ucapan bocah tengik itu.
Vannesa dan Elang berjalan beriringan. Elang kali ini tampak keren dengan kaos pendek dan celana jeans hitam panjang yang pas di tubuhnya. Gayanya berjalan tampak keren. Apalagi salah satu tangannya mencangklong tas punggungnya dan yang lain dibiarkan tergantung.
Sedangkan Vannesa mengenakan kaos putih panjang polos dengan celana jeans panjang. Ia sengaja tak membawa tas. Cukup buku yang dipelajari dan tempat pulpen.
Drttt... drtt...
Sebuah notifikasi masuk. Menunjukkaan telpon dari seseorang masuk ke dalam ponsel.
Vannesa lantas merogoh sakunya dan segera mengangkat telpon itu sebelum deringan ke lima.
"Hal..."
Belum selesai ia menjawab 'halo'. Suara nyaring si penelpon sudah memutuskan ucapannya.
"VANNESA! LO BENERAN PUTUS SAMA AZKA?!" teriak seseorang di seberang.
Mau tak mau Vannesa menjauhkan ponsel itu dari telinganya. Sementara itu Elang cuek saja membiarkan gadis di sampingnya itu mengangkat telepon. Ia tau batas privasi seseorang. Satu nilai plus lagi untuk Elang, pengertian.
KAMU SEDANG MEMBACA
Brondong Idaman [ON-GOING]
Teen FictionCowok PDKT sama cewek yang lebih tua? Sudah biasa! Ini nih kisah cinta Nathan yang ngebet banget pengen macarin kakak kelasnya. Vannesa. Si cewek cantik pacar ketua tim basket. Pacar orang? Embat! "Selagi tampang oke. Sah sah saja merebut pacar or...
![Brondong Idaman [ON-GOING]](https://img.wattpad.com/cover/115360070-64-k239308.jpg)