Vannesa kali ini sudah duduk manis di hadapan orang tuanya untuk makan bersama. Ia tampak lebih semangat pagi ini apalagi ketika ia mengetahui bahwa guru lesnya adalah Kak Elang.
Nesa menyipitkan matanya. Ia familiar dengan wajah ini. Vannesa sepertinya mengenal orang ini.
"Kak Elang ya?" Ujarnya menebak.
"Kamu Vannesa kan?" Ujar pemuda yang akan di kenalkan oleh sang Mama.
"Ah, iya bener, ini kan Kak Elang." Ujar Vannesa girang.
"Kalian udah saling kenal?" Tanya Belinda menengahi.
"Kak Elang itu kakak kelas Nesa waktu SMP, Ma." Ujar Vannesa.
Belinda mengangguk, "Bagus dong. Kalian kan sudah kenal jadi kalo belajar nanti nggak canggung lagi."
Elang Putra adalah kakak kelas Vannesa dulu saat SMP. Saat Vannesa kelas tujuh, Elang sudah duduk di kelas sembilan. Vannesa sering mendengar prestasi pemuda itu. Tampan, baik, ramah dan berprestasi membuat ia dulu terkenal di penjuru sekolah. Bahkan banyak yang diam-diam mengagumi sosok Elang. Begitu juga dengan Vannesa, ia juga pernah mengagumi sosok Elang yang pandai itu.
Vannesa mengambil selembar roti tawar kemudian mengoleskan cokelat di atasnya. Ini menu sarapan yang biasa Vannesa konsumsi.
"Mama ketemu sama Kak Elang dimana?" Tanya Vannesa berbasa-basi.
"Oh itu. Mama dikenalin sama temen Mama. Katanya anaknya pinter, ya udah Mama tawarin jadi guru les kamu." Ujar Belinda.
Vannesa mengangguk-angguk paham, "Oh gitu."
"Minggu depan kamu udah mulai les. Jangan males loh!" Nasihat Belinda pada sang puteri.
"Kamu harus rajin belajar, Nesa. Sebentar lagi kamu ujian." Ujar Tomi juga mengingatkan anak perempuannya itu.
Vannesa mengangguk, "Iya, Pa. Papa nggak usah kawatir, Nesa bakal rajin belajar deh." Ujarnya.
"Kamu besok libur, kan?" Ujar Tomi lagi.
Sekolah Vannesa memang menerapkan sistem lima hari kerja. Jadi hari Sabtu dan Minggu menjadi hari libur untuknya. Namun jam pelajaran yang awalnya berakhir jam setengah dua siang, mundur menjadi jam setengah empat sore. Cukup melelahkan memang.
"Iya, Pa. Besok rencana aku mau ke cafe. Ngecek laporan di sana sekalian." Ujar Vannesa.
Vannesa memang memiliki sebuah cafe berukuran sedang. Tak terlalu besar namun cukup laris karena nyaman untuk tongkrongan para remaja.
Vannesa tak mengelola langsung. Ia memperkerjakan seseorang untuk mengelolanya, ia hanya akan mengecek laporan di setiap akhir pekan.
"Ya sudah. Papa cuma mau bilang kalo besok Papa sama Mama mau keluar kota dua hari. Kamu nggak apa-apa kan di rumah sendiri?"
Vannesa menggeleng pelan, "Nggak apa-apa kok." Ujarnya tak masalah.
Ting tong...
Tiba-tiba saja ada bunyi bel rumah. "Tumben ada tamu," batin Vannesa.
"Nesa, tolong bukain pintu ya?" Pinta Belinda.
Vannesa mengngguk karena ia juga sudah selesai menyanyap rotinya. Ia melangkah pergi membukakan pintu.
"Sebentar," teriaknya dari dalam rumah agar sang tamu menunggu.
Vannesa segera membuka pintu. Ia terperanjat dari tempatnya berdiri setelah melihat siapa tamu yang menyambangi rumahnya pagi-pagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Brondong Idaman [ON-GOING]
Novela JuvenilCowok PDKT sama cewek yang lebih tua? Sudah biasa! Ini nih kisah cinta Nathan yang ngebet banget pengen macarin kakak kelasnya. Vannesa. Si cewek cantik pacar ketua tim basket. Pacar orang? Embat! "Selagi tampang oke. Sah sah saja merebut pacar or...
![Brondong Idaman [ON-GOING]](https://img.wattpad.com/cover/115360070-64-k239308.jpg)