17. Solusi yang Pas

1.3K 59 0
                                        

Ceklek.
Vannesa baru saja keluar dari kamar. Dengan seragam kebesarannya, seragam sekolah, ia menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa.

Vannesa melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul tujuh pagi kurang sepuluh menit. Dan ia memiliki waktu sepuluh menit sebelum pelajaran dimulai.

"Mampus! Telat gue!" Ujar Vannesa mempercepat langkahnya.

Vannesa lantas masuk ke dalam mobilnya dan segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedikit di atas rata-rata.

Tin... tin...

Vannesa mengklakson mobil di depannya agar sedikir minggir sehingga mobil Vannesa bisa melangkah mendahuluinya.

Tin... tin...

Entah sudah keberapa kali Vannesa membunyikan klaksonnya.

Ini semua gara-gara ia terlambat bangun tadi. Ia tak mendengar alarm yang ia setel karena terlalu sibuk dengan bunga mimpinya yang enggan ia tinggalkan.

Alhasil ia terlonjak dari tempat tidurnya ketika melihat jam di ponselnya sudab menunjukkan pukul setengah tujuh. Dengan tangan yang masih gemetar, karena belum sadar sepenuhnya, ia langsung mandi dan berganti pakaian.

Vannesa tak sempat merias wajahnya. Jangankan itu, ia justru hanya menyemprotkan parfum dan menyisir rambut dengan asal. Alhasil tampilan Vannesa sedikit berantakan.

"Pake telat bangun segala sih." Ujar Vannesa.

Mobil Vannesa melesat memasuki area parkir yang sudah cukup penuh. Untung saja ia masih memiliki satu tempat kosong.

Dengan sekali hentak ia mengambil tas kemudian keluar dari mobilnya. Ia menghiup napas lega ketika bel masuk baru saja berbunyi.

"Pas jam tujuh. Thanks for God! Untung aja gue nggak telat." Vannesa menyerukan ucapan syukurnya.

Tak ingin buang waktu Vannesa segera mencangklong tasnya dan melangkahkan kakinya dengan gesit menuju kelas. Jam pertama kali ini adah biologi. Dan sang guru sangat disiplin. Bisa celaka jika ketahuan terlambat.

Brakkk..

Vannesa menggebrak tasnya ke atas meja ketika sampai di kelas. Napasnya terdengar satu satu.

"Tumben telat," komentar Nia.

Anggukan kebenaran Vannesa tunjukkan, "Ho-oh, telat bangun gue." Ujarnya.

"Hus... hus... ada yang dateng." Ujar salah satu siswa dalam kelas itu.

Dengan segera murid dalam kelas itu segera kembali menuju habitatnya masing-masing. Mereka sudah duduk siap menyambut wajah killer sang guru biologi tanpa mengeluarkan sedikitpun suara.

"Woy! Pengumuman! Biologi ada tugas, pak killer lagi keluar kota."

Alih-alih yang muncul guru biologi, yang muncul justru ketua kelas. Membuat murid-murid di kelas menyerukan suara tak suka.

"Woooo! Gue pikir pak killer yang nongol!" Ujar salah satu anak.

"Padahal gue udah jantungan. Woo?!" Ujar Anak perempuan yang duduk tepat di depan meja guru.

Sang ketua kelas hanya cengengesan, "Sorry, sorry. Nih tulis tugasnya. Gue mau makan dulu." Ujarnya langsung mengeluyur keluar kelas.

"WOOO?!"

"Njir. Gue pikir tuh guru masuk. Padahal gue udah siapin mental gue." Komentar Nia melebih-lebihkan.

Mata Vannesa melirik tajam ke arah Nia. Lantas berujar, "Lo masih mending! Nah gue? Gue ngebut sampe lari-larian ke sini. Bayangin tuh rasa! Sakitnya bikin nyesek ampe ke tulang."

Brondong Idaman [ON-GOING]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang