Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

[2.Volcano]

478 19 1
                                        

.

.

Mereka berdelapan memasuki sebuah cafè yang lumayan terkenal ditengah kota. Seusai memarkirkan motor, mereka langsung memasuki cafè tersebut dan memesan beberapa makan.
Mereka bahkan sudah hampir memesan dua meja, dan menggabungkannya karena kurang tempat pada satu meja.

Mereka lalu memulai beberapa obrolan kecil,
"Lo tadi kena hukum sama si John?" Tanya Anggia.

"Kalo gue sih malu, diliatin gitu sama orang orang yang pada pada lewat." Ucap Ria.

"Loh, kok jadi ngomongin kejadian tadi sih? Ganti topik ah, males ngomonginnya." Ketus Nina yang lalu menyilangkan kedua tangannya kedepan dada.

"Males? Apa jangan jangan ada sesuatu dari kejadian tadi?" Tanya Vina yang mulai meniterogasi.

Seketika raut Nina berubah jadi tegang dan wajahnya terasa panas, mengingat hal yang dilakukan John padanya tadi. Tak ia sangka musuh pembuyutannya dari SMP bisa membuat jantungnya berdegup saat ini, dan bersikap manis padanya seperti tadi. Membuat ia rasanya tidak percaya akan perasaannya sendiri.

"Nin!"

Nina sontak kaget dan mendongakkan kepalanya,
"Kenapa?"

"Gue heran dan sekaligus curiga, dari parkiran motor sekolah sama sekarang lo bengong aja. Mikirin apa sih?" Tanya Chintiya.

"Gue--"








.

"Eh! Itukan rombongan basket yah?" Tanya Andina dan menunjuk rombongan yang baru memasuki cafè dengan masih memakai seragam sekolah.

Sontak mereka semua menoleh, dan yang paling kaget dan merasa ingin mati adalah Nina Liana.

Aduh! Emang jodoh kali yah ketemuan? Ngapain coba dateng kesini?! Gue susah nahan malunya plus degup jantungnya! Jadilah disekolah aja, jangan disini! Haduh..gimana ini?! Panik Nina tak karuan.

Dan yang lebih menegangkan lagi bagi Marshel adalah kak Rayhan yang baru datang dan bercanda ria dengan rombongan tersebut. Ternyata kakak-adik kelas rombongan basketnya digabung, dan mereka juga tidak tahu diluar sekolah mereka bisa terlihat se-akrab itu.

Dan Marshel tambah terlihat sangat merasa sakit dan ketika melihat Amanda dan rombongannya dibelakang. Sepertinya rombongan cheers juga ikut dengan rombongan basket lainnya.
Seketika cafè itu terlihat dipenuhi oleh murid murid SMA mereka.

Tiba tiba saja John memainkan bola basketnya seraya duduk disalah satu kursi. Riuh beberapa obrolan masih menggema di cafè tersebut. Nina pura pura memainkan ponselnya untuk mengurangi kegugupannya, dan tak ia sangka hari inilah tiba, dimana ia menyukai musuh pembuyutannya sendiri. Cinta itu aneh dan bisa datang darimana saja.

Anggia yang melihatnya berdecih kesal, tiba tiba saja rombongan basket menghampiri meja mereka, kecuali rombongan cheers dan Rayhan yang Marshel yakini masih tidak enak dengan masalah tadi. Tiba tiba saja Dion mengambil alih pembicaraan.

"Kalian makan sini juga, pas pulang sekolah?" Tanyanya.

"Iya, kenapa? Masalah?" Ketus Anggia, membuat Dion berdecih pelan.

"Lo paan sih, gue nanya ke yang lain, lo yang jawab. Sewot amat."

"Gue ngewakilinnya goblok!"

"Sudah ah!" Lerai Ares yang berada dibelakang Dion.

"Entar jodoh, loh." Nyolot Rio dari depan.

"Amit-amit, gue sama cowok lenjeh kek gini, sok-sok an cool main basket padahal nggak bisa, masih berbakat yang lain main basket daripada cowok lenjeh kek gini." Ketus Anggia.

Eight✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang