Chapter 26

2.9K 208 135
                                        

SELAMAT TAHUN BARU

HAPPY READING

***

NARA POV. . .

Gue berjalan mengekori kak Davi yang sudah lebih dulu berjalan sambil membawa tasnya dan juga tas gue menuju meja resepsionis.

"Selamat malam, Selamat datang di hotel kami, ada yang bisa saya bantu" ucap mbak cantik yang gue tau namanya Bella dari nametag-nya, tepat saat kak Davi sudah berada di depan meja resepsionis.

"Selamat Malam, saya mau pesan kamar...." kak Davi noleh kearah gue, seolah menunggu respon gue.

Dengan cepat gue menyambung ucapak kak Davi, "satu malam, dua tempat tidur satu kamar" kata gue membuat kak Davi sedikit melotot, dan yah gue balas melebarkan mata gue, melotot gak kalah sangar, dan berjalan meninggalkan kak Davi yang masih mematung melihat gue ngeloyor ketempat duduk yang gak jauh dari meja resepsionis membuat kak Davi geleng-geleng kepala sendiri, bodo amat dan bisa gue lihat mbak-mbak resepsionis itu tersenyum geli melihat kelakuan kami.

Gue lihat kak Davi menghelakan nafasnya dan menutup matanya sesaat sebelum kembali berbincang dengan mbak resepsionis.

Kak davi berjalan menuju kearah gue sambil menenteng sebuah kunci didepan dadanya, menandakan kalau dia sudah selesai memesan.

"Ayo" katanya dan tanpa menunggu gue langsung berjalan menuju lift, eh ini gak ada yang ngantar kami?

"504, gak perlu diantar" cuek kak Davi, seolah menjawab pertanyaan didalam otak gue. Gue manyun melihat tingkah kak Davi yang mendadak aneh.

"kakak kenapa sih?" gue narik lengan kak Davi bergelayutan ditangannya.

"kenapa pesan satu kamar" kak Davi menghembuskan nafasnya pelan, gue diam melihat ekspresi tak terbaca dari wajah kak Davi.

"lah emangnya kenapa?" iya sebenarnya yang membuat gue mau pesan satu kamar itu karena? Karena gue khawatir sama ni orang, mukanya masih pucat, gue takut kalau dia sendirian nanti dia kenapa-kenapa gak ada yang bantuin? Piye? Lagian biar hemat juga.

"gak baik, kan kita belum menikah" kak Davi natap kearah wajah gue yang juga lagi mendongak melihat kearah kak Davi, kemudian kami berjalan keluar dari lift.

"lah terus kenapa?" gue memiringkan kepala gue, bingung.

"mama belum mau punya cucu katanya" ucap kak Davi membuat gue berhenti berjalan dan menatap lurus, oh my mom, gue gak kepikiran kesana? Jujur tadi gue emang sempat mikir yang aneh-aneh tapi begitu ngelihat muka kak Davi, gue malah nggak mikir kesana lagi.

"kenapa gak kepikiran kesana?" tanya kak davi yang gak perlu gue jawab karna emang gue rada lambat loading begini, eh tapi kan kasurnya dua, gak masalah kan ya?

"mbak resepsionis tadi kayaknya ngira kita pasangan suami istri yang lagi berantem" Kak davi tersenyum jahil dan memutar badan membuka kamar dengan nomor 504, kemudian masuk ke dalam meninggalkan gue yang masih mematung. "ayo masuk, kenapa bengong disitu? Gak pengen masuk ke kamar kita?" tanya-nya dengan nada penekanan pada kata kamar kita, membuat gue entah kenapa jadi gak tenang.

"kenapa tadi kakak gak pesan kamar lain aja?" iya ini seharusnya kak Davi pesan 2 kamar aja supaya gak canggung gini, tap[i eh kalau kak Davi sendirian terus kenapa-napa, piye? Aaarrrgg serba salah dah gua.

"kan, Adek yang pesan duluan" kak Davi tersenyum sambil menaik turunkan alisnya, plis deh lagi gak mau dijahilin nih, gue berjalan sambil sedikit menghentakkan kaki gue melewati kak Davi masuk kedalam kamar, yang, wah mayan juga bagus dengan dua tempat tidur, jelaslah kan gue yang minta.

Perfect BoyFriend ?  √Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang